Pencarian populer
25 Desember 2018 13:30 WIB
0
0
Kesepakatan BMKG, BIG, BPPT, dan LIPI soal Tsunami di Selat Sunda
Kondisi di Kalianda, Lampung yang porak poranda setelah diterjang tsunami. (Foto: Dok. Istimewa)
Tsunami setinggi kurang dari satu meter menyapu wilayah pesisir Banten dan Lampung Selatan pada Sabtu (22/12) pukul 21.27 WIB. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat, sampai Selasa (25/12) setidaknya ada 429 orang yang meninggal dunia, ratusan orang lainnya hilang hilang, dan ribuan orang luka-luka dan mengungsi akibat tsunami tersebut.
Berselang sehari setelahnya, Minggu (23/12), Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman bersama Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Badan Informasi Geospasial (BIG), Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), dan Badan Geologi mengadakan rapat khusus selama sekitar 2,5 jam sejak pukul 18.30 sampai 21.00 WIB.
Gambar udara kondisi pesisir Pantai Tanjung Lesung yang di terjang tsunami. (Foto: Dicky Adam Sidiq/kumparan)
Kepastian status tsunami dan penyebabnya
Dari hasil rapat bersama ini, disepakatilah sejumlah hal, antara lain mengenai penyebab tsunami di Selat Sunda tersebut. Berdasarkan data tide gauge (alat pengukur ketinggian gelombang air laut) pada 22 Desember 2018 sekitar pukul 22.00 WIB yang diperoleh BMKG, 4 tide gauge yang dipasang di sekitar Selat Sunda ternyata mencatat adanya anomali permukaan air laut yang diyakini sebagai tsunami.
“Tsunami yang terjadi bukan disebabkan oleh gempa bumi tektonik, namun akibat longsor (flank collapse) di lereng Gunung Anak Krakatau akibat erupsi Gunung Anak Krakatau,” begitulah hasil kesepahaman antara keenam institusi tersebut sebagai tertulis dalam siaran pers bersama yang kumparan terima.
Bagian Gunung Anak Krakatau yang mengalami longsor tersebut adalah kepundan atau kawah di sisi barat daya seluas 64 hektare. BPPT telah merilis gambar-gambar hasil citra satelit yang memperlihatkan perubahan kondisi Gunung Anak Krakatau sebelum dan sesudah terjadinya longsor yang menyebabkan terjadinya tsunami tersebut.
Perbandingan citra satelit sebelum dan sesudah longsor Krakatau. (Foto: Data Satelit Radar Sentinel-1A orbit dan BPPT)
Perbandingan citra satelit sebelum dan sesudah longsor Krakatau. (Foto: Data Satelit Radar Sentinel-1A orbit dan BPPT)
Longsor dan erupsi Anak Krakatau
Kejadian longsornya bagian Anak Krakatau ini ternyata telah tercatat di sensor seismograf BMKG di Cigeulis Pandeglang (CGJI) pada pukul 21.03 WIB dan beberapa sensor lain di Lampung (LWLI, BLSI), Banten (TNG/TNGI, SBJI), Jawa Barat (SKJI, CNJI, LEM). Setelah dianalisis oleh BMKG, getaran atau gempa vulkanik yang ditimbulkan oleh longsoran ini setara dengan kekuatan 3,4 magnitudo dengan episenter di Gunung Anak Krakatau.
“Faktor penyebab lepasnya material di lereng anak krakatau dalam jumlah banyak adalah tremor aktivitas vulkanik dan curah hujan yang tinggi di wilayah tersebut,” tertulis dalam siaran pers tersebut. Longsoran ini terjadi sebagai akibat lanjut dari erupsi Gunung Anak Krakatau.
Sejak 21 Desember lalu, tepatnya pada pukul 13.51 WIB, Badan Geologi mencatat adanya erupsi pada Anak Krakatau sehingga mengumumkan bahwa status gunung tersebut telah meningkat ke level Waspada. Dan pada 22 Desember pukul 21.03 WIB Badan Geologi kembali mencatat adanya erupsi lagi di Anak Krakatau.
Bukti-bukti yang mendukung bahwa tsunami di Selat Sunda terjadi akibat longsor di Anak Krakatau yang dipicu oleh erupsi gunung tersebut antara lain adalah hasil perbandingan citra satelit sebelum dan sesudah tsunami yang memperlihatkan 64 hektare lereng barat daya Gunung Anak Krakatau runtuh dan model inversi 4 tide gauge yang memperlihatkan bahwa sumber energi tsunami berasal dari selatan Anak Krakatau tersebut.
Gambar dari udara kondisi Anak Gunung Krakatau. (Foto: Dicky Adam Sidiq/kumparan)
Telah diprediksi sebelumnya
Hasil riset BPPT dan Universitas Blaise Pascal, Prancis, yang telah dipublikasikan di jurnal internasional pada 2013 lalu, sebenarnya telah menjelaskan bahwa longsoran Gunung Anak Krakatau memang bisa menyebabkan tsunami di perairan Indonesia. Riset tersebut mengutip studi ilmiah yang dibuat Thomas Giachetti dari University of Oregon yang telah dipublikasikan pada 2012 lalu yang menyebut sisi barat daya Anak Krakatau sangat mungkin mengalami longsor.
Hasil simulasi yang Giachetti lakukan menunjukkan bahwa kolom material sebesar 0,28 kilometer kubik di Anak Krakatau bisa ambrol ke dasar laut. Data simulasi itu memperkirakan ketinggian tsunami maksimal 1,4 meter di Anyer; 3,4 meter di Carita; 2,7 meter di Kalianda; 0,3 meter di Bandar Lampung.
Simulasi longsor yang bisa terjadi di Gunung Anak Krakatau (Foto: Dok. Thomas Giachetti )
Tsunami yang tercatat oleh tide gauge BIG pada 22 Desember lalu memang memiliki ketinggian lebih kecil dibanding hasil simulasi Giachetti, tapi lokasi-lokasi yang peneliti asing sebutkan bisa terdampak tsunami akibat ambrolnya bagian Anak Krakatau tersebut sungguh tepat.
BIG mencatat pada 22 Desember lalu telah terjadi tsunami setinggi 0,9 meter di Stasiun Marina Jambu, Cinangka; 0,35 meter di Stasiun Ciwandan, Anyer; 0,36 meter di Stasiun Kota Agung; dan 0,28 meter di Stasiun Pelabuhan Panjang, Bandar Lampung.
Catatan tinggi gelombang di Banten saat tsunami (Foto: Dok. BIG)
Catatan tinggi gelombang di Banten saat tsunami (Foto: Dok. BIG)
Tindak lanjut
Dalam rapat bersama selama 2,5 jam itu, keenam institusi tersebut telah menyepakati akan melakukan beberapa tindak lanjut. Salah satunya, BIG direkomendasikan untuk memasang tide gauge di kompleks Gunung Anak Krakatau.
Tak hanya BIG yang mendapat tugas khusus setelah kejadian tsunami ini, Badan Geologi, BPPT, dan LIPI juga punya tugas baru. Dalam hasil rapat itu, ketiga institusi tersebut dianjurkan untuk segera melakukan survei geologi kelautan dan batimetri di kompleks Gunung Anak Krakatau. Bahkan khusus untuk BPPT, mereka juga mendapat arahan lainnya untuk segera melakukan survei udara dengan drone terhadap kondisi kompleks Gunung Anak Krakatau.
Gambar dari udara kondisi Anak Gunung Krakatau. (Foto: Dicky Adam Sidiq/kumparan)

Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember · · ·
Bagikan ide, informasi, momen dan cerita kamu melalui
kumparan
Dengan ini kamu menyetujui syarat
& layanan dari kumparan
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2018 © PT Dynamo Media Network
Version: web: