kumparan
23 Nov 2017 7:59 WIB

Benarkah Orang Kidal Lebih Baik dalam Olahraga?

Rafael Nadal menangi Prancis Terbuka. (Foto: REUTERS/Benoit Tessier)
Bila kamu kidal, pasti banyak yang menyangka kalau kamu adalah orang yang kreatif dan menyukai kesenian lebih dari orang yang tidak kidal. Adanya anggapan bila orang kidal lebih kreatif adalah dikarenakan orang kidal dipercaya lebih menggunakan otak kanannya. Selain lebih kreatif, orang kidal pun dipercaya memiliki kecerdasan lebih dibandingkan mereka yang bukan kidal.
ADVERTISEMENT
Namun, dari hasil riset sebuah studi yang melibatkan 7688 anak usia sekolah, ditemukan bahwa tidak ada hubungannya antara kecerdasan dan penggunaan tangan yang dominan, sehingga baik mereka yang kidal maupun tidak tetap memiliki kecerdasan yang sama.
Apabila dalam hal kecerdasan dan kreativitas ternyata mereka yang kidal sama seperti orang yang tidak kidal, lalu bagaimana dalam hal olahraga?
Beberapa nama besar dalam bidang olahraga seperti pesepakbola Lionel Messi, Diego Maradona, Pele, petenis Rafael Nadal, atlet baseball Babe Ruth, dan petinju Oscar De La Hoya, adalah beberapa nama tersohor dalam bidang olahraga yang memiliki satu kesamaan. Mereka semua kidal.
Gol Messi selamatkan Barcelona. (Foto: REUTERS/Vincent West)
Tentu ada lebih banyak lagi nama-nama terkenal dalam berbagai cabang olahraga sehingga keluarlah anggapan bahwa mereka yang kidal lebih baik dalam olahraga.
ADVERTISEMENT
Menurut Florian Loffing, ilmuwan olahraga dari Universitas Oldenburg di Jerman, orang kidal memiliki beberapa keuntungan dalam beberapa cabang olahraga. Salah satunya adalah dalam cabang olahraga tenis meja. Mereka yang kidal memiliki reflek yang lebih cepat ketika memukul bola, sementara mereka yang menggunakan tangan kanan membutuhkan waktu lebih lama untuk memukul bola.
Baseball, kriket, tenis meja, badminton, tenis dan squash adalah cabang olahraga yang dipilih oleh Dr. Loffing untuk melakukan penelitian ini. Baseball dan kriket dipilih untuk menghitung rata-rata waktu yang dibutuhkan ketika melempar bola dan memukul bola.
Sementara pada olahraga raket, perhitungan dilakukan pada jarak waktu setiap kali bola dipukul dengan raket pada pertandingan profesional. Ia juga menghitung jumlah olahragawan profesional kidal yang masuk 100 pemain terbaik sejak 2009-2014.
ADVERTISEMENT
Dengan membandingkan ke enam olahraga tersebut, Dr. Loffing menemukan bahwa atlet kidal membutuhkan waktu lebih sedikit untuk bereaksi terhadap bola.
Namun, untuk memastikan apakah seorang kidal benar-benar lebih baik dalam hal olahraga atau karena ada faktor lainnya, Dr. Loffing membagi hasil penelitiannya untuk melihat apakah kehebatan mereka dikarenakan oleh 'nature' atau karena 'nurture'.
Untuk penjelasan 'nature', seorang kidal lebih baik dalam olahraga dikarenakan otak kanannya lebih dominan, sehingga mereka memiliki kemampuan visual-spasial lebih baik.
Sementara untuk penjelasan 'nurture', dikarenakan atlet kidal adalah fenomena yang langka, antisipasi lawan terhadap teknik yang digunakan oleh atlet kidal cenderung rendah, sehingga lawan sering terkecoh oleh gerakan dan teknik mereka.
Meski memiliki kelebihan, penelitian Dr. Loffing juga mengungkapkan bahwa atlet yang kidal dapat melatih kemampuannya untuk menggunakan tangan kanannya dalam pertandingan. Dan begitu pula pada atlet yang tidak kidal, mereka dapat menghadapi atlet kidal dengan banyak berlatih.
ADVERTISEMENT
Reporter: Zahrina Yustisia Noorputeri
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan