Pencarian populer

Bedah Bariatrik Solusi Akhir untuk Pasien Obesitas

Perempuan pengidap obesitas Foto: REUTERS/Shailesh Andrade

Kelebihan berat badan atau obesitas merupakan hal yang paling ditakuti setiap orang. Tak hanya merusak penampilan, obesitas juga menjadi sumber berbagai penyakit mematikan.

Ada satu cara ampuh, menurut para ahli, untuk mengatasi dan mengobati isu ini, yaitu operasi bariatrik. Dokter spesialis bedah di Rumah Sakit Pondok Indah Peter Ian Limas berkata, operasi bedah bariatrik adalah tindakan yang tepat untuk menangani masalah obesitas.

"Tindakan ini dapat dilakukan apabila pasien sudah dikategorikan sebagai obesitas morbid dan memiliki IMT (Indeks Massa Tubuh) yang tinggi. Selain diperuntukkan bagi para pasien obesitas morbid, bedah bariatrik juga dapat dimanfaatkan untuk membantu pasien yang memiliki IMT sedang, tetapi mempunyai risiko tinggi penyakit diabetes dan hipertensi," kata Peter dalam jumpa pers di Hotel Mulia, Senayan, Jakarta, Kamis (14/3).

Bedah bariatrik berperan membantu pasien obesitas mengatasi gejala laparnya dan membantu mengurangi kalori yang diserap tubuh. Tindakan bedah ini juga melibatkan bidang lain, seperti ahli gizi, ahli endokrin, dan ahli olahraga. Obesitas yang sudah mengancam nyawa dianjurkan harus melakukan bedah bariatrik.

"Kalau Indeks Massa Tubuh sudah tinggi sekali di atas 40 Kg/m^2, satu-satunya jalan adalah dengan prosedur bedah. Kalau masih di bawah 27,5 Kg/m^2, tidak dianjurkan untuk bedah bariatrik," tuturnya.

Dr Peter Ian Limas, Dokter Spesialis Bedah Foto: Alfaddillah/Kumparan

Berbeda dengan bedah kosmetik yang hanya memperbaiki penampilan, bedah bariatrik bekerja lebih dalam dan hanya digunakan sebagai solusi akhir bagi pasien obesitas. Bedah bariatrik bekerja dengan mengatasi rasa lapar, memodifikasi saluran cerna dan profil hormon, serta mengurangi penyerapan kalori.

Namun perlu diingat, bedah bariatrik tidak bisa menyelesaikan semua masalah. Ada beberapa komponen pendukung yang juga perlu diperhatikan pascaoperasi.

"Ini bukanlah peluru emas, tidak bisa selesai tuntas persoalannya. Dietnya harus diketatkan pasca operasi. Tiga hari pertama hanya minum air putih, dua minggu kemudian minum susu, dan dua minggu setelahnya makan makanan lunak," paparnya.

Contoh kasus obesitas Arya Permana Foto: Bagus Permadi/kumparan

3 Jenis bedah bariatrik

Bedah bariatrik sendiri memiliki tiga jenis, dengan prosedur dan keunggulan yang berbeda-beda. Kondisi tubuh pasien harus disesuaikan dengan tiap metode tersebut.

Salah satu metodenya adalah Sleeve Gastrectomy, yang prosedurnya memotong lambung guna mengurangi rasa lapar. Jenis bariatrik ini kurang cocok dilakukan pada penderita kelainan lambung, karena menimbulkan efek samping berupa kenaikan asam lambung.

Kemudian ada Gastric atau Mini Gastric Bypass. Metode ini dilakukan dengan cara menjepit lambung, kemudian membuat kantong kecil pada lambung dan menghubungkannya ke usus kecil. Hal ini membuat pasien merasa cepat kenyang dan tubuh menyerap kalori lebih sedikit.

"Yang paling efektif sebenarnya Gastric/Mini Gastric Bypass. Bypass lebih ideal karena berat badan lebih banyak 5 persen turunnya dan bertahan lebih lama. Pascaoperasi juga lebih nyaman," kata Peter.

Metode Bypass sangat ampuh untuk mengatasi kecanduan makanan manis. Prosedur ini memiliki efek samping Dumping Syndrome, di mana pasien yang 'nakal' akan merasa kembung jika mengonsumsi gula dan karbohidrat berlebih.

Meski lebih efektif, metode Bypass terbilang cukup rumit. Dokter akan menyambung kerongkongan ke usus, sehingga kerja lambung menjadi lebih sedikit dan mengurangi rasa lapar.

Ilustrasi Bedah Operasi Foto: Faisal Nu'man/kumparan

Terakhir adalah Biliopancreatic Diversion dengan Duodenal Switch. Ada dua langkah dalam prosedur ini, pertama adalah gastrektomi lengan yang sekitar 80 persen lambung diangkat, namun katup yang melepaskan makanan ke usus kecil (pilorus) tetap ada bersama dengan bagian dari usus kecil yang biasanya terhubung ke perut (duodenum).

Tahap kedua melewati sebagian besar usus dengan menghubungkan bagian uung usus ke duodenum dekat perut. Metode ini membatasi seberapa banyak pasien makan dan mengurangi penyerapan nutrisi, termasuk protein dan lemak.

"Ada juga metode Duodenal Switch/Biliopancreatic Diversion yang memakai ring untuk mengikat lambung sehingga menahan lapar. Namun kurang efektif karena akan longgar dari waktu ke waktu dan pasien harus rutin check up," ujarnya.

Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Bagikan ide, informasi, momen dan cerita kamu melalui
kumparan
Dengan ini kamu menyetujui syarat
& layanan dari kumparan
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: web: