Pencarian populer

5 Tokoh Besar Dunia yang Alami Gangguan Bipolar

Isaac Newton, Winston Churchill dan Beethoven. (Foto: Pixabay; Shutterstock)

Gangguan bipolar membuat penderitanya sering mengalami perubahan suasana hati dan tingkat energi produktivitas di tubuh dengan cepat.

Menurut Nova Riyanti Yusuf, Ketua Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia cabang Jakarta (PDSKJI Jaya), para penderita bipolar memang memiliki tingkat kreativitas yang tinggi.

Namun meski demikian mereka memerlukan dukungan dari orang-orang di sekitarnya untuk bisa merealisasikan ide tersebut.

"Orang bipolar itu memiliki kecenderungan untuk lebih kreatif. Mereka selalu punya ide dan rasa ingin tahu yang besar. Tapi mereka harus bisa menjaga hal itu dan perlu dibantu orang sekitarnya agar bisa melaksanakannya," ujar Nova di acara Seminar Kesehatan World Bipolar Day 2018 dan Launching Boneka Hagi di Jakarta, beberapa waktu lalu.

Nova Riyanti Yusuf, Ketua PDSKJI Jaya (Foto: Sayid Mulki/kumparan)

Nova menjelaskan ada banyak tokoh besar dunia yang ternyata mengidap gangguan bipolar dan namanya terus dikenang hingga sekarang. Berikut lima tokoh besar dunia yang ternyata mengidap bipolar yang tim kumparanSAINS rangkum dari berbagai sumber.

1. Vincent van Gogh

Vincent Van Gogh. (Foto: Pixabay)

Pelukis asal Belanda ini tak terkenal sebagai pelukis saja, dirinya juga merupakan seorang pejuang bipolar. Bahkan, hari lahirnya pada 30 Maret dijadikan sebagai Hari Bipolar Sedunia dan menjadi salah satu cara untuk melawan stigma terhadap penderita gangguan bipolar.

Salah satu karya Van Gogh yang terkenal adalah lukisan “The Starry Night” yang sekarang dipamerkan di Museum of Modern Art, New York, AS.

Ia juga cukup dikenal memiliki sifat nyentrik dan bahkan pernah memotong telinganya sendiri saat keadaan depresi.

Para peneliti dan ahli meyakini, Van Gogh menderita gangguan bipolar karena sang seniman sering mengalami perubahan suasana hati yang fluktuatif antara mania ekstrem dan depresi.

2. Winston Churchill

Winston Churchill (Foto: AFP)

Pria yang memimpin Inggris saat Perang Dunia Kedua ini terkenal sering menyebut depresi yang ia alami sebagai "anjing hitamnya." Namun saat sedang tidak berada dalam situasi depresi, dirinya sangatlah energetik dan juga produktif.

Dalam memoar Churchill berjudul 'Winston Churchill: The Struggle for Survival', Lord Moran, dokter pribadi Churchill mengaku telah mendiagnosis Churchill dengan gangguan bipolar.

Saat sedang berada dalam periode hipomanik atau high mania, Chucrhill dirinya dapat bekerja semalaman tanpa tidur untuk menulis.

Dan mungkin berkat itulah Churchill berhasil menulis 43 buku sembari tetap melakukan tugasnya sebagai perdana menteri Inggris.

3. Isaac Newton

Isaac Newton (Foto: Shutterstock-wikimedia commons)

Newton menunjukkan tanda-tanda gangguan bipolar sejak usia sangat muda. Newton adalah seorang anak pendiam yang tidak banyak bermain dengan anak lain.

Dalam biografi Newton banyak ditemukan simtom dari gangguan bipolar. Selain itu, diceritakan juga bahwa ketika sedang berada dalam keadaan depresi, ia sering berhalusinasi dan berbicara dengan sendiri.

Bahkan dalam buku catatannya banyak dituliskan rasa was-was, kesedihan, ketakutan, opini merendahkan dirinya sendiri, dan bahkan pikiran untuk bunuh diri.

Namun meski demikian, Isaac Newton adalah salah satu orang paling brilian yang pernah hidup. Sumbangannya terhadap ilmu pengetahuan sangat besar manfaatnya hingga sekarang.

4. Ludwig von Beethoven

Ludwig von Beethoven. (Foto: Shutterstock)

Komponis musik klasik legendaris asal Jerman ini ternyata juga menderita gangguan bipolar. Saat berada dalam fase mania, Beethoven dapat menulis beberapa karyanya dalam satu waktu.

Selain itu, banyak juga karya terkenalnya yang ternyata ditulis pada fase depresi ketika ia mulai memikirkan untuk bunuh diri.

Pada awal 1813 Beethoven mengalami depresi parah sampai ia tak lagi mempedulikan penampilan, berhenti menyusun musik dan marah-marah di tempat umum.

Beethoven sendiri meninggal pada 1827 akibat penyakit hati yang ia alami.

5. Buzz Aldrin

Buzz Aldrin. (Foto: Shutterstock)

Orang kedua yang mendarat di Bulan dan juga pilot pertama yang berhasil mendaratkan pesawat di sana, Buzz Aldrin, ternyata juga mengalami gangguan bipolar.

Dalam dua bukunya yang berjudul "Magnificent Desolation" dan "Return to Earth", banyak diceritakan mengenai perjuangan Aldrin melawan depresi serta minum-minuman keras pada masa pensiunnya.

Menurut pengakuan Aldrin, penyebab dirinya depresi dan kecanduan minum adalah karena dirinya tidak siap dengan popularitas yang ia dapatkan setelah mendarat di Bulan. Namun kini Aldrin telah terbebas dari alkohol setidaknya selama lebih dari 20 tahun terakhir.

Gangguan bipolar sendiri merupakan suatu gangguan jiwa yang bersifat episodik dan ditandai dengan gejala-gejala manik, hipomanik, depresi atau episode campuran yang biasanya terjadi berulang dan berlangsung menahun.

Jenis gangguan jiwa ini sering berkembang di akhir masa remaja atau dewasa awal seseorang. Setidaknya setengah dari semua kasus gangguan bipolar dimulai sebelum usia 25 tahun. Bahkan beberapa dari mereka sudah memiliki gejala pertama sejak masa kanak-kanak.

Gangguan bipolar adalah gangguan jiwa yang bersifat kronik, serius, dan sering berpotensi fatal. Angka kematian akibat gangguan bipolar 2-3 kali lebih tinggi daripada skizofrenia. Angka tersebut bahkan 20 kali lebih tinggi daripada populasi umum.

Penyebab terbanyak kematian orang dengan gangguan bipolar adalah karena bunuh diri. Tercatat sebanyak 10-20 persen orang dengan gangguan bipolar meninggal karena bunuh diri dan 30 persen orang dengan gangguan bipolar pernah mencoba bunuh diri.

Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: 1.1.53