kumparan
18 Apr 2019 18:09 WIB

Alasan Kita Harus Menerima Kenyataan dan 3 Cara Melakukannya

Joko Widodo, Ma'ruf Amin, Prabowo Subianto dan Sandiaga Uno. Foto: Kumparan dan ANTARA FOTO
17 April 2019 jadi hari penting bagi Indonesia. Di hari itu seluruh rakyat Indonesia turut serta dalam salah satu pesta demokrasi terbesar di dunia. Dalam satu hari mereka memilih presiden, wakil presiden, dan wakil rakyat.
ADVERTISEMENT
Sekarang adalah waktu menunggu hasil Pemilu 2019. Komisi Pemilihan Umum (KPU) menyebut bahwa hasilnya akan diumumkan pada 22 Mei 2019.
"Penetapan Pemilu 2019, 22 Mei 2019, setelah dilakukan rekapitulasi secara berjenjang," kata Komisioner KPU Wahyu Setiawan di Kantor KPU Menteng, Jakarta Pusat, Selasa (16/4).
Sebagaimana yang sudah ditentukan, hanya salah satu dari dua pasangan calon presiden dan calon wakil presiden yang akan memimpin Indonesia lima tahun ke depan. Artinya, sangat mungkin akan ada pihak-pihak yang kecewa dan mungkin menolak penetapan hasil Pemilu 2019 oleh KPU.
Tasha Eurich, psikolog sekaligus peneliti dan penulis buku-buku psikologi, mengatakan bahwa sebaiknya kita tidak menolak kenyataan. Meski kenyataan itu menyakiti kebahagiaan, kesuksesan, dan kesehatan kita. Menurut Eurich, kita harus menerima segala sesuatu sebagaimana kenyataannya, bukan sebagaimana sesuai keinginan kita.
Fitriani kecewa usai kalah Piala Uber 2018. Foto: ANTARA FOTO/Puspa Perwitasari
Eurich, dalam tulisannya di Huffington Post, mengatakan bahwa akan ada hal yang luar biasa ketika seseorang menerima kenyataan. Ia menjelaskan bahwa orang yang menerima kenyataan akan melakukan perubahan kecil dan akan lebih bahagia.
ADVERTISEMENT
"Empat bulan lalu, salah satu klien saya punya target untuk olahraga di gym kantor seminggu dua kali. Tapi setiap bertemu, ia selalu menundukkan kepala dan mengaku kalah," kata Eurich.
"Bulan ini, klien saya itu mengatakan bahwa dirinya akan menerima kenyataan, bahwa dia tidak akan pernah pergi ke gym kantor. Setelah saya menyarankan dia untuk olahraga di rumah, dia benar-benar melakukannya dengan rutin."
"Jika dia tidak menyadari bahwa gym kantor memang tidak cocok dengannya, maka ia akan terus-menerus merasa kecewa," tambah Eurich.
Ekspresi kecewa para penggawa Manchester United. Foto: REUTERS/David Klein
3 cara untuk bisa menerima kenyataan
Eurich memaparkan bahwa ada tiga cara untuk bisa menerima kenyataan. Ketiganya tidak sulit untuk dilakukan.
1. Mencari pendapat objektif dari orang lain
ADVERTISEMENT
Orang lain biasanya melihat kita dengan lebih objektif dibanding diri kita sendiri. Menurut Eurich, untuk menerima kenyataan, kita bisa mulai dengan mencari seseorang yang akan mengatakan kebenaran atas kondisi diri kita sendiri. Lalu dengarkan kata-kata mereka dengan pikiran terbuka.
Ilustrasi saling berbicara. Foto: rawpixel/pixabay
2. Ubah perspektif
Melihat situasi diri Anda dari posisi lain juga bisa membantu. Eurich mengatakan cara mudah untuk melakukan ini adalah dengan membayangkan situasi yang Anda alami terjadi pada orang lain.
Anda bisa mencoba membayangkan apa reaksi diri sendiri jika hal yang Anda alami terjadi pada teman Anda. Dengan begitu Anda akan bisa memahami bagaimana kondisi Anda dari kacamata orang lain.
com-Ilustrasi Melihat situasi diri Anda dari posisi lain. Foto: Shutterstock
3. Menganalisis situasi
Eurich menerangkan bahwa psikolog dan pemenang Nobel Daniel Kahneman pernah mengatakan bahwa rasa terlalu percaya diri adalah sumber ilusi terkuat yang ada. Menurut Eurich, ini bisa berarti bahwa Anda bisa saja merasa percaya diri, tapi tetap berada di pihak yang salah.
ADVERTISEMENT
Jadi betapapun besarnya rasa percaya diri kita, kita tetap harus melakukan analisis mendalam. Hasil analisis itu kemudian dikombinasikan dengan pertanyaan mengenai diri sendiri.
Eurich mencontohkan dengan pertanyaan, seperti "Bias apa yang saya miliki, bagaimana itu mempengaruhi saya?" dan "Bagaimana fakta dan kemungkinan sebenarnya?".
Menurut Eurich, jika kita mengikuti tiga langkah itu, kita bisa mulai menerima kenyataan sebenarnya, sepahit apa pun itu. Dan manfaat positifnya adalah Anda akan lebih percaya diri, lebih sukses, dan tidak mudah cemas.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan