kumparan
27 Des 2017 13:34 WIB

Lukisan Prasejarah Ditemukan di Gua Maluku

Bebatuan di Pulau Kisar, Maluku (Foto: Sue O’Connor/Australian National University )
Tim peneliti yang dipimpin arkeolog Sue O’Connor dari Australian National University menemukan lukisan prasejarah di dalam gua yang terdapat di Pulau Kisar, Maluku. Gambar-gambar anjing, kuda, perahu, dan benda-benda lainnya menghiasi gua ini.
ADVERTISEMENT
Keberadaan lukisan gua ini menandakan adanya masyarakat kelas atas yang tinggal di Pulau Kisar. Kekayaan mereka mungkin didapatkan dari hasil perdagangan rempah-rempah langka dan drum yang terbuat dari perunggu.
O’Connor memimpin ekspedisi di Pulau Kisar pada tahun 2014 dan 2015. Sebelumnya, belum pernah ada penelitian yang dilakukan di pulau ini.
Ide untuk menelusuri Pulau Kisar muncul saat O’Connor melakukan ekspedisi di pulau dekat Timor Leste. Saat itu ia merasa penasaran juga untuk menelusuri Pulau Kisar.
Di Pulau Kisar, tim peneliti yang dipimpin O’Connor akhirnya menemukan lebih dari 30 situs memiliki luas area sekitar 80 kilometer persegi. Dan yang lebih menarik perhatian mereka adalah ada banyaknya lukisan yang tergambar pada bebatuan di pulau kecil itu.
ADVERTISEMENT
“Kebanyakan dari lukisan ini dilukis di atas batu gamping dan menggunakan pigmen merah, sehingga warnanya kontras dengan latar belakang putih,” kata O’Connor dilansir Live Science.
Lukisan pada bebatuan di Pulau Kisar, Maluku (Foto: Sue O’Connor/Australian National University )
Ada beberapa macam binatang yang digambarkan, di antaranya adalah kuda dengan pengendaranya, ayam, dan anjing. Dari gambar anjing tersebut misalnya, lukisan ini diperkirakan berusia tidak lebih tua dari 3.500 tahun karena anjing baru diperkenalkan ke wilayah Kisar sekitar 3.500 tahun lalu.
Selain lukisan binatang, terdapat juga lukisan-lukisan bergambar tangan yang mungkin berusia lebih tua dari lukisan lainnya.
Menurut O’Connor, lukisan yang berada di Kisar memiliki kesamaan dengan yang ada di Timor Leste. Kemungkinan, gaya lukisan ini menyebar 3.000 tahun yang lalu.
Kontak antara penduduk dari Timor dan dari Kisar terjadi karena perdagangan. Dari Timor, mereka membawa cendana sementara dari Kisar mereka menjual rempah-rempah. Dari perdagangan ini muncul kaum-kaum elit yang mengendalikan kekayaan di pulau tersebut dan terciptalah masyarakat yang hierarkis.
Bebatuan di Pulau Kisar, Maluku (Foto: Sue O’Connor/Australian National University )
Penemuan lain yang juga menjadi penting adalah penemuan drum yang terbuat dari perunggu. Drum semacam ini juga bisa ditemukan di wilayah Asia Tenggara lainnya serta di bagian selatan China. Drum ini dikenal sebagai Dong Son drum. Dong Son adalah nama tempat drum ini pertama kali ditemukan di Vietnam.
ADVERTISEMENT
“Drum tersebut adalah contoh dari barang berharga yang menjadi alat tukar menukar di antara para pemimpin di sana,” kata O’Connor. “Sampai sekarang, Dong Son drum masih bisa ditemukan di beberapa pulau, termasuk di Timor-Leste dan Pulau Kei. Drum tersebut digunakan untuk upacara dan inisiasi. Saya rasa, keberadaan benda seni seperti ini menandakan kalau masyarakat menjadi hierarkis pada masa itu.”
Penelitian yang dipimpin O’Connor pada tahun 2015 itu diikuti oleh para peneliti dari Australian National University dan dari Universitas Gadjah Mada di Yogyakarta.
Lima situs arkeologi yang ditemukan di Kisar sudah dipublikasikan di Cambridge Archeological Journal.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan