Pencarian populer
Tekno & Sains

Melihat Riset Wallace Broecker yang Populerkan Istilah Global Warming

Wallace Broecker Foto: Gregorio Borgia/AP

Wallace Smith Broecker, ilmuwan yang memperingatkan bahaya perubahan iklim serta mempopulerkan istilah 'global warming', telah meninggal dunia. Ia meninggal di usia 87 tahun pada Senin (19/2), di New York Hospital, New York, Amerika Serikat.

Dikenal luas dengan panggilan Wally, Broecker melewati 67 tahun karirnya sebagai akademisi di Columbia University, New York.

Pada 1975, Broecker mempublikasikan sebuah makalah ilmiah di jurnal Science. Laporan itu membuka pemahaman atas hubungan antara karbon dioksida dengan temperatur di seluruh dunia.

Berjudul "Climate Change: Are we on the brink of pronounced global warming?", riset ini disebut sebagai yang pertama menggunakan kata global warming atau pemanasan global di literasi sains.

Riset itu, sebagaimana dilaporkan BBC, menggarisbawahi peran manusia terhadap perubahan iklim dengan mengeluarkan karbon dioksida. Broecker berpendapat, Bumi pada saat itu, tahun 1970-an, sedang mengalami siklus pendinginan 40 tahunan.

Pemanasan global Foto: Pixabay

Ia menjelaskan, siklus itu akan segera berakhir dan tanda-tanda pemanasan temperatur akibat manusia akan menjadi kenyataan. Hal ini terbukti pada 1976, temperatur mulai naik sejalan dengan prediksi Broecker.

Pada 1984, Broecker berbicara mengenai penumpukan gas rumah kaca di hadapan Parlemen Amerika Serikat. Ia mengatakan bahwa dibutuhkan suatu usaha nasional untuk memahami atmosfer, lautan, es, dan biosfer Bumi.

Selain itu, Broecker juga mempopulerkan sebuatan "Ocean Conveyor Belt" atau sabuk arus lautan, sebuah jaringan global yang mempengaruhi suhu udara hingga pola curah hujan.

Ia berpendapat, sirkulasi dari arus di lautan ini membantu meregulasi sistem iklim. Sirkulasi itu menggerakkan panas dalam jumlah tinggi dari satu tempat ke tempat lainnya.

Broecker menambahkan, jalur sabuk ini bisa tiba-tiba berubah. Perubahan tersebut dapat menyebabkan pergeseran iklim drastis dalam hitungan dekade saja.

Ilustrasi global warming. Foto: Shutterstock

Dorong penggunaan teknologi untuk mengatasi perubahan iklim

Broecker adalah salah satu ilmuwan pertama dalam mendorong penggunaan mesin untuk mengekstrak karbon dioksida dari atmosfer.

"Sama seperti orang lain, saya tidak terlalu menyukai solusi teknologi tapi menurut saya, tanpa solusi teknologi, kandungan karbon dioksida akan terus naik," ujarnya kepada BBC pada 2009. "Kita bisa mencoba memberlakukan pajak karbon dioksida. Masyarakat kita telah belajar untuk menjaga air agar tetap bersih, sekarang kita harus belajar untuk menjaga agar atmosfer berada di keadaan netralnya."

"Sayangnya, kita tidak akan mampu melakukannya, karena saya rasa kita ditakdirkan untuk membuat karbon dioksida di atmosfer naik dua kali lipat," tutur dia.

Berdasarkan pemodelan, kata Broecker, hal itu bisa menyebabkan peningkatan temperatur global sebanyak 3,5 Celcius. Peningkatan temperatur akan mengubah presipitasi di seluruh dunia, melelehkan es di kutub Bumi, dan membuat naiknya tinggi air laut.

Ilustrasi Global Warming Foto: Thinkstock

Mengubah dunia

Broecker sering merendah mengenai ungkapan "global warming" miliknya yang mendunia. Ia mengatakan, itu hanya keberuntungan semata. Meski begitu, ungkapannya itu memiliki efek luar biasa bagi umat manusia.

"Dia sendirian telah mendorong banyak pemahaman baru di bidang kami, mungkin jauh lebih banyak dibanding ahli lain di bidang yang sama," ujar Richard Alley, ahli iklim di Pennsylvania State University.

"Dia sangat besar secara intelektual dalam hal bagaimana sistem Bumi bekerja serta sejarahnya, peranannya membuat kita semua mengikuti pemikiran Wally tanpa kita sadari," imbuh Alley kepada BBC.

Broecker terkenal atas sikap bersahabat dan rendah dirinya. Ia menderita disleksia, dan tidak pernah belajar mengetik atau menggunakan komputer.

Dalam obituari di laman resmi Columbia University, Broecker dikutip memberi peringatan agar tidak ada yang meletakkan ungkapan "global warming" di nisannya.

Ilustrasi pemanasan global Foto: PATRIK STOLLARZ / AFP
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Bagikan ide, informasi, momen dan cerita kamu melalui
kumparan
Dengan ini kamu menyetujui syarat
& layanan dari kumparan
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: web: