Pencarian populer

Kisah Horor nan Sadis dari Rumah Sakit di China

Ilustrasi rumah sakit Foto: Pxhere

Ada kisah horor nan sadis dari China. Banyak rumah sakit dan penjara di China yang ternyata terlibat dengan praktik transplantasi organ yang ilegal dan dilakukan dengan cara yang cukup sadis.

Beberapa penjara di China bahkan ada yang menjelma jadi "kebun organ" dan "memanen" organ dari para tahanan yang dieksekusi mati dengan paksa. Lebih parahnya lagi, banyak tahanan di sini yang bukan pembunuh atau pemerkosa. Mereka menjadi tahanan karena perbedaan pandangan politik atau agama yang mereka anut.

Kisah ini mulai terungkap ketika salah seorang dokter memberikan testimoninya di hadapan Kongres AS pada 2001. Dokter itu bernama Wong Guoqi yang pernah bekerja sebagai dokter militer China di Provinsi Hebei pada Oktober 1995.

Guoqi mengaku melihat langsung praktik kejam ini. Menurut pengakuannya, ia melihat para tahanan eksekusi mati. Ketika para tahanan yang dieksekusi berada dalam napas terakhirnya, para dokter langsung membawanya ke tempat di mana organ 'dipanen' untuk kepentingan transplantasi.

"Pekerjaan saya waktu itu membuat saya untuk mengangkat kulit dan kornea dari mayat ratusan tahanan hukuman mati, dan terkadang, dari korban yang eksekusi matinya sengaja digagalkan," ungkap dia pada 2001, seperti dilansir IFL Science.

Ilustrasi organ tubuh manusia. Foto: Geralt via Pixabay (CC0 Creative Commons)

Ada juga sebuah laporan bernama Kilgour-Matas yang mengungkap temuan horor ini pada 2006-2007 lalu. Ini adalah hasil investigasi David Kilgour, yang kala itu anggota parlemen Kanada, dan David Matas, seorang aktivis HAM Kanada.

Laporan itu berisi keterangan dari mantan istri dari seorang dokter yang terlibat aksi mengerikan ini. Dokter itu mengangkat 2.000 kornea dari tubuh tahanan eksekusi mati Falun Gong, salah satu aliran kepercayaan di China.

"Biasanya para pengikut Falun Gong diberikan suntikan penyebab gagal jantung. Saat proses berlangsung orang-orang ini dibawa ke ruang operasi untuk diambil organnya," kata perempuan itu.

"Karena suntikan itu, jantung berhenti berdetak, tapi otak mereka masih berfungsi. Orang-orang ini dibawa ke ruang operasi untuk diambil jantung, hati, ginjal. Setelah ginjal, hati, dan kulit diangkat, mereka hanya tersisa tulang belulang dan dagingnya. Tubuh mereka kemudian dibuang ke ruang ketel uap rumah sakit," lanjut dia.

Pemerintah China mengakui "memanen" organ dari tahanan penjara mereka pada 1990-an sampai 2000-an. Mereka juga mengklaim bahwa praktik ini telah dihentikan pada 2015.

Ilustrasi penjara. Foto: Reuters

Tapi kejadian ini masih penuh misteri. Bahkan, tidak diketahui pasti seberapa menyebarnya masalah transplantasi organ ilegal di China.

Sekarang, pemerintah China mengatakan bahwa program transplantasi organnya sudah legal. Mereka hanya mengambil organ dari donor yang sudah setuju organnya diambil.

Namun demikian, banyak yang mengatakan praktik ilegal itu masih terus berlangsung hingga sekarang.

China sendiri terlihat kurang jujur saat mengeluarkan statistik mengenai jumlah eksekusi dan jumlah organ transplantasi di sana. Banyak jurnalis dan organisasi nonprofit yang menilai statistik yang dikeluarkan pemerintah China tidak sesuai dengan hasil investigasinya.

Laporan Kilgour dan Matas berjudul The Bloody Harvest/The Slaughter mengungkap, jumlah ekseskusi tahanan mati dan jumlah organ yang diambil dari tahanan itu masih menjadi rahasia negara. Laporan itu menyatakan bahwa jumlah transplantasi yang dilakukan di China jauh lebih besar dari angka resmi yang dikeluarkan Pemerintah China.

Selain itu, ada sebuah riset yang dipublikasikan di SocArXiv Papers yang melakukan analisis forensik atas data donasi organ antara 2010 sampai 2018 di China. Para peneliti dalam riset menemukan adanya pemalsuan yang sistematis dan manipulasi set data resmi transplantasi organ. Mereka menyimpulkan, klaim China atas penghentian praktik itu bisa dipertanyakan.

Ilustrasi organ tubuh manusia. Foto: Geralt via Pixabay (CC0 Creative Commons)

China adalah salah satu negara yang paling banyak melakukan transplantasi organ. Sejak tahun 2000, Negeri Tirai Bambu itu diklaim telah melakukan lebih dari 1 juta transplantasi organ.

Tapi, hanya sedikit donasi organ yang terjadi di China. Hal ini dikarenakan banyak orang China segan mendonasikan organ mereka setelah mati. Jadi dari mana asalnya organ-organ itu?

"Pemerintah China mengklaim bahwa mereka melakukan, katakanlah, 10 ribu operasi transplatantasi organ setiap tahunnya. Tapi itu terlihat tidak mungkin ketika kita mempelajari faktor-faktor, seperti kapasitas tempat tidur di rumah sakit dan jumlah sumber daya yang mereka berikan bagi transplantasi," beber Sarah Cook, analis senior Asia Timur dari Freedom House.

"Itu adalah kuota resmi yang bisa dipenuhi oleh beberapa rumah sakit, dan di sini ada lebih dari 200 rumah sakit yang melakukan transplantasi. Sedangkan ketika kita melihat hasil laporan pada tingkat rumah sakit lokal dan individu, kita bisa mendapat estimasi transplantasi terjadi di angka antara 60 ribu sampai 100 ribu," kata Cook kepada IFL Science.

Ilustrasi Rumah Sakit Foto: UNSPLASH

Korban

Sebagian besar korban praktik kejam ini adalah mereka yang menganut dan melakukan Falun Gong. Tidak hanya itu, kelompok minoritas yang termarginalkan, seperti Muslim Uighur dan Penganut Buddha Tibet, juga menjadi korban dari praktik ini.

Di China, ada sekitar 70 juta orang pengikut Falun Gong. Mereka adalah komunitas penganut kepercayaan terbesar kedua di China setelah Buddha.

Falun Gong mengajarkan meditasi, memperhatikan sesama, dan latihan bagi para pengikutnya. Tapi Partai Komunis China menganggapnya sebagai sebuah aliran berbahaya. Hal ini membuat penganut Falun Gong jadi korban siksaan, penangkapan, dan eksekusi tanpa diadili.

Para penganut Falun Gong punya kondisi tubuh yang sangat sehat. Ini membuat mereka jadi target mudah praktik kejam transplantasi organ ini.

"Mereka adalah kelompok yang mendapat fitnah dan dikenal luas memiliki kondisi kesehatan yang baik. Bahkan pemerintah China mengakui hal ini," kata Cook. "Mereka tidak merokok, minum alkohol, dan banyak berolahraga. Ini adalah populasi tahanan yang telah difitnah dan memiliki kondisi tubuh yang relatif sehat."

Tembok Besar China. Foto: dok : Pixabay

Banyak penganut Falun Gong yang melaporkan bahwa mereka menjalani pemeriksaan kesehatan, seperti pemeriksaan darah secara berkala saat di penjara. Ada yang menganggap ini sebagai cara pemerintah untuk mengetahui golongan darah dan kesehatan mereka untuk transplantasi.

"Saya secara ilegal ditahan tiga kali dan setiap kali dipaksa untuk mengikuti pemeriksaan fisik. Saya tidak memahami kenapa kami harus melakukannya. Para penjaga hanya menjawab kalau itu adalah proses rutin," papar Chen Ying, pengikut Falun Gong, dilansir IFL Science.

"Cara mereka melakukan pemeriksaan membuat saya merasa mereka tidak melakukannya demi kesehatan saya, tapi untuk mendapat sesuatu hal yang lain," sambungnya.

Ketersediaan organ

Untuk mendapat organ dari donor, seseorang harus menunggu berbulan-bulan bahkan hingga bertahun-tahun. Ini karena organ hanya bisa bertahan di luar tubuh selama beberapa jam saja. Jadi, biasanya penerima organ harus menunggu adanya panggilan telepon bahwa seorang pendonor meninggal dunia dan langsung ke rumah sakit.

Tapi di China, orang bisa mendapat organ dalam hitungan minggu atau bahkan hari. Menurut laporan IFL Science, ada kemungkinan untuk bisa memesan transplantasi beberapa minggu sebelumnya.

Hal ini memberi dugaan kuat adanya sistem eksekusi berdasarkan permintaan demi mendapat organ segar.

Ilustrasi bedah. Foto: HEGP AP-HP via AP

Pada 2017, TV Chosun dari Korea Selatan berusaha menyelidiki hal ini. Mereka menyelidiki rumor atas beberapa rumah sakit di China yang memiliki tempat tahanan rahasia di ruang bawah tanahnya sebagai tempat tahanan hukuman mati sebelum dieksekusi.

TV Chosun gagal memberikan bukti atas keberadaan ruang bawah tanah ini. Tapi mereka menemukan banyak rumah sakit di China yang memiliki lisensi untuk menggunakan mesin penyebab kematian otak.

Mesin itu adalah alat yang bisa membuat otak seseorang menjadi mati, sambil menjaga agar organ mereka tetap dalam kondisi baik demi transplantasi.

Bisnis menguntungkan

Menurut laporan Kilgour-Matas, harga organ pada 2006 adalah 62 ribu dolar AS atau sekitar Rp 877 juta rupiah untuk ginjal, 98 ribu dolar AS atau sekitar Rp 1,3 miliar untuk hati, 170 ribu dolar AS atau sekitar Rp 2,4 miliar untuk paru-paru, 160 ribu dolar AS atau sekitar Rp 2,2 miliar untuk jantung, dan 30 ribu dolar AS atau sekitar Rp 424 juta untuk kornea.

Kemudahan mendapat organ ditambah dengan beberapa rumah sakit yang mencari profit membuat banyak masyarakat internasional datang ke China untuk mendapat organ.

Badan Kesehatan Dunia (World Health Organization/WHO) menyatakan bahwa transplantasi organ menyeramkan milik China ini dimanfaatkan di negara-negara, seperti Jepang, Korea Selatan, dan Taiwan. Bahkan, menurut WHO, negara dari Timur Tengah, Eropa, dan Amerika Utara juga memanfaatkan jaringan transplantasi organ itu.

Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
Bagikan ide, informasi, momen dan cerita kamu melalui
kumparan
Dengan ini kamu menyetujui syarat
& layanan dari kumparan
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: 1.1.23