kumparan
31 Des 2017 20:41 WIB

LIPI Ciptakan Kartu Ucapan Seukuran Virus Terkecil di Dunia

Kartu ucapan Tahun Baru 2018 seukuran 25 mikron. (Foto: LIPI)
National Physical Laboratory (NPL) Inggris berhasil menciptakan kartu ucapan selamat Natal 2017 seukuran 15x20 mikron. Untuk kamu yang sulit membayangkan seberapa kecil ukurannya, 1 mikron itu sama dengan 1/1.000.000 meter. Ini berarti, ukuran kartu tersebut lebih kecil dari rambut manusia yang berukuran 50-80 mikron.
ADVERTISEMENT
Tidak mau kalah, Pusat Penelitian (Puslit) Fisika Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) juga telah berhasil menciptakan kartu ucapan yang berukuran sangat kecil, hanya seukuran virus polio, yaitu seukuran 25 mikron. Virus polio adalah virus terkecil di dunia.
Ini membuktikan kalau LIPI berhasil menciptakan salah satu kartu ucapan terkecil yang ada di dunia.
Kartu yang diciptakan oleh LIPI ini adalah kartu ucapan selamat tahun baru untuk merayakan pergantian tahun dari 2017 ke 2018. Pembuatan kartu ini menandai kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang telah dicapai Indonesia.
Kartu ucapan mikro dibuat dengan menggunakan metode proses ukiran (engraving) di atas material wafer silikon dengan memanfaatkan energi yang dihasilkan dari tembakan ion galium. Alat yang digunakan, Dual-Beam FIB, merupakan satu-satunya yang ada di Indonesia.
Pembuatan kartu ucapan Tahun Baru 2018 dari LIPI. (Foto: LIPI)
Teknologi ini bisa digunakan untuk masyarakat luas yang membutuhkannya.
ADVERTISEMENT
"(Ide dari) Pusat Penelitian Fisika. Karena LIPI mempunyai alat ini sejak 2016," kata Dr. Rike Yudianti, Peneliti Pusat Penelitian Fisika LIPI kepada kumparan (kumparan.com).
Menurut Rike, ide yang muncul dari P2Fisika bertujuan menunjukan kecanggihan dari teknologi nano yang sudah dimiliki oleh LIPI. Teknologi ini kemudian digunakan untuk merekayasa permukaan bahan silikon menjadi kartu tahun baru 2018.
LIPI Rilis kartu ucapan tahun baru (Foto: Dok. Pusat Penelitian Fisika LIPI)
Dalam pembuatannya, Rike memaparkan cuma butuh waktu 30 menit untuk menghasilkan ini. "Yang sulit adalah bagaimana mendapatkan kartu ini, sehingga setting yang tepat dalam merekayasa permukaan," jelasnya.
Untuk melihat hasil karya P2Fisika LIPI ini pun tidak sembarangan, diperlukan mikroskop elektron, karena mikroskop optik biasa sulit untuk melihatnya.

LIPI ingin menunjukan kecanggihan teknologi nano dalam perkembangan ilmu pengetahuan di Indonesia yang sudah semakin baik dan dibutuhkan. Tentu ini akan semakin membuka kami utk membangun kerja sama riset dengan industri, universitas dan litbang lain.

- Dr. Rike Yudianti, Peneliti Pusat Penelitian Fisika LIPI

ADVERTISEMENT
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan