kumparan
15 Mar 2019 12:50 WIB

Kasus Pembunuhan Bayi 1981 Akhirnya Terpecahkan Berkat Teknologi DNA

Lokasi pembuangan bayi laki-laki di Sioux Falls pada Februari 1981. Foto: Sioux Falls Police Department
Pada suatu hari di musim dingin di bulan Februari 1981, seorang bayi laki-laki yang baru lahir ditemukan di sebuah parit di Sioux Falls, South Dakota, Amerika Serikat. Bayi itu ditemukan dalam kondisi mengenaskan. Dia telah meninggal akibat paparan cuaca beku.
ADVERTISEMENT
Saat ditemukan, si bayi terbungkus selimut bernoda darah. Tidak ada orang yang melaporkan kehilangan si bayi. Ujung-ujungnya, kasus ini terhenti dan mentok di ujung jalan.
Sekarang, berkat database silsilah baru dan tes DNA konsumen, kasus tragis ini hampir bisa selesai. Ibu dari bayi itu, perempuan 57 tahun bernama Theresa Rose Bentaas, telah ditangkap kepolisian pada Jumat pagi, 8 Maret 2019. Pada 1981 lalu, usia Theresa masih 19 tahun.
Kini Theresa menghadapi dakwaan pembunuhan tingkat pertama dan pembunuhan tingkat kedua.
Dalam konferensi pers pada hari Jumat tersebut, Departemen Kepolisian Sioux Falls menjelaskan bagaimana perkembangan kasus ini berjalan. Tubuh bayi itu, yang dikenal sebagai Andrew John Doe, digali dari kuburan pada September 2009 dan para ilmuwan dari University of North Texas berhasil mendapatkan DNA-nya.
ADVERTISEMENT
Tim detektif mencoba mencocokkan DNA bayi ini dengan DNA yang ditemukan di basis data kriminal mereka, tetapi tidak berhasil. Sisa-sisa bayi kemudian dimakamkan kembali pada Juni 2010.
Theresa Rose Bentaas, terduga pelaku pembunuhan pada 1981. Foto: Minnehaha County Jail
Belasan tahun kemudian, tim kepolisian memberikan DNA bayi itu kepada Parabon NanoLabs. Parabon NanoLabs adalah perusahaan swasta dengan rekam jejak luar biasa dalam memecahkan kasus yang sempat buntu menggunakan data genetik open-source yang diperoleh melalui situs genealogi alias silsilah garis keturunan keluarga banyak orang.
"Mereka dapat menentukan beberapa pohon keluarga untuk kami," kata Detektif Michael Webb kepada wartawan di konferensi pers, sebagaimana dilansir IFLScience.
"Yang menarik, banyak pohon keluarga ini kembali ke Sioux Falls," ujarnya.
Sejak semula para detektif telah berteori bahwa pembunuhan ini kemungkinan besar dilakukan oleh anak muda yang melahirkan di luar nikah. Dengan menggunakan informasi genetik, mereka dituntun ke sejumlah pohon keluarga yang berisi orang-orang yang berusia 18 atau 19 pada saat kejahatan terjadi. Penelitian lebih lanjut dan bukti genetik menunjukkan identitas orang tua bayi yang meninggal itu ternyata masih tinggal di Sioux Falls.
ADVERTISEMENT
Polisi kemudian meringkus dan mewawancarai kedua orang tua bayi itu. Sang ibu kemudian didakwa melakukan pembunuhan si bayi. Sementara sang ayah tidak didakwa karena dia tidak mengetahui kelahiran dan kematian anak laki-lakinya itu.
"Saya tahu ini terdengar klise, tetapi kami tidak berhenti pada [kasus] ini,” ucap Detektif Webb.
Menurutnya butuh “determinasi tinggi” dan sikap “keras kepala” untuk memecahkan kasus yang telah mulur selama puluhan tahun ini. Tentu saja determinasi dan keras kepala ini perlu dipasangkan dengan ilmu pengetahuan dan silsilah DNA untuk membantu memecahkannya.
Yang menarik, ini bukan pertama kalinya situs genealogi dan teknologi DNA digunakan untuk memecahkan kasus yang sempat mentok. Tahun lalu polisi menggunakan metode serupa untuk menangkap Joseph James DeAngelo yang bertanggung jawab atas 12 pembunuhan dan 51 pemerkosaan pada tahun 1970-an dan 80-an.
ADVERTISEMENT
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan