kumparan
3 Mei 2018 7:32 WIB

Ilmuwan Temukan Bukti Keberadaan Kerajaan Nabi Daud

Studi arkeologi Kerajaan Nabi Daud. (Foto: Avraham Faust)
Baik dalam agama Islam, Kristen, maupun Yahudi, Nabi Daud terkenal karena melawan Goliat alias Jalut. Pada akhirnya, pertempuran itu dimenangkan oleh Daud.
ADVERTISEMENT
Dikisahkan setelah memenangkan pertempuran itu, Daud kemudian menjadi Raja Israel dan menyatukan bagian Kerajaan Yehuda di selatan dengan Kerajaan Israel di utara. Keberadaan kerajaan yang disebut Kerajaan Daud itu sampai kini masih menjadi perdebatan.
Catatan sejarah menyebutkan, Kerajaan Daud berdiri pada abad 10 Sebelum Masehi (SM), tapi hal ini pun masih diperdebatkan.
Dilansir Science Alert, baru-baru ini sebuah studi arkeologi menemukan bukti bahwa Kerajaan Daud pernah berkuasa dan menyatukan Israel di bawah naungan satu penguasa.
Arkeolog Avraham Faust dan Yair Sapir dari Bar Ilan University di Israel baru saja mempublikasikan hasil penanggalan karbon dari penemuan arkeologis di situs Tel ‘Eton yang ternyata berasal dari abad 11 SM dan 10 SM.
ADVERTISEMENT
Bukti arkeologis ini diperkirakan berasal dari tempat tinggal gubernur Israel pada masa itu yang kemudian dihancurkan oleh invasi Kerajaan Asyura pada abad 8 SM.
Studi arkeologi di Israel. (Foto: Bar-Ilan University)
Menurut peneliti, penemuan ini membuktikan ada seorang gubernur Israel yang pernah menguasai kota Yudea pada masa tersebut.
“Sampai 25 tahun yang lalu, tidak ada yang meragukan bahwa Raja Daud adalah tokoh sejarah,” kata Avraham Faust kepada Breaking Israel News. “Namun 25 tahun belakangan, banyak yang mempertanyakan fakta sejarah dari Daud dan kerajaannya.”
Tel ‘Eton terletak di tengah-tengah antara Gaza dan Yerusalem dan merupakan situs arkeologi terbesar di wilayah Yehuda. Pada suatu masa, di wilayah ini dibangun bangunan administratif di Tel ‘Eton hingga akhirnya dihancurkan menjelang abad ke 8 saat pendudukan Asyura.
ADVERTISEMENT
Pertanyaannya sekarang, kapan bangunan tersebut didirikan?
Beberapa petunjuk ditemukan di sekitar reruntuhan bangunan tersebut, misalnya tulang binatang dan sisa keramik, yang bisa digunakan untuk penanggalan karbon.
Tim arkeologi kemudian menggali lebih dalam dan mengambil sampel dari lantai dan fondasi untuk mengekstrak bahan organik potensial yang dapat mereka uji, termasuk arang dan lubang zaitun.
Dengan menggunakan barang-barang ini, mereka memperkirakan bahwa batu lantai yang paling baru yang diletakkan pada bangunan ini dipasang pada 921 SM, dan konstruksi awal diperkirakan terbentuk antara akhir abad 11 SM dan kuartal ketiga abad 10 SM, waktu yang diduga merupakan periode ketika Raja Daud berkuasa.
Namun begitu, dugaan bahwa penemuan reruntuhan ini merupakan bukti dari keberadaan kerajaan Daud masihlah diperdebatkan.
ADVERTISEMENT
“Kami tentu saja tidak menemukan artefak yang bertuliskan ‘Raja Daud’ atau ‘Raja Sulaiman’, tetapi kami menemukan pertanda adanya transformasi sosial di wilayah tersebut pada saat terjadinya perubahan dari budaya Kanaan ke budaya Yahudi,” jelas Faust.
"Karena bangunan ini didirikan pada saat yang sama dengan waktu yang kami yakini sebagai masa Kerajaan Daud mulai menyebar ke wilayah ini, jelas bahwa bangunan ini adalah bagian dari peristiwa dalam Alkitab yang dianggap berasal dari Kerajaan Daud," simpulnya.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·