Pencarian populer

Yusuf Hamka Mencari Berkah Lewat Nasi Kuning Murah Podjok Halal

Yusuf Hamka, Pemilik Warung Podjok Halal. (Foto: Soejono Eben Saragih/kumparan)
Pria berbaju putih itu sibuk menata barang dagangan. Sesekali dia melayani pembeli sambil berbincang ringan.
ADVERTISEMENT
Dia Yusuf Hamka, pemilik Warung Nasi Kuning Podjok Halal khusus untuk fakir miskin dan duafa, di Jakarta Utara. Di usianya yang menginjak 60 tahun, Yusuf ingin berbagi kebahagian untuk mereka yang kurang beruntung.
"Kita memang untuk berbagi kepada saudara-saudara kita yang kekurangan," kata Yusuf saat berbincang dengan kumparan (kumparan.com), Jumat (23/2).
Ide mendirikan warung murah khusus duafa ini berawal saat Yusuf berulang tahun ke-60 Desember 2017 lalu. Dia berpikir selama 7 tahun belakang ini, selama bulan Ramadhan selalu membuka warung makan gratis khusus duafa. Dia ingin bila warungnya itu dibuka setiap hari, bukan hanya di bulan Ramadhan.
"Kita berpikir kok kalau berbuat baik kenapa bulan Ramadhan. Kalau bisa setiap hari aja. Akhirnya kita coba buka mulai 6 Februari 2018 kemarin," ucapnya.
Warung Podjok Halal (Foto: Soejono Eben/kumparan)
Podjok Halal buka setiap hari Senin hingga Jumat. Waktunya tak lama, hanya saat makan siang yakni dari pukul 11.30-12.30.
ADVERTISEMENT
Pemilihan waktu itu karena Yusuf dan teman-temannya yang membuka warung ini masih berkerja di perusahaan. Mereka terbatas pada jam istirahat kerja kantor.
"Ini kan ada yang kasih sedekah lewat tenaga, dan itu pegawai perusahaan ini. Nah hanya bisa di waktu itu, dan hanya bisa segitu saja, sejam nggak boleh nyuri waktu kerja kantor," ucap pria yang berprofesi sebagai penasihat di perusahaan itu.
Warung Podjok Halal. (Foto: Soejono Eben Ezer Saragih/kumparan)
Harga makanan juga murah hanya Rp 3 ribu per porsi. Namun bila duafa itu tidak mampu membayar, Yusuf akan memberikannya gratis. Biaya Rp 3 ribu memang sengaja ditarif agar tidak mengajarkan orang untuk mengemis.
"Makan di sini Rp 3.000 sekenyangnya. Terus kalau pun membawa anak dua atau tiga anaknya tapi uangnya cuma Rp 3.000 yang lain bisa gratis. Gratisin saya bilang, bawa 10 juga nggak apa-apa yang penting mereka kaum duafa kita kasih gratis," katanya.
ADVERTISEMENT
Meski Rp 3 ribu, tetapi Yusuf selalu memberikan makanan yang bergizi. Ada lauk dan sayurnya.
"Ganti-ganti setiap hari ada ayam hari ini, besok ikan, besok daging, besoknya lagi telor. Sayur berikut sambal, dan kita kasih air minum juga yang higienis semua kita layani dengan baiklah semua," jelasnya.
Podjok Halal, warung nasi murah untuk kaum Duafa. (Foto: Soejono Eben Saragih/kumparan)
Selama membuka warung ini ada kejadian unik yang dialami Yusuf. Misalnya saja ada pembeli yang berpura-pura tidak mampu tapi dilihat dari penampilannya memakai baju bagus. Akhirnya diminta untuk membayar RP 10 ribu.
"Diminta bayar sepuluh ribu. Terus di dalam dompetnya ada ratusan ribu gitu. Ada yang begitu-begitu tapi itu persentase kecil lah," katanya.
Selain itu ada juga cerita bahagia, pembeli sengaja datang dan makan di sana. Lalu membayar dengan uang pecahan Rp 50 ribu atau Rp 100 ribu tetapi tidak meminta kembalian. Pernah juga ada yang tiba-tiba datang dan memberi sumbangan.
ADVERTISEMENT
"Ada bahkan teman seorang ibu yang kristiani kemaren datang ke sini. Terus dia bilang saya mau nyumbang boleh Rp 5 juta? Lucu juga padahal kita nggak buat proposal, kita nggak minta sumbangan ke mana-mana. Istilahnya kita buat urunan (patungan) semua ramai-ramai gitu," ujar Yusuf.
Video
Bicara soal rugi, sudah pasti warung ini tidak mendapat untung karena sistemnya membeli lauk pauk dari warteg sekitar dengan harga normal tetapi menjualnya dengan harga murah. Tetapi itu bukan masalah karena tujuan warung ini adalah untuk berbagi dengan sesama.
"Secara duniawi mungkin rugi, tapi secara akhirat mungkin tidak. Kan sedekah ini milik semua orang," ucapnya.
Warung ini mendapat respons positif dari meraka yang kurang mampu, Sarmini misalnya. Warga asal Sunter ini mengaku tahu warung Podjok Halal dari temannya.
ADVERTISEMENT
Sarmini senang bisa makan enak hanya dengan uang Rp 3 ribu. Dia akan mengajak temannya yang lain untuk makan di sini.
"Ya bagus untuk membantu masyrakat yang kurang mampu agar bisa beli nasi murah. Kalau bisa dibuka tempat lain jangan di sini aja, juga kalau bisa dibukanya jangan satu jam saja karena kan itu mepet. Kalau bisa seharian," ucap Sarmini.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan dan Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: 1.1.86