kumparan
30 Apr 2018 14:48 WIB

Jokowi Sebut Racun Kalajengking Mahal, Ini Manfaat Cairan Tersebut

Jokowi sebut racun kalajengking mahal (Foto: Chandra Dyah Ayuningtyas/kumparan)
Kalajengking, mendengar namanya saja sudah membuat kita merasa ngeri, apalagi harus menggunakan racunnya sebagai obat. Namun itulah yang berhasil dilakukan para peneliti.
ADVERTISEMENT
Sebagaimana yang disebutkan Jokowi, racun kalajengking ini berharga sangat mahal, yakni mencapai 10 juta dolar AS per liter.
Disebut sebagai salah satu cairan paling mahal di dunia, ternyata racun tersebut mengandung protein berharga yang berpotensi untuk digunakan dalam pengobatan penyakit autoimun, seperti radang usus, artritis reumatoid dan multiple sclerosis.
Tak hanya sebagai obat penyakit autoimun, sekarang ini racun tersebut juga sedang dikembangkan agar bisa menjadi sebagai salah satu obat untuk menyembuhkan kanker.
Ilustrasi kanker (Foto: THINKSTOCK)
Benjamin Burke, peneliti dari University of Hull, Inggris menuturkan bahwa diperkirakan 40 persen obat-obatan yang sudah diakui secara klinis berasal dari senyawa yang berasal dari alam. Salah satunya yang kini sedang diupayakan oleh para peneliti adalah penggunaan zat dalam racun kalajengking dari Kalajengking Kuning Brasil atau Tityus serrulatus sebagai obat untuk kanker.
ADVERTISEMENT
Dalam penjelasan Burke di The Conversation, racun dari kalajengking tersebut mengandung peptida yang dikenal sebagai TsAP-1. Kandungan tersebutlah yang peneliti sebut bersifat anti mikroba dan anti kanker.
Ilustrasi kalajengking. (Foto: Pexels via Pixabay)
Sebenarnya untuk benar-benar bisa memanfaatkan racun mematikan ini sebagai obat masih terbilang sulit. Hal ini karena racun tersebut dapat membunuh sel-sel tumor dan sel-sel tubuh yang sehat.
Namun begitu, ada suatu metode untuk mengontrol racun tersebut, yaitu dengan menggunakan nanoteknologi yang bisa mengantarkan racun tersebut ke jaringan tubuh yang sakit. Dan hal tersebut telah dicoba oleh peneliti Dipanjan Pan dari University of Illinois dalam studinya yang dipublikasikan di jurnal Chemical Communications.
Pan mengklaim berhasil menciptakan semacam kapsul bernama NanoVenin yang berisikan racun TsAP-1 itu. Kapsul ini ia sebut dapat meningkatkan efektivitas obat dalam membunuh sel kanker payudara hingga 10 kali lipat.
ADVERTISEMENT
Apa yang ia lakukan ini membuka harapan baru bagi pengembangan obat melawan penyakit yang tak terbatas pada kanker saja. Sebab, obat yang Pan kembangkan tidak spesifik pada suatu penyakit tertentu.
Ilustrasi kanker (Foto: Thinstock)
Jadi, para peneliti dapat melakukan modifikasi pada bagian luar kapsul NanoVenin untuk membantu mengantarkan obat ke bagian spesifik tubuh yang sedang sakit.
Sebagai contoh, para peneliti dapat menempelkan suatu jenis protein yang bisa membawa obat tersebut ke jenis kanker tertentu dan kemudian dengan bantuan nanopartikel serta lapisan yang bisa larut di tubuh, racun tersebut dapat dilepaskan di daerah yang sakit.
Selain sebagai obat, Raymond John St. Leger, seorang ahli ilmu serangga di University of Maryland di College Park, juga menyetujui bahwa racun kalajengking ini memiliki potensi besar untuk membantu manusia dalam hal lainnya, yakni sebagai racun serangga.
ADVERTISEMENT
"Ini adalah salah satu sumber daya besar yang tersedia secara alami bagi kita," kata St. Leger. "Racun ini memiliki suatu masa depan yang cerah, dan sebagian besarnya tidak bisa kita prediksi," tambahnya dilansir Science News for Students.
St. Leger menyebut racun kalajengking dapat digunakan sebagai racun serangga yang aman bagi manusia sehingga bisa menjadi produk pengganti pestisida tradisional yang selama ini banyak digunakan oleh para petani. Pasalnya, pestisida tradisional terbuat dari zat kimia yang berbahaya bagi seluruh makhluk hidup sehingga sebenarnya tidak aman untuk digunakan.
Adapun pestisida yang terbuat dari racun kalajengking ini disebut akan lebih aman secara lingkungan karena mereka akan mengalami penguraian di tanah. Jadi, pestisida ini tidak akan mencemari air ataupun makanan.
ADVERTISEMENT
"Mereka (racun kalajengking) punya potensi besar (untuk jadi pestisida)" ujar St. Leger. Yang perlu ditemukan sekarang, menurutnya, adalah bagaimana cara penggunaan atau sistem pengantaran pestisida berbahan racun kalajengking ini ke tanaman.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan