kumparan
14 Mar 2019 8:06 WIB

Badai Matahari Dahsyat Pernah Hantam Bumi dan Ini Bisa Terulang Lagi

Ilustrasi badai matahari Foto: NASA/commons wikimedia
Tatkala Badai Matahari datang membombardir Bumi, ledakan partikelnya yang sangat energik dapat membahayakan manusia dan perangkat elektronik yang ada di luar angkasa dan atmosfer. Peristiwa yang disebut juga sebagai badai proton ini terjadi ketika aktivitas Matahari berinteraksi dengan medan magnetik Bumi.
ADVERTISEMENT
Kasus Carrington Event pada tahun 1859 merupakan salah satu contoh terbesar pada zaman modern ini. Peristiwa itu menyebabkan aurora dapat dilihat di seluruh dunia. Namun, mereka yang hidup saat Badai matahari 1859 dapat dikatakan "cukup beruntung" karena pada saat itu manusia belum terlalu menggantungkan hidupnya pada listrik dan perangkat elektronik.
Apa hubungan Badai Matahari dengan ketergantungan kita akan listrik? Ketika badai proton mengenai magnetosfer Bumi, maka ini akan terperangkap di medan magnet Bumi. Juga, ketika Badai Matahari menyebabkan gangguan pada magnetosfer Bumi, ini berarti akan menimbulkan badai geomagnetik yang dapat menimbulkan kerusakan pada jaringan listrik di seluruh planet ini.
Ilustrasi badai matahari Foto: NASA/flickr
Contohnya ialah Badai Matahari yang menghantam Quebec, Kanada, pada tahun 1989. Meski kekuatannya 10 kali lebih kecil ketimbang Carrington Event, badai geomagnetik di Quebec ini seketika melumpuhkan aliran listrik dalam hitungan detik, merusak jalur listrik hingga ke New Jersey, mematikan jaringan listrik Amerika Serikat mulai dari Mid-Atlantic hingga Pacific Northwest.
ADVERTISEMENT
"Hari ini, kita memiliki banyak infrastruktur yang dapat rusak parah, dan kita (juga) melakukan perjalanan di udara dan ruang angkasa di mana (kemungkinan) kita jauh lebih (berpeluang) terpapar radiasi energi tinggi," tutur Raimund Muscheler, ahli fisika lingkungan di Lund University di Swedia, dilansir LiveScience.
Kabar buruknya, rekan-rekan peneliti dari Lund University telah menemukan atom-atom radioaktif terperangkap dalam es di Greenland yang menunjukkan badai proton terdahsyat pada 660 SM. Carrington Event menjadi sangat kecil ketimbang peristiwa ini. Para peneliti percaya kejadian badai proton dahsyat seperti pada 660 SM dapat terulang lagi.
Badai matahari Foto: Neil Mclntosh/flickr
Lebih buruk lagi, kehidupan manusia telah sangat bergantung pada listrik sejak Carrington Event. Jika badai geomagnetik yang sama kuat menghantam sekarang, maka pemadaman listrik dapat berlangsung berhari-hari, berminggu-minggu, atau berbulan-bulan.
ADVERTISEMENT
Lantas, bagaimana jika yang terulang ialah Badai Matahari yang kekuatannya sebanding dengan 660 SM? Inilah yang sangat dikhawatirkan oleh para ilmuwan. Badai Matahari dapat “melumpuhkan” Bumi dalam seketika. Sebab, akan butuh waktu hingga bertahun-tahun bagi manusia untuk berjuang mengganti bagian-bagian penting dari jaringan listrik yang rusak di berbagai wilayah.
“Peristiwa besar ini adalah sifat berulang dari Matahari, kita sekarang memiliki tiga peristiwa besar selama 3.000 tahun terakhir,” kata Muscheler. “Mungkin ada lebih banyak yang belum kita temukan,” imbuhnya.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan