kumparan
24 Des 2018 18:46 WIB

Bagaimana Longsor Kawah Anak Krakatau Sebabkan Tsunami Selat Sunda

Gambar dari udara kondisi Anak Gunung Krakatau. (Foto: Dicky Adam Sidiq/kumparan)
Pada Sabtu (22/12) malam sekitar pukul 21.15 WIB, sejumlah daerah di pesisir Selat Sunda terkena dampak tsunami dengan ketinggian gelombang rendah yang beragam. Air laut tiba-tiba naik menyapu sejumlah bangunan di Anyer, Lampung, dan pesisir Selat Sunda.
ADVERTISEMENT
Dua hari kemudian, Senin (24/12), Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengumumkan bahwa tsunami di Selat Sunda disebabkan longsor akibat aktivitas Gunung Anak Krakatau. Bagian Gunung Anak Krakatau yang mengalami longsor adalah kepundan atau kawah di sisi barat daya dengan luas hingga 64 hektare.
"Luas area kolaps mencapai 64 hektare. Dalam waktu 24 menit menjadi tsunami di pantai," ujar Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati, dalam konferensi pers di Kantor BMKG, Jakarta, Senin (24/12).
Dwikorita menjelaskan, saat erupsi terjadi getaran-getaran yang membuat ada bagian kepundan atau kawah menjadi lemah, rontok, longsor, dan menyebabkan tsunami.
"Massa yang masif masuk ke dalam air itu ibaratnya kalau gelas dimasuki batu, itu akan membuat airnya naik. Jadi longsor itu yang memicu gelombang. Gelombang yang tadi kita sebut sebagai gelombang tsunami yang akhirnya merambat ke arah pantai," jelas dia.
ADVERTISEMENT
Curah hujan yang tinggi turut mempengaruhi kejadian longsor yang mengakibatkan tsunami, menurut Dwikorita.
Video
Hal serupa juga dipaparkan oleh Koordinator Bidang Vulkanologi Pusat Penelitian Mitigasi Bencana (PPMB) Institut Teknologi Bandung (ITB), Mirzam Abdurrachman.
Menurutnya, sebuah gunung api yang terletak di tengah laut seperti Anak Krakatau atau yang berada di pinggir pantai, berpotensi menghasilkan volcanogenic tsunami atau tsunami yang disebabkan aktivitas vulkanik gunung berapi.
Volcanogenic tsunami bisa terbentuk karena ada perubahan volume laut secara tiba-tiba akibat letusan gunung api. Mirzam menjelaskan, ada empat mekanisme yang menyebabkan terjadinya volcanogenic tsunami yang bisa dibaca di sini.
"Kalau tsunami karena gunung api lerengnya longsor atau ada wedus gembel atau aliran piroklastik yang masuk ke air itu sistemnya mendorong air dan tidak ada air surut," ujar Mirzam saat dihubungi kumparan.
ADVERTISEMENT
"Yang kemarin (Sabtu 22/12) dilihat kan tidak ada air surut, tiba-tiba air langsung naik. Bisa jadi karena longsor atau wedus gembel yang masuk ke laut," papar dia.
Mirzam menambahkan, berdasarkan catatan sejarah, tsunami akibat longsor dan wedus gembel hanya menghasilkan tsunami-tsunami kecil saja.
Video
Sementara itu, dalam makalah berjudul Volcanic tsunami: a review of source mechanisms, past events and hazards in Southeast Asia (Indonesia, Philippines, Papua New Guinea) oleh Raphael Paris dan koleganya yang dipublikasikan pada 2013, diterangkan bahwa volcanogenic tsunami adalah tsunami yang disebabkan oleh proses eruptif, deformasi tanah, serta ketidakstabilan lereng.
Tsunami dengan penyebab eruptif terjadi ketika ada energi yang dilepaskan saat erupsi secara langsung atau tidak bisa sampai ke laut. Hal ini menyebabkan ombak impulsif karena adanya perpindahan air. Menurut para peneliti, fenomena tersebut cukup diketahui, namun proses persisnya dinamika atas interaksi serta gelombang yang menimbulkan ombak saat erupsi masih tidak banyak diketahui.
ADVERTISEMENT
Dalam makalah tersebut, para peneliti menyebutkan kecil kemungkinan untuk gelombang kejut, lahar, dan runtuhnya dapur lava, menyebabkan volcanogenic tsunami. Sementara aliran piroklastik atau wedus gembel, runtuhnya sisi atau lereng gunung, tenggelamnya kaldera, dianggap punya kemungkinan lebih besar menyebabkan volcanogenic tsunami.
Para peneliti menyimpulkan, harus dilakukan penilaian atas bahaya volcanogenic tsunami di Asia Tenggara, karena pertumbuhan populasi dan ekonomi sering bersilangan dengan daerah-daerah berisiko mengalami volcanogenic tsunami.
Video
Korban Tsunami Selat Sunda Akibat Longsor Kawah Gunung Anak Krakatau
Pada Senin (24/12) pagi, Badan Nasiona Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan bahwa tsunami Selat Sunda yang melanda Banten dan Lampung pada Sabtu (22/12) menyebabkan 281 orang meninggal, 1.016 orang luka-luka, dan 57 orang hilang. Jumlah korban ini diperkirakan masih akan terus bertambah karena proses evakuasi masih berlangsung.
ADVERTISEMENT
"Kerusakan fisik meliputi 611 unit rumah rusak, 69 unit hotel-vila rusak, 60 warung-toko rusak, dan 420 perahu-kapal rusak," kata Kepala Pusat Data dan Informasi BNPB Sutopo Purwo Nugroho dalam keterangannya, Senin (24/12).
Kronologi tsunami di Selat Sunda. (Foto: Anggoro Fajar Purnomo/kumparan)
kumparan bekerja sama dengan Radio Prambors untuk menggalang dana bagi para korban tsunami Anyer dan Lampung. Penggalangan dana dilakukan secara online melalui platform Kitabisa. Mari salurkan bantuan Anda dalam tautan berikut:
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan