100 Tikus Belanda Jadi Korban Ritual Penduduk Inca

16 April 2019 19:11 WIB
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Guinea pig alias tikus belanda. Foto: pixhere
zoom-in-whitePerbesar
Guinea pig alias tikus belanda. Foto: pixhere
ADVERTISEMENT
Arkeolog telah menemukan 100 kerangka guinea pig alias tikus belanda di sebuah situs arkeologi Inca di Peru. Hewan-hewan itu ditemukan dengan hiasan seperti anting dan kalung yang mengikat di tubuh mereka. Beberapa dari mereka juga terbungkus kain kecil.
ADVERTISEMENT
Lidio Valdez, peneliti dari Institute of Andean Studies and Acari Valley Archaeological Project, mengumumkan penemuan situs penguburan tikus belanda itu dalam laporan penelitian yang telah diterbitkan di International Journal of Osteoarchaeology. Situs itu bernama Tambo Viejo, berada di Peru Selatan
Valdez mengungkapkan, 100 tikus terbunuh di situs itu sekitar 400 tahun yang lalu. Ia menduga tikus-tikus belanda itu telah menjadi korban ritual penduduk Inca.
Secara total, Valdez menemukan 72 kerangka tikus belanda di salah satu bangunan, 28 tikus belanda lain ditemukan di bangunan yang berbeda. Tikus-tikus belanda itu terkubur di bawah lantai bangunan-bangunan tersebut.
Guinea pig alias tikus belanda yang ditemukan di situs Inca. Foto: Institute of Andean Studies/Lidio Valdez
Menurut Valdez, temuan ini bukanlah hal besar. Sebab, orang-orang Spanyol awal sebelumnya telah melaporkan bahwa penduduk Inca sering melakukan pembunuhan massal pada spesies hewan, termasuk tikus belanda.
ADVERTISEMENT
"Namun, saya terkejut setelah melihat bahwa sejumlah tikus belanda dihiasi dengan benang warna-warni yang ditempatkan sebagai anting dan kalung. Orang Spanyol tidak pernah membahas tentang itu," ujar Valdez.
Bahkan, tikus belanda yang lain diselimuti dengan sepotong kain kecil yang terbuat dari serat kapas. Menurut Valdez, belum diketahui mengapa hewan itu dibungkus kain. “Bisa jadi ada hubungannya dengan keinginan orang-orang tertentu yang mungkin ingin menjadikan hadiah istimewa,” jelasnya.
Selain itu, penelitian menunjukkan hewan-hewan jenis pengerat itu sebagian besar mati dalam usia muda.
“Manusia lebih suka daging binatang muda karena kelembutannya. Manusia percaya bahwa para dewa juga pantas mendapatkan daging empuk,” katanya. "Kita harus ingat 'muda' juga dapat berarti hal-hal lain, seperti murni, tidak terkontaminasi, dan sebagainya.”
Guinea pig alias tikus belanda yang dihiasi dengan kain berwarna-warni. Foto: Institute of Andean Studies/Lidio Valdez
Lebih lanjut, tikus belanda yang ditemukan tidak menunjukkan tanda-tanda mengalami cedera. Ini menandakan bahwa mereka mati karena mengalami sesak napas. Artinya, bisa saja mereka mati karena dikubur hidup-hidup.
ADVERTISEMENT
“Sejumlah tikus belanda ditemukan dalam kondisi yang sangat baik. Mereka termumikan secara alami. Hewan-hewan ini juga ditemukan dengan kepala menghadap ke atas. Sebagai kelinci percobaan, mereka terawetkan dengan baik dan tidak menunjukkan tanda-tanda trauma atau luka. Ini menunjukkan bahwa mereka mungkin dikubur hidup-hidup,” tutur Valdez.
Valdez menegaskan perlunya penelitian lebih lanjut untuk memahami bagaimana hewan-hewan itu dibunuh dan mengapa mereka dihiasi dengan tali warna-warni. Namun bagaimanapun, penemuan ini memberikan bukti fisik pertama tentang pengorbanan tikus belanda di periode tersebut.
“Meski orang-orang Spanyol pernah menyebutkan soal pengorbanan tikus belanda, namun belum pernah penelitian arkeologis menghasilkan temuan pengorbanan tikus belanda dengan jumlah besar, sehingga membuat temuan dari Tambo Viejo tak tertandingi,” pungkasnya.
ADVERTISEMENT