Pencarian populer

Api dan Pengaruhnya bagi Manusia

Gladi Resik upacara api olimpiade Pyeongchang 2018 (Foto: Alkis Konstantinidis/Reuters)

Api bisa dibilang sebagai roda kemajuan manusia. Ketika manusia zaman dahulu berhasil menemukan cara membuat api, manusia mulai berkumpul bersama, bersosialisasi, dan akhirnya mendorong terjadinya pengembangan bahasa serta kebudayaan.

Tak hanya mengembangkan bahasa dan kebudayaan, menurut buku berjudul “Catching Fire: How Cooking Made Us Human" yang ditulis oleh Richard Wrangham, api juga membantu manusia untuk bisa menjadi penguasa Bumi seperti sekarang.

Wrangham yang merupakan profesor antropologi biologi di Harvard University berpendapat bahwa dengan memasak makanannya, manusia memiliki energi tambahan dari makanan tersebut yang kemudian membantu berkembangnya otak serta fisik manusia.

"Makanan yang dimasak memiliki banyak keunggulan. Membuat makanan kita lebih aman, memiliki rasa yang kaya dan lezat, serta mengurangi pembusukan," tulis Wrangham dalam bukunya, seperti dikutip dari The New York Times.

"Tapi yang paling penting dibandingkan keunggulan tersebut adalah satu aspek, yaitu memasak meningkatkan jumlah energi yang bisa tubuh kita dapatkan dari makanan," tambahnya.

Ilustrasi api kompor (Foto: Thinkstock)

Wrangha menjelaskan bahwa makanan yang dimasak lebih mudah dicerna oleh tubuh manusia. Hal ini membuat lebih banyak energi yang tersedia bagi tubuh. Energi tersebut kemudian dialokasikan ke otak yang kemudian membuatnya bisa berkembang seperti sekarang.

Selain itu, api juga membuat manusia mulai kehilangan rambut di bagian tubuh yang membuatnya dapat berlari lebih cepat dan berburu tanpa mengalami kepanasan. Hal ini berarti lebih banyak lagi sumber energi yang didapat dan kemudian mendorong manusia untuk berkembang lebih jauh.

Asal usul api

Api sendiri diduga telah menemani perjalanan manusia sejak 1 juta tahun lalu. Bukti atas hal tersebut ditemukan oleh tim peneliti di suatu gua di Afrika Selatan.

Hasil temuan ini sendiri telah dipublikasikan di jurnal Proceedings of the National Academy of Sciences pada 2012. Dilansir Live Science, dalam temuan tersebut tim peneliti menganalisis material dari Gua Wonderwerk, gua besar yang terletak di pinggiran Gurun Kalahari, Afrika Selatan.

Dari hasil analisis mikroskopik, ditemukan adanya bukti pembakaran di gua tersebut. Salah satu buktinya adalah abu tumbuhan dan serpihan tulang yang hangus. Abu tumbuhan dan serpihan tulang itu ditemukan bersebelahan dengan peralatan batu yang berumur sekitar 1 juta tahun.

Kawah Api (Foto: flickr / Fujifilm Ukraine)

Manusia modern, satu-satunya spesies manusia yang masih hidup saat ini memang berasal dari 200 ribu tahun lalu. Akan tetapi, spesies manusia lainnya pernah hidup sebelum itu. Misalnya Homo erectus yang berasal dari 1,9 juta tahun lalu.

"Hasil analisis (pada abu tumbuhan dan serpihan tulang itu) mendorong bahwa waktu penggunaan api oleh manusia adalah sekitar 300 ribu tahun lalu. Hal ini memberikan dugaan bahwa leluhur manusia seperti Homo erectus telah mulai menggunakan api sebagai bagian hidup mereka," ujar Michael Chazan, arkeologi paleolitik dari University of Toronto sekaligus anggota tim peneliti.

Chazan juga mengatakan bahwa api adalah bagian penting dari kehidupan manusia. "Bersosialisasi di sekitar api unggun mungkin adalah salah satu aspek penting yang menjadikan kita manusia," kata Chazan.

"(Kemampuan) bisa menggontrol api adalah titik balik yang besar dalam evolusi manusia," tambahnya.

Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
Bagikan ide, informasi, momen dan cerita kamu melalui
kumparan
Dengan ini kamu menyetujui syarat
& layanan dari kumparan
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: 1.1.23