kumparan
8 Des 2018 15:03 WIB

Hati-hati, Berat Badan yang Naik Turun Berbahaya bagi Kesehatan

Jangan terobsesi dengan berat badan. (Foto: Thinkstock)
Pernahkah kamu melakukan diet dan rutin olahraga hanya untuk sementara waktu dan kemudian berhenti? Apakah akibat berhenti diet dan olahraga itu berat badanmu mengalami kenaikan?
ADVERTISEMENT
Sebagian orang mungkin terbiasa melakukan diet dan olahraga hanya di waktu-waktu tertentu, misalnya menjelang momen-momen yang dianggap penting seperti pernikahan dan hari kelulusan, tapi setelahnya melupakan diet dan olahraga tersebut.
Orang-orang yang memiliki kebiasaan seperti ini biasanya akan mengalami naik turun berat badan secara cepat.
Peningkatan Berat Badan (Foto: Thinkstock)
Yang perlu diperhatikan, berat badan yang naik turun seperti itu sebenarnya bisa berbahaya. Yakni bisa meningkatkan risiko terkena penyakit kronis.
"Bagi orang yang naik turun naik turun (berat badannya), itu yang bertambah banyak adalah lemaknya," kata dokter spesialis kesehatan olahraga, dr. Michael Triangto, Sp.KO, saat mengisi acara media briefing 'Ayo Indonesia Bergerak' di Ruang Publik Terpadu Ramah Anak (RPTRA) Borobudur, Menteng, Jumat (7/12).
Ia mencontohkan, misalnya orang yang memiliki berat 70 kilogram dan kemudian beratnya mengalami naik turun, maka komposisi lemak dalam tubuhnya tetap akan bertambah meskipun berat badannya tetap 70 kilogram.
ADVERTISEMENT
"Komposisi lemaknya lebih banyak daripada awal, dan komposisi ototnya jauh lebih sedikit daripada awal," ujar Michael.
dr. Michael Triangto, Sp.KO (Foto: Zahrina Yustisia Noorputeri/kumparan)
Michael mengatakan, menurut studi dari dr. Samuel Oetoro Sp.GK, dari Departemen Nutrisi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, berat badan yang naik turun dapat meningkatkan risiko sindrom metabolik dan penyakit kardiovaskular yang disebabkan oleh tumpukan lemak. Studi yang dimaksud adalah makalah berjudul "Effect of a Weight Loss Program on Body Composition and Metabolic Syndrome Markers in Obese Weight Cyclers" yang telah dipublikasikan di The Indonesian Journal of Internal Medicine.
Selain itu, Michael juga mengatakan bahwa berat badan yang naik turun bisa meningkatkan radikal bebas. "Radikal bebas adalah salah satu penyebab penyakit kronis, hipertensi, diabetes, termasuk jantung."
ADVERTISEMENT
Oleh karena itu, Michael mengatakan yang terpenting adalah dapat mempertahankan olahraga secara teratur dan menjaga pola makan secara konsisten. "Kalau kita mau hidup sehat, kita akan berjuang untuk hidup sehat seumur hidup, jadi terus (berolahraga)."
drg. Kartini Rustandi (Foto: Zahrina Yustisia Noorputeri/kumparan)
Dalam kesempatan ini Michael bersama Kartini Rustandi selaku Direktur Kesehatan Kerja dan Olahraga Kementerian Kesehatan, mengajak masyarakat untuk berolahraga dengan mengikuti prinsip BBTT. BBTT adalah singkatan dari baik, benar, terukur, dan teratur.
Baik berarti sesuai dengan waktu yang dianjurkan dan dengan menggunakan pearlatan serta perlengkapan olahraga yang sesuai. Benar berarti memilih olahraga yang sesuai dengan kegemaran, aman, dan sesuai dengan kondisi fisik pribadi.
Terukur berarti melakukan pengukuran nadi setiap akhir pelatihan untuk mengetahui apakah target denyut nadi sudah tercapai. Adapun teratur artinya olahraga dilakukan secara terus menerus agar hasilnya optimal.
ADVERTISEMENT
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan