kumparan
11 Des 2017 13:54 WIB

Ilmuwan Temukan Bukti Baru soal 'Gen Homoseksual'

Ilustrasi LGBT (Foto: TuendeBede/Pixabay)
Homoseksualitas memang masih menjadi perdebatan serius. Perdebatan mengenai homoseksual sangat berkaitan dengan masalah hak asasi manusia. Bagi mereka yang mendukung, homoseksual merupakan bagian dari kebebasan seksual, tetapi di tempat lain yang kontra terhadap hal ini, homoseksual dilarang karena alasan agama dan moral.
ADVERTISEMENT
Bagi para ilmuwan, homoseksual menimbulkan banyak tanda tanya. Apakah homoseksual benar-benar hanya karena pengaruh lingkungan? Atau ada faktor biologis yang menjadikan seseorang menyukai sesama jenis?
Baru-baru ini, ilmuwan mengklaim mereka menemukan bukti genetik dari homoseksual.
Alan Sanders, psikiater dari NorthShore University HealthSystem di Illinois, AS, meneliti 1.077 laki-laki penyuka sesama jenis dan 1.231 laki-laki heteroseksual (menyukai perempuan) keturunan Eropa. Setiap individu diambil sampel DNA dari darah dan liur untuk kemudian dianalisis.
Dari hasil isolasi varian genetik yang disebut sebagai single nucleotide polymorphisms (SNP), terdapat perubahan DNA di dekat kromosom 13 dan 14. Gen yang berada dekat dengan perubahan ini yang kemungkinan mempengaruhi orientasi seksual seseorang.
Varian kromosom 13 terletak di sebelah gen yang disebut SLITRK6, yang terdapat di wilayah diensefalon di otak. Wilayah ini memiliki ukuran yang berbeda, tergantung pada orientasi seksual seorang pria.
Ilustrasi LGBT (Foto: REUTERS/Fabian Bimmer)
Meski cara kerja dari SLITRK belum dipahami sepenuhnya, namun gen ini memiliki peran penting dalam perkembangan neuron dan dapat mempengaruhi ciri-ciri perilaku seseorang, bukan hanya orientasi seksualnya.
ADVERTISEMENT
Sementara di dalam kromosom 14 terdapat gen thyroid stimulating hormone receptor (TSHR). TSHR ini diduga dapat mempengaruhi orientasi seksual seseorang karena dapat membuat hipokampus (bagian otak yang terdapat di otak besar) memproduksi tiroid yang tidak biasa.
Penelitian Homoseksualitas Selalu Picu Kontroversi
Percobaan untuk memecahkan misteri gen pada penyuka sesama jenis memang sudah dilakukan beberapa kali sebelumnya, namun percobaan semacam ini biasanya berujung dengan kontroversial.
Pada 2015 lalu, sebuah penelitian dilakukan oleh ilmuwan University of California, Los Angeles, dan mereka mengklaim telah menemukan rumusan algoritma yang dapat melihat orientasi seksual seseorang dengan ketepatan hingga 70 persen. Penelitian ini mengundang banyak kontroversi dan akhirnya tidak pernah dipublikasi.
LGBT (Foto: Pixabay)
Sementara bulan September lalu, penelitian lain dari Stanford University juga menimbulkan kontrovesi karena mengklaim mereka menciptakan AI (Artificial Intelligence) yang dapat memperkirakan orientasi seksual seseorang hanya dengan melihat fotonya.
ADVERTISEMENT
Penemuan itu membuat organisasi pendukung kesetaraan seksual GLAAD (Gay & Lesbian Alliance Againts Defamation) dan Human Rights Campaign (HRC) marah dan mengatakan penemuan ini berbahaya bagi kaum LGBTQA (Lesbian, Gay, Bisexual, Transgender, Queer, and Asexual).
Saat ini, penemuan mengenai pengaruh genetis terhadap homoseksualitas memang belum dianggap sebagai bukti konkret, terlebih lagi karena sampel penelitian hanya diambil dari kelompok keturunan Eropa saja.
Namun, bagi para ilmuwan seksualitas, penemuan ini sudah membawa mereka semakin dekat untuk membuktikan adanya pengaruh biologis pada orientasi seksual seseorang.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan