kumparan
5 Agu 2019 10:53 WIB

Geologi ITB Klarifikasi Pesan Berantai Patahan Sunda Hampir Kritis

Ilustrasi Gempa. Foto: Pixabay
Dalam beberapa hari terakhir sebuah pesan berantai yang meresahkan menyebar di grup-grup aplikasi pesan seperti WhatsApp dan media sosial seperti Facebook. Pesan berantai tersebut menyebutkan bahwa akumulasi energi Patahan Sunda atau Sunda Megathrust hampir mencapai titik kritis.
ADVERTISEMENT
Kondisi kritisnya Patahan Sunda itu, menurut isi pesan berantai yang diklaim dari grup Geologi ITB tersebut, bisa memicu gempa besar dan bahkan memicu gempa dari patahan-patahan lain yang ada di wilayah Jabodetabek dan Bandung. Berikut isi lengkap pesan berantai tersebut.
Dari Group Geologi ITB : πŸ‘‡
jarak antar gempa semakin pendek dan tiba-tiba aktifnya gunung Tangkuban Perahu, bisa jadi merupakan indikasi akumulasi energi patahan sunda (sunda megathrust) hampir mencapai titik kritis. jika atas seizin Allah SWT tercapai titik tersebut, gempa yang selama ini dikhawatirkan dengan besar ~ 9 skala Richter berpeluang terjadi. bagi Jabodetabek, yang dikhawatirkan adalah aktifnya patahan tersebut memicu pula aktivitas patahan Baribas yang memanjang dari Pasar Rebo hingga Ciputat, serta patahan Lembang di Bandung. wallahu'alam. persiapan diri harus dilakukan sejak sekarang. afwan, bukan menakut-nakuti...πŸ™πŸ»πŸŒΉ
ADVERTISEMENT
Menanggapi isi pesan berantai yang meresahkan itu, Dekan Fakultas Ilmu Teknologi Kebumian Institut Teknologi Bandung (FITB ITB), Benyamin Sapiie, buka suara bahwa kabar yang diklaim dari grup Geologi ITB tersebut tidak benar. β€œBerita ini bukan dari Geologi ITB,” kata Guru Besar Teknik Geologi ITB tersebut, sebagaimana kumparan kutip dari keterangan tertulis Humas ITB, Senin (5/8).
Selain Benyamin, dosen Teknik Geologi ITB lainnya, yakni Mirzam Abdurrachman, juga turut memberikan klarifikasi dan penjelasan terkait kabar yang meresahkan tersebut. Mirzam mengatakan bahwa selepas kejadian erupsi freatik pada Gunung Tangkuban Parahu, memang banyak yang mengaitkan hal tersebut dengan kondisi Sesar Lembang. Namun menurut ahli vulkanologi ITB tersebut, belum pernah ada di dalam sejarah, gunung api bisa membangkitkan gempa tektonik dari patahan atau sesar.
ADVERTISEMENT
Lebih lanjut, pria bergelar doktor dari Akita University di Jepang tersebut menjelaskan bahwa gempa adalah pelepasan energi yang tiba-tiba. Jenisnya ada empat, yaitu gempa tektonik karena pergerakan lempeng atau patahan, gempa terban dari runtuhan gua dan lain-lain yang skalanya lokal, gempa karena tumbukan meteorit yang memiliki skala global, dan gempa vulkanik karena bergeraknya magma ke permukaan.
"Gunung api itu menimbulkan gempa vulkanik, tapi tidak pernah ada sejarahnya gempa vulkanik mengaktifkan sesar atau lempeng tektonik," tegasnya.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan