kumparan
20 Agu 2018 9:07 WIB

6 Fakta Unik soal Gempa 6,9 Magnitudo yang Mengguncang Lombok

Kondisi Pasca Gempa di Pelabuhan, Kayangan Lombok Utara (19/8/2018). (Foto: Twitter/@Sutopo_PN)
Gempa Lombok berkekuatan 6,9 magnitudo yang terjadi pada Minggu malam 19 Agustus 2018 pukul 21.56.27 WITA merupakan “gempa baru”. Ada beberapa fakta yang perlu kita pahami.
ADVERTISEMENT
Berikut enam fakta di antaranya, sebagaimana dikutip dari siaran pers yang dikirim Kepala Bidang Informasi Gempabumi dan Peringatan Dini Tsunami Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Dr. Daryono, M.Si, kepada kumparanSAINS, Senin (20/8).
1. Gempa baru
Dengan memperhatikan lokasi episenter gempa 6,9 magnitudo tadi malam yang terletak di ujung timur Pulau Lombok dan diikuti oleh sebaran episenter gempa yang mengikutinya dan membentuk kluster episenter dengan sebaran ke arah timur (di laut) hingga di sebelah utara Sumbawa Barat, maka dapat disimpulkan bahwa gempa yang terjadi tersebut merupakan aktivitas “gempa baru” yang berbeda dari gempa berkekuatan 7,0 magnitudo dan susulannya yang terjadi sejak 5 Agustus 2018.
2. Punya keterkaitan yang erat dengan gempa 7,0 magnitudo
ADVERTISEMENT
Daryono mengatakan, antara gempa berkekuatan 7,0 magnitudo yang terjadi pada 5 Agustus 2018 dengan gempa berkekuatan 6,9 magnitudo yang terjadi pada 19 Agustus 2018 tadi malam memiliki keterkaitan yang erat.
Ilustrasi Gempa (Foto: Pixabay)
3. Diduga dipicu oleh gempa-gempa sebelumnya
Munculnya aktivitas gempa baru dengan pusat di ujung timur Pulau Lombok yang berkekuatan 6,9 magnitudo ini diduga kuat akibat dipicu oleh trigger statis (static stress) dari rangkaian gempa-gempa kuat di Lombok berkekuatan 6,4 magnitudo, 7,0 magnitudo, 6,3 magnitudo, dan 5,9 magnitudo yang terjadi sebelumnya.
4. Terjadi di Sesar Flores
Menariknya, rekahan (rupture) batuan yang diciptakan oleh kedua gempa tersebut masih terjadi pada satu sistem sesar yang sama yaitu masih dalam kerangka sistem Sesar Naik Flores, ini tampak jelas dari mekanisme pusat gempa yang terjadi. Sebelumnya, Kepala BMKG Dwikorita Karnawati juga mengatakan bahwa kedua tersebut sama-sama berada di Sesar Naik Flores, meski sumber gempa bukan berasal bidang patahan yang sama.
ADVERTISEMENT
5. Disebut gempa kembar
Dalam ilmu gempa bumi/seismologi aktivitas kedua gempa kuat semacam ini disebut sebagai “gempa kembar” (doublet earthquakes) mengingat kekuatanya tidak terpaut besar, lokasi dan kedalamannya yang berdekatan, serta terjadi dalam rentang waktu yang tidak terlalu lama. Tetapi jika melihat banyaknya rangkaian gempa kuat yang terjadi maka boleh saja menyebutnya sebagai aktivitas “multi gempa” (multiplet earthquakes).
6. Membangkitkan 88 kali gempa susulan
Gempa baru ini sejak tadi malam hingga pagi ini pukul 7.00 WIB sudah membangkitkan 88 kali gempa susulan (aftershocks), 8 gempa susulan di antaranya memiliki kekuatan signifikan dan dirasakan guncangannya oleh masyarakat.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan