Pencarian populer

Yang Telah Diketahui dari Bom Gereja di Sri Lanka

Seorang kerabat korban ledakan gereja St. Anthony dan gereja Kochchikade menangis di dekat kamar mayat polisi di Kolombo, Sri Lanka. Foto: REUTERS / Dinuka Liyanawatte

Minggu (21/4) Sri Lanka dihantam rangkaian ledakan yang menyebabkan lebih dari 200 orang tewas. Peristiwa itu merupakan insiden paling berdarah di Sri Lanka usai era perang saudara.

Dikutip dari AFP, berikut rangkaian fakta-fakta yang telah terungkap terkait ledakan di ibu kota Colombo:

Apa yang terjadi?

Suasana terjadinya bom di gereja St. Anthony's Shrine, Kochchikade. Foto: REUTERS

Insiden berdarah di Colombo bermula dari ledakan di sejumlah hotel yaitu The Cinnamon Grand pada pukul 08.30 pagi dilanjutkan ledakan di Shangri-la pada pukul 09.05 pagi.

Hampir bersamaan, tiga gereja yang sedang menggelar ibadah perayaan paskah, St Sebastian, St Anthony dan Zion dihantam ledakan.

Satu jam berselang, dua buah ledakan kembali terjadi di hotel di Colombo, diduga kuat aksi bom terakhir adalah serangan bunuh diri.

Siapa saja yang jadi korban?

Sejumlah petugas rumah sakit evakuasi korban ledakan gereja di Batticaloa di Sri Lanka timur. Foto: AFP/LAKRUWAN WANNIARACHCHI

Mayoritas korban tewas dan luka merupakan warga Nasrani. Sebagian besar korban berada di tiga gereja yang menjadi target bom, untuk menghadiri kebaktian Paskah.

Pada Minggu (21/4) malam, Pemerintah Sri Lanka mengumumkan korban jiwa mencapai 207 orang, sementara korban luka sebanyak 450 orang.

Kepolisian Sri Lanka mengatakan, sebanyak 35 korban jiwa adalah warga asing yang berasal dari Inggris, Belanda, Portugal, China, Amerika Serikat.

Jumlah korban jiwa warga asing hingga kini masih simpang siur. Menlu India Sushma Swaraj menyebut tiga orang warganya jadi korban jiwa kejadian di Sri Lanka.

Siapa yang melakukan?

Sebuah patung terbalik dan puing-puing setelah ledakan di Gereja St Sebastian di Negombo, utara ibukota Kolombo, Sri Lanka. Foto: AFP/STR

Belum ada kelompok yang mengaku bertanggungjawab. Perdana Menteri Sri Lanka Ranil Wickremesinghe juga masih bungkam soal pelaku.

Meski demikian kepolisian telah menahan delapan orang yang terduga terkait insiden itu.

Sebelum kejadian, masyarakat Kristen Sri Lanka mengeluhkan meningkatnya kekerasan terhadap warganya yang dilakukan kelompok Buddha radikal.

Kantor Berita Prancis AFP menyatakan, dari dokumen resmi pemerintah Sri Lanka yang dilihatnya, 10 hari lalu kepolisian memperingatkan potensi terjadi serangan bom di beberapa gereja dan kantor Kedutaan India. Aksi itu diduga akan dilakukan kelompok Muslim radikal Thowheeth Jama'ath (NTJ).

Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: 1.1.57