Pencarian populer

Kumpulan Sampah di Samudra Pasifik Hampir Seluas Daratan Indonesia

Sampah di laut (Foto: Pixabay)

Kumpulan sampah di perairan utara Samudra Pasifik semakin membesar. Sampah-sampah itu membentang seluas 1,6 juta kilometer persegi atau setara dengan 83 persen luas daratan Indonesia yang 1,92 juta kilometer persegi.

Dalam riset terbaru, para peneliti menemukan bahwa kumpulan sampah itu sudah memiliki massa lebih dari 87.000 ton. Itu setara dengan 1,8 triliun potongan plastik, atau sekitar 250 potong untuk setiap orang yang ada di planet ini, kata para peneliti.

Untuk melakukan riset ini, para peneliti melakukan survei udara dan laut untuk mencari tahu jumlah sampah plastik yang membentang di perairan antara Hawaii dan California tersebut pada 2015 hingga 2016 lalu. Hasilnya kumpulan plastik perairan utara Samudra Pasifik itu ternyata telah menjadi empat hingga 16 kali lebih besar dari perkiraan sebelumnya.

"Polusi plastik di Great Pacific Garbage Patch lebih parah dari yang diperkirakan," kata Laurent Lebreton, pemimpin peneliti dari Ocean Cleanup Foundation dan penulis utama riset ini, kepada Live Science.

Hasil riset ini sendiri telah dipublikasikan di jurnal Scientific Reports pada 22 Maret 2018. Dalam riset ini, para peneliti juga menyelidiki ukuran plastik di dalam air.

Laurent Lebreton mengatakan, potongan-potongan sampah yang berukuran lebih besar dari 5 sentimeter menjadi penyumbang terbesar, yakni 75 persen dari total berat kumpulan plastik di utara Samudra Pasifik ini.

Jumlah ini jauh lebih banyak mikroplastik yang hanya delapan persen. Akan tetapi, 94 persen dari sekitar 1,8 juta potongan sampel sampah plastik yang mengapung di perairan ini adalah mikroplastik.

Merek Sampah Plastik Terbanyak di Indonesia (Foto: Muhammad Faisal N/kumparan)

Bahaya Sampah Plastik

Menurut M. Reza Cordova, peneliti di Pusat Penelitian Oseanografi (P2O) LIPI, sampah plastik dapat mengancam makhluk hidup di sekitarnya. Bahkan, bagi biota laut, sampah plastik dapat berakibat fatal.

Reza mencontohkan seekor penyu yang biasa memangsa ubur-ubur. Ketika berada di dalam air laut, plastik akan terlihat layaknya ubur-ubur dan membuat si penyu akan langsung memakannya.

"Ketika dimakan biota, plastik akan merusak dan merobek bagian dalam saluran pencernaan (hewan)," ujar Reza saat ditemui kumparanSAINS di beberapa waktu lalu.

Loading Instagram...

Reza menambahkan, ketika plastik berubah menjadi mikroplastik, biota laut seperti plankton dapat memakan zat tersebut.

Plankton yang kemudian dimakan oleh ikan dan ikan itu nantinya akan dimakan oleh manusia. Hal ini membuat mikroplastik yang awalnya berada di plankton bisa berpindah ke makhluk lain seperti ikan dan manusia.

Reza mengatakan, mikroplastik memiliki potensi besar untuk mengganggu kesehatan makhluk hidup yang mengkonsumsinya.

Meski belum diketahui secara pasti dampaknya bagi manusia, riset yang dilakukan Reza menemukan sesuatu yang mengkhawatirkan. Dalam riset tersebut ditemukan, hewan yang mengkonsumsi mikroplastik mengalami tumor pada bagian saluran pencernaan.

Hal ini menjadi indikasi bahwa plastik berdampak buruk pada makhluk hidup.

Selain itu, imbuh Reza, mikroplastik juga dapat membawa zat polusi ke dalam tubuh. "Mikroplastik atau plastik secara umum bisa menjadi tempat menempel bahan polusi lain. Akibatnya, bahan pencemar bisa masuk ke tubuh," jelasnya.

Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
Bagikan ide, informasi, momen dan cerita kamu melalui
kumparan
Dengan ini kamu menyetujui syarat
& layanan dari kumparan
Kamis,23/05/2019
Imsak04:26
Subuh04:36
Magrib17:47
Isya19:00
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: 1.1.22