kumparan
18 Sep 2019 20:17 WIB

Malaysia Rugi Rp 5 Triliun akibat Asap Karhutla Indonesia pada 2013

Menara kembar Petronas diselimuti oleh kabut asap di Kuala Lumpur, Malaysia, Senin (9/9). Foto: REUTERS / Lim Huey Teng
Malaysia mengalami kerugian sebesar 1,57 miliar ringgit Malaysia (RM) atau sekitar Rp 5 triliun akibat kabut asap karhutla dari Indonesia pada 2013 lalu. Hal ini diungkap sebuah penelitian yang dilakukan oleh Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM) pada 2018 lalu.
ADVERTISEMENT
Penelitian ini mempelajari data kabut asap karhutla pada 1997, 2005, dan 2013. Para periset mendesak pemerintah Malaysia untuk undang-undang terhadap perusahaan Malaysia di luar negeri yang berkontribusi dalam penyebaran polusi.
Foto udara kebakaran hutan dan lahan di kawasan Ketapang Tanjungpura Km 4 di Desa Sungai Awan Kiri, Kecamatan Muara Pawan, Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat, Selasa (30/7). Foto: ANTARA FOTO/HO/Heribertus
Dalam studi itu, para peneliti menyebut bahwa penyebab karhutla dilakukan oleh petani dan agrobisnis yang ingin membuka lahan untuk menanam padi dan kelapa sawit. Hal itu menimbulkan kebakaran hutan yang tidak terkendali di Sumatera dan Kalimantan.
“Studi Shawahid menunjukkan bahwa kabut asap telah memengaruhi berbagai sektor ekonomi,” tulis para peneliti UKM, seperti dilansir Malay Mail.
Para peneliti merujuk pada studi tahun 2016 yang dilakukan oleh akademisi M. Shawahid. Studi itu berjudul “The economic value of June 2013 haze impact on peninsula Malaysia”.
ADVERTISEMENT
“Ini termasuk biaya rumah sakit, biaya perawatan medis dan rawat inap, biaya cuti terkait medis yang diambil, serta membeli masker polusi udara sebagai pelindung. Asap juga memengaruhi produktivitas secara keseluruhan ketika pasien kehilangan peluang mendapat pemasukan karena sakit, dan pada gilirannya hal ini memengaruhi ekonomi yang lebih besar.”
Pada kerugian 2013 itu, estimasi kerugian berasal dari beberapa aspek. Mulai dari penyakit akibat asap, biaya cuti medis, masker, dan yang paling besar adalah hilangnya pendapatan negara yang mencakup sekitar dua pertiga dari totalnya atau sekitar RM 958 juta (Rp 3,2 triliun).
Selain itu, riset menemukan bahwa dalam hal kesehatan, termasuk medis dan rawat inap, Malaysia menelan kerugian hingga RM 410,6 juta atau Rp 1,3 triliun. Sementara biaya untuk masker pemerintah menghabiskan biaya hampir RM 20 juta atau Rp 67 miliar.
ADVERTISEMENT
Pada tahun 2013, Departemen Lingkungan Malaysia menghadapi darurat “kabut asap” di kabupaten Muar dan Ledang. Saat itu, Indeks Polutan Udara (APU) di dua daerah tersebut mencapai nilai 500, jauh di atas ambang batas yang hanya 300. Di tahun yang sama, pada 15-27 Juni, sebagian besar wilayah semenanjung Malaysia juga mengalami paparan polusi udara dari asap karhutla di tingkat yang sangat tidak sehat dan berbahaya.
Kabut asap menyelimuti wilayah Kuching, Malaysia. Foto: Twitter/@KitakSarawakian
Sementara itu, dalam studi lain tentang kabut asap 2005, peneliti mengatakan bahwa Malaysia mengalami kerugian senilai RM 1,8 juta atau sekitar Rp 6 miliar untuk biaya perawat medis rumah sakit karena penyakit yang berhubungan dengan asap. Studi ini dilakukan pada 2014 lalu.
Polusi asap itu telah menyebabkan ratusan sekolah tutup secara nasional ketika nilai IPU di berbagai daerah melebihi angka 200.
ADVERTISEMENT
Beberapa kelompok aktivis mengatakan bahwa studi yang dilakukan UKM harus segera menjadi bahan pertimbangan pemerintah. Ini mengingat kekecewaan publik terhadap kondisi kabut asap telah memuncak. Terlebih, kabut asap sudah nyaris meliputi seluruh Malaysia dan kualitas udara sudah pada tingkat berbahaya.
Menara Kuala Lumpur terlihat diselimuti kabut asap di Malaysia. Foto: AFP/MOHD RASFAN
Presiden Consumer Association of Penang, organisasi non profit pemerhati masyarakat, Mohideen Abdul Kadir, mengatakan meski tanggung jawab utama untuk mengatasi asap adalah Indonesia, Malaysia masih bisa ambil bagian untuk mencegah bencana ini terus terjadi setiap tahunnya.
“Beberapa perusahaan yang berhubungan dengan pemerintah kita memiliki anak perusahaan yang mengoperasikan perkebunan kelapa sawit di Indonesia. Anak perusahaan itu telah ditangkap basah memulai api-api ini,” ujarnya sebagaimana dikutip Insight.
Hal serupa juga diungkap para peneliti. Mereka menyarankan pemerintah Malaysia bisa berbuat lebih banyak untuk membantu Indonesia memerangi ancaman kabut asap yang terus terjadi tiap tahunnya.
ADVERTISEMENT
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan