Pencarian populer

Diaspora Indonesia dan Penemuan Mereka yang Mengguncang Dunia

Obama di Kongres Diaspora Indonesia ke-4. (Foto: Antara/Rosa Panggabean)

Diaspora. Kata ini belakangan marak disebut, terutama karena kedatangan mantan presiden AS Barack Obama ke Indonesia untuk menghadiri Kongres Diaspora Indonesia ke-4, Sabtu 1 Juli 2017, di Kasablanka Hall, Jakarta Selatan.

Acara yang mengusung tema “Bersinergi Bangun Negeri” itu akan resmi berakhir hari ini, Selasa (4/7). Sejak kemarin, sejumlah orang terkemuka berkumpul di kongres tersebut, mulai Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti, Menteri Keuangan Sri Mulyani, Menteri Luar Negeri Retno Marsudirini, penyanyi Anggun C. Sasmi, hingga pemeran Power Ranger Yoshi Sudarso.

Obama dan Dino Patti Djalal. (Foto: Antara/Rosa Panggabean)

Kongres Diaspora Indonesia digagas dan digelar oleh Indonesian Diaspora Network. IDN dididikan pada 2012 oleh Dino Patti Djalal yang saat itu menjabat Duta Besar Indonesia di Amerika Serikat antara 10 Agustus 2010 hingga 17 September 2013.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, diaspora diartikan sebagai “masa tercerai-berainya suatu bangsa yang tersebar di berbagai penjuru dunia dan bangsa tersebut tidak memiliki negara, misalnya bangsa Yahudi sebelum negara Israel berdiri pada tahun 1948.”

Namun dalam kajian ilmu sosial, diaspora merupakan istilah yang merujuk pada kelompok etnis atau bangsa yang tinggal jauh dari kampung halaman, umumnya dengan sebab-sebab persebaran yang bersifat negatif seperti penindasan politik, persekusi, wabah, dan lain-lain.

Obama di Kongres Diaspora Indonesia ke-4. (Foto: Antara/Rosa Panggabean)

Jika di luar negeri ada istilah “diaspora Yahudi” untuk orang-orang berdarah Yahudi yang tersebar di seluruh dunia guna menghindari pembantaian Nazi di Eropa hingga Perang Dunia II, dari Indonesia sedikitnya terdapat lima kelompok besar diaspora yang kemudian banyak menjadi eksil lantaran situasi keamanan dan politik menyebabkan mereka tak bisa pulang ke Indonesia.

Kelima kelompok itu adalah: pertama, diaspora Maluku di Belanda yang terdiri atas orang-orang Maluku pendukung Republik Maluku Selatan yang berdiri sejak 1950; kedua, diaspora Papua yang terdiri dari jejaring aktivis pro-kemerdekaan Papua yang “mengungsi” ke luar Papua, termasuk banyak di antaranya ke Australia, akibat konflik sejak 1961.

Ketiga, diaspora penyintas 1965 yang tak bisa kembali setelah tragedi 1965, di antaranya karena paspor mereka dicabut dan mereka terancam; keempat, diaspora Timor, yakni orang-orang Timur Leste yang terpaksa menyingkir dari kampung halaman karena invasi Orde Baru ke Timor sejak 1975; serta kelima, diaspora Aceh, yaitu orang-orang Aceh yang melarikan diri dari konflik dengan pemerintah pusat sejak 1976.

Namun begitu, saat ini makna diaspora mulai bergeser bagi orang Indonesia, terutama setelah Dinno Patti Djalal membentuk Indonesian Diaspora Network dan menyelenggarakan Kongres Diaspora Indonesia.

Dikutip dari situs Indonesian Diaspora Network, bagi Dino Patti Djalal, istilah Diaspora Indonesia memiliki arti warga negara Indonesia yang tinggal di luar negeri dan terbagi dalam empat kelompok. Kelompok pertama, WNI yang tinggal di luar negeri atau masih memegang paspor Indonesia secara sah. Kelompok kedua, warga Indonesia yang telah menjadi warga negara asing karena proses naturalisasi dan tidak lagi memiliki paspor Indonesia.

Kelompok ketiga, warga negara asing yang memiliki orang tua atau leluhur berasal dari Indonesia. Kelompok keempat, warga negara asing yang sama sekali tak memiliki pertalian leluhur dengan Indonesia, namun memiliki kecintaan luar biasa terhadap Indonesia.

Dalam wawancara dengan Global Indonesian Voices pada Agustus 2013, Dino mengatakan, “Di setiap kota (luar negeri) yang saya kunjungi, saya menemukan banyak sekali orang hebat, seperti sarjana dan pengusaha, dalam komunitas Indonesia. Saya terkejut oleh kisah-kisah sukses mereka dan fakta bahwa banyak dari mereka tidak saling mengenal.”

Ia kemudian menyebut individu-individu hebat itu sebagai “titik-titik yang tak saling terhubung.”

Dino Patti Djalal (Foto: www.bunghatta.ac.id)

Dino yang juga sempat menjadi Wakil Menteri Luar Negeri Indonesia pada 14 Juli hingga 20 Oktober 2014 itu menyatakan, “Dari sini muncullah ide untuk menjadikan titik-titik perorangan ini sebuah jejaring global. Maka kemudian kami menemukan istilah diaspora (dan memutuskan menggunakannya) untuk menghubungkan bukan saja warga negara Indonesia, tapi juga keturunan Indonesia.”

Dalam pemikiran selanjutnya, tampaknya Dino lebih menekankan istilah diaspora ini pada “cerita sukses” orang-orang tersebut. Hal itu terlihat misalnya pada 2012 saat ia menerbitkan buku berjudul Life Stories: Resep Sukses dan Etos Hidup Diaspora Indonesia di Negeri Orang yang berisi pengalaman sukses sejumlah orang Indonesia di luar negeri.

Dalam konteks diaspora versi inilah, kumparan kali ini akan merangkum dan menyajikan sejumlah kisah sukses Diaspora Indonesia, terutama para ilmuwan Indonesia beserta penemuan-penemuan mereka yang mencengangkan dunia.

Khoirul Anwar

Khoirul Anwar bersama anak-anaknya. (Foto: Dok. Khoirul Anwar)

Lulusan sarjana Teknik Elektro ITB tahun 2000 ini dikenal sebagai penemu prinsip dasar teknologi 4G. Ia menemukan terobosan konsep teknologi wireless itu saat melakukan penelitian di Nara Institute of Science and Technology (NAIST) Jepang pada 2005.

Lelaki asal Kediri itu juga sempat mendapat tawaran Permanent Residence dari pemerintah Jepang karena kontribusinya yang luar biasa di bidang telekomunikasi. Namun karena kecintaan kepada Indonesia, Khoirul menolak tawaran tersebut.

Mulyoto Pangestu

Mulyoto Pangestu (Foto: Dok. Mulyoto Pangestu)

Ilmuwan Indonesia yang lahir di Pekalongan, 11 November 1963, ini dikenal dunia karena berhasil menemukan evaporative drying, yaitu suatu kemasan penyimpanan sperma kering dan beku yang tidak membutuhkan penanganan khusus dan hasilnya dapat tetap dipakai walau telah disimpan bertahun-tahun.

Inovasi Mulyoto dianggap sebagai terobosan spektakuler karena ia menemukan cara efisien untuk menyimpan sperma dengan menggunakan bahan sedotan plastik khusus dan kantong aluminium foil khusus yang hanya berbiaya sekitar 50 sen AS.

Penemuan teknik penyimpanan sperma yang fenomenal itu telah membuat karier Mulyoto menanjak di Australia hingga ia menjadi dosen di sana.

Masih banyak ilmuwan Indonesia lain yang juga berprestasi dan memiliki penemuan di bidang masing-masing. Sebut saja Warsito Purwo Taruno, Rahmania Zein, Nelson Tansu, Ricky Elson, Randall Hartono Laksono, dan lain-lain.

Nah, bagaimana kisah lengkap tentang orang-orang hebat tersebut? Pengorbanan apa saja yang mereka lakukan demi mengejar mimpi dan mengharumkan nama bangsa?

Untuk mengetahui lebih lanjut cerita-cerita sukses Diaspora Indonesia dan penemuan-penemuan sains mereka, ikuti terus kumparan hari ini, Selasa (4/7). Anda juga bisa mengikuti topik “Diaspora Indonesia” dan “Sains” di kumparan.

Catatan: Dalam artikel ini sebelumnya disebutkan juga nama Dwi Hartanto. Tapi belakangan, kebohongan-kebohongan Dwi atas segala klaim prestasinya terbongkar. Selengkapnya terkait kebohongan Dwi dapat di baca di Skandal Dwi Hartanto: Ilmuwan Indonesia di Belanda.

Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
Bagikan ide, informasi, momen dan cerita kamu melalui
kumparan
Dengan ini kamu menyetujui syarat
& layanan dari kumparan
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: 1.1.38