kumparan
12 Jun 2019 12:52 WIB

Wiranto: Korban Tewas di Kerusuhan 22 Mei Bukan di Arena Demo Damai

Menkopolhukam Wiranto usai rakor di Kemenkopolhukam, Jakarta Pusat, Senin (10/6). Foto: Fachrul Irwinsyah/kumparan
Polisi menduga para korban meninggal yang terjadi akibat kericuhan 22 Mei berasal dari kelompok perusuh. Meski begitu, polisi masih terus mendalami hal itu bersama dengan Komnas HAM.
ADVERTISEMENT
Hal senada juga disampaikan Menkopolhukam Wiranto. Wiranto mengungkapkan jatuhnya korban kerusuhan yang terjadi tanggal 21-22 Mei 2019 tidak berada dalam area demo damai yang dilakukan sejumlah pendukung Prabowo-Sandi.
Terlebih bagi korban jiwa yang ada saat itu, kata Wiranto, berada di luar jangkauan lokasi demo damai.
"Soal kerusuhan juga begitu, soal kerusuhan sudah pasti bahwa korban itu jatuh ya, atau korban meninggal jatuh bukan di arena demo damai. Yang penting itu. Bahwa korban meninggal bukan karena akibat benturan pada saat demo yang damai," kata Wiranto di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu (12/6).
Wiranto di Kementerian Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan Republik Indonesia, Jakarta, Jumat (31/5/2019). Foto: Irfan Adi Saputra/kumparan
Baginya, tak mungkin para peserta demo damai bertikai dengan aparat kepolisian. Dia mencontohkan hubungan baik kedua belah pihak saat buka puasa berlangsung di tengah aksi tersebut.
ADVERTISEMENT
"Demo yang damai, kita kan bisa saksikan kan, bahkan buka puasa saja aparat keamanan dengan para pendemo sama-sama, sama-sama salat, bagus sekali," jelasnya.
"Tapi masalah timbul tatkala demo itu menjadi kaum perusuh yang menyerang petugas. Itupun tidak ada korban jiwa," lanjutnya.
Adapun, dalam kejadian itu timbulnya korban jiwa karena ada sekolompok perusuh yang mulai mengacau dengan menyerang para aparat pengamanan. Termasuk dengan asrama polisi yang tak luput dari serangan mereka.
Hal itu tentunya memicu reaksi dari para aparat dan menimbulkan bentrokan.
"Korban jiwa ada, tatkala ada penyerbuan kaum perusuh, ke Petamburan, ke asrama polisi, pembakaran pos polisi. Itu ada korban. Sekarang korban ini yang sedang kita dalami siapa yang menembak ya, tembakan dari mana, sangat boleh jadi tembakan itu muncul dari yang tidak bertuan karena malam hari menyerang seperti itu," jelasnya.
ADVERTISEMENT
Para anggota kepolisian yang menyerang balik, menurutnya, merupakan tindakan perlawanan semata karena posisi mereka yang saat itu terancam. Apalagi, secara tak langsung berpotensi melibatkan keluarga dari para aparat kepolisian yang berada di asrama.
"Kalau pun aparat keamanan menggunakan senjata, karena bertahan gimana asramanya ada anak-anak, ada istri diserang. Kan yang nyerang bukan demonstrasi, yang nyerang itu perusuh, ingat ini, ini dulu kita dudukan masalah supaya tidak simpang siur," pungkasnya.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·