kumparan
10 Feb 2018 15:17 WIB

Kegagalan Anestesi, Tersadar Sebelum Waktunya

Ilustrasi operasi otak. (Foto: Freepik)
Apa rasanya jika kamu terbangun saat operasi, sebab obat bius totalmu tak sepenuhnya bekerja?
ADVERTISEMENT
Rasa sakit luar biasa menjalar ke seluruh tubuh. Namun, kita tak mampu berkutik dan tak bisa berbuat apa-apa untuk hentikan proses operasi yang tengah berjalan.
“Aku ingat saat itu dibawa ke meja operasi. Suami dan bidan berdiri di sebelahku, lalu aku tertidur--hingga akhirnya terbangun dan merasakan rasa sakit yang luar biasa. Perutku seperti dilindas truk berulang kali,” kata Rachel Benmayor dalam wawancara dengan The Guardian (9/2).
Peristiwa itu terjadi pada 1990, saat ia menjalani operasi caesar untuk melahirkan anaknya. Telah 28 tahun berlalu, tetapi Rachel masih ingat setiap pedih yang ia rasakan.
Suntikan anestesi pada dasarnya diberikan pada para pasien yang akan menjalani rangkaian prosedur operasi, terutama operasi organ dalam. Obat anestesi bekerja pada pusat sistem kesadaran manusia. Obat ini mempengaruhi membran dalam sel saraf untuk sejenak berhenti merespons--tidak sadarkan diri.
Ilustrasi suntikan (Foto: Shutter Stock)
Walau begitu, para ahli masih belum mengetahui apa yang sepenuhnya terjadi pada tubuh dan kesadaran manusia saat suntikan anestesi diberikan. Sebab, dalam beberapa peristiwa, dua orang disuntik dengan kadar obat bius yang sama dapat merespons dengan berbeda--durasi tidur yang bisa jadi lebih cepat atau lebih lama jika dibandingkan satu sama lain.
ADVERTISEMENT
Seturut berkembangnya penelitian medis, obat bius kini mengandung tiga elemen: hipnotik yang membuat pasien tak sadarkan diri selama proses operasi; analgesik untuk mengontrol rasa sakit; dan relaksan otot yang berfungsi untuk menghindari pasien bergerak di atas meja operasi.
Obat-obatan bersifat hipnotik, semisal dinitrogen oksida, dianggap sebagai kandungan obat dengan efek sangat kuat. Ia mampu membuat pasien tak sadarkan diri dalam kurun waktu cukup lama.
Semakin banyak suntikan obat bius yang diberikan para dokter, maka semakin lama pula pasien tak sadarkan diri. Namun, tidak menutup kemungkinan lama pengaruh obat bius tak seperti yang diperkirakan. Pasein mungkin terbangun saat pisau dan gunting membelah tubuhnya.
Ilustrasi bedah. (Foto: Pixabay - marionbrun)
“Aku bisa mendengarkan suara-suara, namun tak bisa bernapas. Aku tak sanggup menghadapi rasa sakitnya,” papar Rachel. Dan--kabar buruknya--Rachel bukanlah satu-satunya.
ADVERTISEMENT
Sebuah studi yang di lingkup Eropa dan Amerika menemukan satu hingga dua dari 1.000 pasien pernah terbangun saat operasi. Angka ini diduga terjadi lebih tinggi di China dan Spanyol. Di Amerika Serikat, misalnya, setidaknya 20 dari 40 ribu pasien mengaku terbangun saat tengah menjalani operasi.
Terma ‘anestesi’ pertama kali diperkenalkan oleh dokter asal Inggris Oliver Wendell Holmes pada 1846, untuk menjelaskan efek obat yang ia pakai saat melakukan prosedur operasi di hadapan publik. Obat anestesi--atau obat bius--pun dikembangkan, sehingga efeknya dapat disesuaikan dengan kebutuhan prosedur yang dijalankan, seperti misalnya obat bius lokal di bagian tubuh tertentu, hingga bius umum yang membuat pasien tak sadarkan diri.
Penggunakan obat bius terus memperhatikan keamanan dan ketepatan prosedur. Para ahli anestesi pun terus mengumpulkan dokumen riwayat medis dari waktu ke waktu guna mengkaji dan menemukan prosedur anestesi paling tepat dan sesuai dengan kebutuhan medis terkait.
ADVERTISEMENT
Prosedur umum untuk membius kerap dipahami dengan ‘membuat pasien tertidur lelap’. Namun sesungguhnya, apa yang terjadi pada tubuh bukanlah tertidur, melainkan tak sadarkan diri--sistem saraf yang sementara tak aktif merespons dan lebih sedikit ‘mengambil’ oksigen. Situasi yang berbeda dengan kondisi tidur, ketika sistem saraf masih aktif merespons dan otak tetap mengambil oksigen.
Ilustrasi operasi (Foto: pixabay)
Trauma berkepanjangan, bisa berujung kematian
Bagi Rachel, pengalaman terbangun di tengah operasi membuatnya begitu mudah panik, hingga harus menjalani terapi dengan psikiater dalam jangka waktu yang cukup lama.
Berminggu-minggu pascaoperasi, Rachel pernah tiba-tiba merasakan sesak dan panik seakan tak bisa bernapas. Pihak rumah sakit telah mengakui kesalahan prosedur yang dijalankan saat operasi. Akan tetapi Rachel menyatakan tak ada bantuan maupun kompensasi bagi dirinya.
ADVERTISEMENT
“Aku berada dalam kondisi yang begitu buruk,” katanya.
Terbangun di tengah operasi dapat berdampak buruk secara psikologis terhadap pasien. Rasa sakit yang luar biasa, ketidakmampuan untuk bernapas karena berada dalam kondisi tidak sadar, hingga halusinasi yang dialami oleh pasien dapat berujung pada serangan panik akut dan trauma mendalam.
Bayang-bayang rasa sakit dapat membuat pasien sulit tidur, walau operasi yang ia jalani telah berlalu, berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan lalu.
Selain efek psikologis, kesalahan prosedur pemberian obat bius dapat berdampak pada kesehatan pasien sendiri, menyebabkan stroke hingga gagal hati. Komplikasi ini cenderung ditemukan pada pasien yang memiliki masalah kesehatan cukup parah dan mereka yang berusia senja.
Bahkan, kesalahan prosedur dalam memberikan obat bius dapat berujung pada kematian pasien.
Stroke (Foto: Thinkstock)
Sebuah penelitian yang digarap University of Sydney menjelaskan setidaknya terdapat satu dari 20 ribu kasus pada akhirnya berakhir meninggal dunia.
ADVERTISEMENT
Walau begitu, penelitian medis yang semakin baik dari masa ke masa berhasil menurunkan angka kasus kegagalan obat bius. Dalam kurun waktu 30 tahun terakhir, kasus kegagalan obat bius menurun; semula satu dari 100 kasus menjadi satu dari 1.000 kasus. Kasus kematian akibat kegagalan pun turut menurun dari satu dari 20 ribu kasus menjadi satu dari 200 ribu kasus.
Terdapat beberapa isu terkait bagaimana otak bekerja saat berada di bawah efek obat bius. Ahli anestesi dr. Barry Friedberg mengatakan pentingnya monitor kerja otak pasien secara teliti sebelum maupun saat operasi berjalan.
“Memonitor keaktifan atau kerja otak menjadi penting untuk memastikan ketidaksadaran pasien, sehingga tubuhnya ‘siap’ untuk dioperasi,” kata Friedberg pada CNN Health (17/5/2010).
ADVERTISEMENT
Pemantauan keaktifan kerja otak tersebut diukur dalam skala 0 hingga 100--semakin tinggi angkanya, maka semakin tinggi tingkat kesadaran pasien. Umumnya, obat bius akan membuat kesadaran pasien berada di jarak angka 45 hingga 60.

There might be “part of our existence that cannot ever be shut down, which we cannot even conceive by ourselves” – a “subconscious self” that might be resistant to even high doses of anaesthetics.

- Jiro Kurata, ahli anestesi Jepang.

Dokter anestesi akan memantau napas dan tekanan darah pasien secara hati-hati, yang bisa meningkat dan turun sewaktu-waktu, saat pasien berada di bawah pengaruh obat bius. Hal ini dilakukan untuk mengukur perlu atau tidaknya dosis tambahan diberikan pada pasien tersebut, serta memastikan pasien tetap berada dalam kondisi tidak sadar hingga operasi usai.
ADVERTISEMENT
Insiden gagalnya pemberian obat bius umumnya memang terjadi pada operasi-operasi tertentu, seperti operasi yang bersifat mendadak atau darurat. Namun, tentu saja, seiring perkembangan teknologi dan penelitian medis, insiden semacam ini terus dikaji dan dihindari dengan berbagai temuan.
Seorang ahli anestesi dari Jepang, Jiro Kurata, menuturkan bagaimana manusia, walau dalam pengaruh obat tidur, masih memiliki kesadaran meski dalam tingkat yang begitu rendah.
“Ada bagian dari diri kita yang tidak akan pernah bisa ‘dinon-aktifkan’--alam bawah sadar--yang resisten terhadap obat bius,” tulis Jiro.
Ia menyebutkan, isu ini adalah masalah terberat yang harus dituntaskan oleh para ahli anestesi terkait kasus terbangunnya pasien di tengah operasi.
“Adakah solusi untuk hal ini--sebut saja, sains? Ada dan tidak. Teknik pemantauan kerja otak? Bisa jadi berhasil, bisa jadi tidak. Bagaimanapun, kita harus menyadari adanya batasan teknologi dan sains, serta terus ingat bahwa ada sisi manusia dan alam kesadarannya yang tak bisa sembarangan ditembus oleh teknologi dan sains,” simpulnya.
ADVERTISEMENT
===============
Simak ulasan mendalam lainnya dengan mengikuti topik Outline!
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·