Pencarian populer

Gagal Jantung dan Stroke Jadi Penyebab Utama Kematian Petugas KPPS

Ilustrasi sakit jantung Foto: Shutterstock
Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengungkap jenis penyakit yang menjadi penyebab utama kematian para petugas Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) Pemilu 2019. Menurut penjelasan Tri Hesti Widyastuti, perwakilan Dirjen Kementerian Kesehatan, gagal jantung dan stroke menjadi penyebab kematian yang paling banyak dialami petugas KPPS.
ADVERTISEMENT
"Data kematian berdasarkan penyakit paling banyak gagal jantung kemudian stroke," ujar Hesti, dalam acara diskusi 'Membedah Persoalan Kematian Mendadak Petugas Pemilu dari Perspektif Keilmuan', di Sekretariat IDI Menteng, Jakarta, Senin (13/5).
"Ini masih data sementara. Nanti kalau sudah selesai baru mungkin dipublikasi. Ini baru hasil autopsi verbal di 17 dari 34 provinsi," sambungnya.
Diskusi soal penyebab kematian petugas KPPS Pemilu 2019. Foto: Alfaddillah/kumparan
Selain kedua penyakit itu, Hesti menuturkan bahwa kecelakaan lalu lintas juga termasuk salah satu penyebab kematian utama petugas KPPS. Ia menambahkan bahwa berdasarkan lokasi, kejadian kematian banyak yang terjadi di luar rumah sakit.
Hesti menjelaskan kebanyakan kematian tidak terjadi pada hari pencoblosan 17 April. Menurutnya, kematian baru terjadi beberapa hari setelahnya, seperti 21 April dan setelahnya. Ia mengatakan bahwa masih ada beberapa penyebab kematian yang belum diketahui dan hal ini sedang diinvestigasi.
ADVERTISEMENT
Kematian akibat penyakit jantung
Anwar Santoso, dokter spesialis jantung dan pembuluh darah, menjelaskan bahwa kematian mendadak akibat serangan jantung terjadi setelah sekitar 9 menit. 50 persen korban bisa tertolong pada waktu 4,5 menit. Setelahnya, akan terjadi kegagalan jantung.
Menurut Anwar, kematian akibat gagal jantung terjadi karena tidak ada yang melihat dan menolong korban. Anwar menjelaskan bahwa yang menyebabkan serangan jantung terjadi bukan hanya karena kelelahan, tapi juga tekanan.
"Jika orang itu mempunyai bakat penyakit jantung koroner tentu meningkatkan risiko. Kelelahan tidak selalu sebagai faktor tunggal karena pasti ada faktor lain yang menjadi perantara," ujar Anwar, di acara yang sama.
"Selain itu, makin tua umur seseorang, risiko meninggal mendadak akibat serangan jantung akan lebih tinggi," imbuhnya.
ADVERTISEMENT
Anwar mengatakan kelelahan menjadi faktor pemicu. Karenanya, Anwar menuturkan kita tidak bisa menyebut bahwa kelelahan menjadi faktor tunggal penyebab gagal jantung.
Sementara itu, Rahmat Hidayat, Ketua Perhimpuanan Dokter Spesialis Saraf Indonesia, menjelaskan bahwa memang ada beberapa kasus pasien yang meninggal karena stroke. Tapi hal itu sangat jarang terjadi.
"Ketika bekerja keras, bisa terjadi sumbatan di otak. Banyak aktivitas membuat plak di pembuluh darah lepas ke arteri yang lebih jauh. Aktivitas fisik lebih dari 48 jam bisa menyebabkan stroke dan penurunan fungsi otak," kata Rahmat.
"Stroke bukan sesuatu yang hari ini sakit lalu meninggal. Stroke itu ujung, bukan pangkal. Misalnya (pasien penderita) hipertensi atau diabetes, ada atau tidak. Kalau sudah ada, dia kapan saja bisa terkena stroke," ungkapnya.
ADVERTISEMENT
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan dan Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: 1.1.80