Pencarian populer

Kloning Monyet Sukses, Dunia Selangkah Menuju Manufaktur Manusia

Adolf Hitler semasa menjadi pemimpin Nazi. (Foto: Getty Images)
Sepulang sekolah, Bobby Wheelock (14) mendapati ‘ayahnya’ tewas dibunuh, dan dua orang asing tengah berkelahi di dalam rumahnya. Dengan gaya arogan dikelilingi tiga ekor anjing Doberman, Wheelock meminta penjelasan kepada dua orang itu yang seketika berhenti berkelahi dan duduk berhadap-hadapan.
ADVERTISEMENT
Lieberman, tokoh polisi di situ, mengatakan Mr. Wheelock dibunuh oleh Mengele, dokter yang menjadi lawannya bertarung. Mengele dengan mata penuh kekaguman lalu mengatakan, dialah yang membuat Bobby Wheelock ada di dunia.
“Kau lahir dari darah paling mulia di dunia… Kau adalah duplikat hidup dari manusia paling luar biasa sepanjang sejarah (sambil mengangkat tangan ke udara) Adolf Hitler,” ujar Mengele.
Mengele adalah dokter yang menciptakan dan menyebarkan 92 kloningan Hitler ke seantero Eropa dan Amerika. Ia sangat terobsesi pada tokoh Nazi tersebut, dan bahkan merancang kehidupan 92 kloningan ciptaannya serupa hidup Hitler.
Hitler kloningan Mengele disebar untuk diadopsi oleh keluarga dengan latar belakang dan status ekonomi serupa. Bahkan, karena ayah Hitler meninggal di usia 65 tahun, maka Mengele membunuh ayah-ayah adopsi Hitler kloningannya.
Potongan film The Boys From Brazil (Foto: Youtube)
Cerita khayalan itu hanyalah sepenggal adegan dari film berjudul The Boys From Brazil yang dirilis pada 1978. Film itu hasil adaptasi dari novel karangan Ira Levin dengan judul serupa. Bergenre drama thriller, film ini secara mengejutkan meraih tiga nominasi Oscar.
ADVERTISEMENT
Ketika film itu dirilis, Keith Campbell baru berusia 24 tahun dan tengah berkuliah di University of London. The Boys From Brazil merupakan film favorit Campbell, ilmuwan yang 66 persen berkontribusi atas lahirnya domba kloningan pertama bernama Dolly pada 5 Juli 1996.
Gagasan mengenai kloning memang bukan hal baru. Riset terkait kloning setidaknya dimulai sejak 1885. Itu artinya, telah 133 tahun penelitian terkait kloning makhluk hidup tak pernah mati.
Keith Campbell (Foto: Phys.org)
Dua dekade lalu, Campbel bersama Ian Wilmut berhasil melahirkan Dolly dan lima domba kloningan lainnya. Dolly, yang diambil dari nama penyanyi Dolly Parton, menjadi mamalia pertama yang berhasil dikloning dengan metode Somatic Cell Nuclear Transfer (SCNT).
Di China, 35 hari lalu, lahir pula dua ekor monyet hasil kloningan. Monyet bernama Zhong Zhong dan Hua Hua itu menandai runtuhnya hambatan paling sulit daalam dunia perkloningan: duplikasi primata.
ADVERTISEMENT
Rasa kekaguman yang tak nyaman atas keberhasilan itu lantas melahirkan beragam tanya: apakah kloning akan diterapkan pada manusia seperti dalam kisah The Boys From Brazil, Brave New World karangan Huxley, atau kisah-kisah lain itu? Akan sejauh mana upaya kloning ini dimanfaatkan?
Prof Ian Wilmut (Foto: Phys.org)
Dari Domba ke Monyet
Sejak Dolly diciptakan, setidaknya 23 hewan lain telah berhasil dikloning, mulai dari babi, kucing, anjing, tikus, dan sebagainya. Namun belum ada satu pun primata--spesies dengan gen paling mendekati manusia--mampu dikloning dengan metode transfer nukleus sel somatik seperti Dolly.
Secara teori, jika primata berhasil dikloning, maka kemungkinan keberhasilan kloning manusia pun kian nyata. Pada tahun 2000-an, kloning primata--apalagi manusia--dianggap sama sekali tidak memungkinkan.
ADVERTISEMENT
“Ada hambatan molekuler yang mampu menghentikan teknologi ini (SCNT) bekerja pada primata,” ujar Gerald Schatten dari University of Pittsburgh School of Medicine di Pennsylvania, Amerika Serikat, kepada New Scientist, 10 April 2003.
Berdasarkan temuan tim Schatten, ketika prosedur kloning dilakukan, ada satu set protein utama yang hilang dari embrio monyet. Lenyapnya satu set protein utama itu akan menyebabkan kekacauan genetik, misal kromosom bakal terdistribusi secara acak.
Akibatnya, embrio akan tampak baik-baik saja, padahal sesungguhnya tak bisa berkembang lebih lanjut. Hal serupa kemungkinan besar juga akan terjadi pada upaya kloning manusia.
“Itulah bagian menarik mengapa primata sangat sulit untuk dikloning, bahkan hampir tidak mungkin,” ujar peneliti lain, Robert Lanza dari Advanced Cell Technology--perusahaan bioteknologi di Massachusetts, AS.
ADVERTISEMENT
Namun, ketidakmungkinan yang hampir diamini banyak ilmuwan 15 tahun lalu itu kini telah didobrak oleh ilmuwan China: Zhen Liu, Qiang Sun, dan tim. Para ilmuwan dari Institute of Neuroscience Chinese Academy of Sciences di Shanghai tersebut berhasil melakukan kloning dua primata untuk pertama kalinya di dunia.
Video
Zhong Zhong dan Hua Hua, lahir pada 27 November 2017. Namun mereka baru dipublikasikan dua bulan kemudian. Nama kedua monyet itu diambil dari kata Zhonghua, yang berarti “masyarakat China”. Seperti Dolly, Zhong dan Hua diciptakan melalui metode kloning somatic cell nucleus transfer (SCNT).
Melalui SCNT, nukleus--yang mengandung DNA organisme--dari sel somatik (sel tubuh selain sperma dan sel telur) diambil dan sisanya dibuang. Sementara nukleus dari sel telur juga dihilangkan (enukleat).
ADVERTISEMENT
Nukleus dari sel somatik itu kemudian ditanamkan pada sel telur enukleat. Sel somatik tersebut kemudian diprogram ulang oleh sel inang. Setelah itu, sel telur berisi sel somatik itu dirangsang dengan sistem kejut yang membuatnya terbelah.
Setelah pembelahan inti sel (mitosis) terjadi, sel-sel tunggal ini akan membentuk blastokis (embrio tahap awal) yang memiliki DNA identik dengan organisme aslinya.
Itulah sebab mengapa Zhong Zhong (8 minggu) dan Hua Hua (6 minggu) memiliki gen serupa. Keduanya dikloning dari sel janin monyet yang sama. Monyet-monyet itu, dikutip dari National Geographic, kini dalam kondisi sehat dan masih hidup dalam inkubator.
Monyet Zhong Zhong dan Hua Hua (Foto: Reuters/Third Party)
Keith Campbell dan Ian Wilmut telah melalui 276 percobaan gagal sebelum akhirnya berhasil melahirkan Dolly dan lima domba lain. Sementara Zhen Liu dan tim membutuhkan waktu dua tahun untuk menghasilkan Zhong-Hua.
ADVERTISEMENT
Maka, apakah keberhasilan para ilmuwan China ini menjadi langkah baru menuju kloning manusia--mengkloning Xi Jinping (penguasa China seumur hidup), misalnya?
(Seharusnya) tidak, secara etis atau atas alasan apa pun.
Gagasan kloning manusia sejak lama bertentangan dengan nilai-nilai religius-spiritual-sosial mengenai martabat manusia, melanggar kebebasan individu, termasuk soal identitas dan otonomi.
“Hingga sekarang, firasat buruk tersebut tampaknya lebih seperti skenario fiksi-ilmiah ketimbang masalah nyata yang tengah dihadapi manusia,” tulis ahli biologi molekul dari AS, James D. Watson, di The Atlantic pada 1971.
Pendapat itu terlontar 42 tahun sebelum Shoukrat Mitalipov bersama Masahito Tachibana dan 21 orang lainnya melakukan uji coba kloning embrio manusia di 2013.
“Aku sangat senang, karena ini akan berdampak signifikan,” ujar Mitalipov, dilansir National Public Radio, 15 Mei 2013. Keberhasilan mereka mengkloning embrio manusia, menurut Mitalipov, terbantu karena penggunaan kandungan kafein.
ADVERTISEMENT
“Sedikit perubahan (penggunaan kafein) menjadi umpan yang membuat percobaan ini berhasil,” ujarnya.
Penelitian yang mereka lakukan tentu saja menyulut kontroversi. Pertama, karena mereka membayar perempuan untuk menjadi donor sel telur yang mereka gunakan.
Lebih dari itu, mereka melakukan rekayasa (merusak dan menciptakan ulang) embrio manusia yang secara moral menjijikkan (tidak bisa diterima), sebab keberadaan embrio sama saja dengan keberadaan manusia.
“Kasus ini seolah hendak menciptakan manusia buatan dengan menghancurkan (ke)manusia(an) itu sendiri,” ujar Dr. Daniel Sulmasy, profesor bidang kedokteran dan bioetik dari Universitas Chicago.
Ia menegaskan, “Sebagai akademisi, bagi saya hal ini salah secara moral, tak peduli sebagus apapun hasilnya.”
Seabad Riset Kloning Makhluk Hidup (Foto: Lidwina Win Hadi/kumparan)
Mitalipov menggunakan teknik kloning yang sama seperti Campbell ketika menciptakan Dolly pada 1996. Teknik serupa juga digunakan para ilmuwan China dalam mengkloning monyet Zhong dan Hua tahun ini.
ADVERTISEMENT
Keberhasilan dalam mengkloning primata untuk kali pertama ini, menurut ilmuwan Peter Andrews, “Menjadi langkah menuju kloning terhadap manusia. Tapi, adakah alasan kita melakukannya?”
Pada 2012, ilmuwan peraih Nobel Kedokteran, Sir John Gurdon, pernah menjawab, “Mungkin 10 sampai 100 tahun lagi, atau 50 tahun lagi,” kloning terhadap manusia bisa terjadi.
Dilansir Business Insider, Gurdon berargumen, “Aku melihat bagaimana orang-orang rela melakukan apa pun untuk menyembuhkan rasa sakit (fisik dan psikis) atau meningkatkan kesehatan mereka. Oleh karena hal itu, katakanlah, kloning mungkin bisa menjadi jawaban dalam menyelesaikan persoalan mereka, dan masyarakat akan menerimanya.”
Salah satu contohnya--yang menjadi perdebatan--adalah untuk mengatasi persoalan pasangan yang tak memiliki anak atau kehilangan anak mereka, dan ingin memiliki gantinya yang serupa.
ADVERTISEMENT

Ending is better than mending.

- Aldous Huxley

Bagi Andrews, ilmuwan asal Universitas Sheffield, Inggris Raya, “Dalam persoalan biologi manusia, mengkloning manusia itu ilegal, setidaknya di Inggris dan negara-negara lainnya.”
Sementara salah satu peneliti yang terlibat dalam menciptakan Zhong Zhong dan Hua Hua, Mu Ming Poo, menyampaikan, “Tak ada alasan untuk mengkloning manusia saat ini.”
Untuk sementara, mereka baru akan meneliti Zhong Zhong dan Hua Hua, mulai soal kesehatan hingga perkembangan otaknya.
“Dengan segala perkembangan ini, kurasa masyarakat China akan menerima (kloning). Kuharap masyarakat Eropa akan menyadari dampak besar kloning primata ini terhadap pengobatan berbagai penyakit,” ujar Poo kepada National Geographic.
Namun, meski berulang kali ditegaskan bahwa kloning bertujuan untuk meningkatkan metode pengobatan berbagai penyakit mulai dari diabetes, cedera saraf tulang belakang, Alzheimer, Parkinson, hingga kanker, kekhawatiran akan terjadinya kloning terhadap manusia tetap menguar di udara.
ADVERTISEMENT
Apakah keberadaan manusia di masa depan tak ubahnya barang yang bisa diproduksi massal?

Cloning represents a very clear, powerful, and immediate example in which we are in danger of turning procreation into manufacture.

- Leon Kass

===============
Simak ulasan mendalam lainnya dengan mengikuti topik Outline!
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan dan Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: 1.1.86