kumparan
20 Nov 2017 11:30 WIB

Dokter Ini Selangkah Lebih Dekat untuk 'Curangi Kematian'

Prof. Sergio Canavero. (Foto: Facebook)
Nama Sergio Canavero dari Italia mulai tersohor ke seantero Bumi ketika dia menyatakan hendak melakukan transplantasi kepala manusia. Impiannya bisa jadi semakin dekat, setelah dia mengklaim telah menyelesaikan transplantasi kepala manusia yang sudah mati.
ADVERTISEMENT
Klaim capaian sukses melakukan transplantasi kepala antara dua mayat ini dia ungkapkan dalam sebuah jumpa pers di Wina, Austria, pada Jumat (17/11), yang kemudian dipublikasikan melalui akun Facebook pribadinya. Namun, sejauh ini Canavero tidak memberikan bukti pendukung klaimnya itu.
Dia berkata telah melepaskan kepala dari satu mayat dan menempelkannya ke tubuh mayat lain. Bukan cuma itu, dalam operasi yang berlangsung selama 18 jam itu, dia mengklaim juga menyatukan tulang belakang, saraf, dan pembuluh darah.
Di sini dia berupaya merangsang saraf mayat untuk melihatnya agar "bekerja" seperti pada manusia hidup pada operasi berikutnya.
"Transplantasi kepala pertama yang pernah dilakukan pada mayat manusia," kata Canavero dalam video konferensi pers yang unggah di Facebook.
ADVERTISEMENT
Dalam beberapa hari ke depan, Canavero menjanjikan bakal merilis makalah ilmiah untuk menjelaskan prosedur operasi sampai dengan peralatan pendukung yang digunakan.
Ia kemudian menjelaskan bahwa target selanjutnya adalah akan melakukan transplantasi kepala antara dua pasien yang mengalami 'kematian otak' sebelum kemudian mecoba melakukan aksi 'gilanya' pada pasien hidup yang mengalami kelumpuhan dari leher kebawah.
"Tujuan utama saya bukanlah transplantasi kepala. Tujuan utama saya adalah transplantasi otak," kata Canavero dilansir dari Science Alert, menjelaskan target utamanya.
Seperti tokoh fiksi ciptaan Mary Shelley yang bernama Victor Frankenstein, dirinya bercita-cita untuk "mencurangi kematian" dengan cara ekstrim tersebut.
"Saya tertarik dengan memperpanjang hidup manusia. Memperpanjang hidup dan menembus tembok pembatas antara hidup dan mati," kata Canavero, dikutip dari Business Insider.
ADVERTISEMENT
Sebelumnya, Canavero sempat dilibatkan oleh tim peneliti Harbin Medical University, China, untuk melakukan transplantasi kepala tikus yang dipasang ke tubuh seekor tikus lainnya. Usia dari tikus berkepala dua itu tak bertahan lama, karena cuma bisa hidup 36 jam setelah operasi dilakukan.
Di sisi lain, tim peneliti dari China ini berhasil menyelesaikan transplantasi kepala tikus tanpa ada kerusakan pada otak si tikus pendonor.
Kritik Keras
Cita-cita Canavero dalam melakukan transplantasi kepala mendapat kritikan dari rekan-rekan satu bidangnya akibat prosedur operasinya yang dianggap berdasarkan pada hasil eksperimen lab yang di mata para ahli masih sangat kurang memuaskan.
"Seperti loncatan yang terlalu jauh," kata James FitzGerald, konsultan ahli bedah saraf di Universitas Oxford, saat membicarakan hasil eksperimen lab Canavero dan penggunaannya pada prosedur operasi seperti dilansir dari Business Insider.
ADVERTISEMENT
Kritik yang lebih keras datang dari John Pickard, profesor bedah saraf Universitas Cambridge, yang menganggap bahwa jurnal tempat Canavero mempublikasikan hasil eksperimennya memiliki sebuah reputasi yang meragukan.
"Menurut saya dia belum melakukan sains (hasil eksperimen Canavero)," kata Pickard pada Business Insider.
Reporter: Sayid Muhammad Mulki Razqa
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan