kumparan
30 Mar 2018 17:03 WIB

Memeluk Boneka Hagi, Melupakan Sejenak Beban Hidup Ini

Maskot Boneka Hagi (Foto: Sayid Mulki/kumparan)
Dengan tubuh yang empuk dan wajah lucu berbentuk hati serta senyum lebar yang ramah, Hagi, boneka yang menjadi maskot baru Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia cabang Jakarta (PDSKJI Jaya), memiliki misi yang besar untuk memberikan kesadaran kepada masyarakat soal gangguan kejiwaan seperti gangguan bipolar.
ADVERTISEMENT
Maskot ini diluncurkan pada Selasa (20/3) dalam acara Seminar Kesehatan World Bipolar Day 2018 dan Launching Boneka Hagi di Jakarta. Konsep boneka ini pertama kali dicetuskan oleh Tiur Sihombing, anggota PDSKJI Jaya.
Konsep ini kemudian digarap oleh Hana Madness, seniman yang juga penderita gangguan bipolar. Ia mendesain konsep boneka tersebut dan kemudian jadilah Hagi si boneka berwarna biru muda dan putih.
"Saya pertama terinspirasi (membuat Hagi) untuk setelah melihat kampanye pencegahan bunuh diri di Korea Selatan," ujar Tiur pada acara seminar tersebut.
Hana Madness (Foto: Sayid Mulki/kumparan)
Filosofi Boneka Hagi
Nama Hagi berasal dari kata berbahasa Inggris, yakni "hug" yang berarti pelukan, memeluk, atau merangkul. Memang salah satu tugas maskot ini, selain memberikan kesadaran soal gangguan kejiwaan seperti bipolar, adalah untuk menjadi sasaran pelukan masyarakat.
ADVERTISEMENT
"Buat mereka yang memerlukan pelukan saat sedang sedih atau senang bisa memeluk Hagi tanpa perlu malu-malu," jelas Tiur.
Maskot Boneka Hagi (Foto: Sayid Mulki/kumparan)
Meski efek pelukan belum diketahui dalam pengobatan bipolar, menurut Ketua Bipolar Care Indonesia Vindy Ariella, pelukan sangat membantu menghadapi situasi sulit yang ia alami.
"Dukungan pelukan juga sangat terasa (manfaatnya). Kadang orang bipolar itu cukup diberikan pelukan, pegangan tangan dan rasa kasih sayang," papar Vindy menjelaskan pengalaman pribadinya saat menderita gangguan bipolar.
Hagi sendiri didesain untuk terlihat sangat "hugable". Hana Madness yang mendesain boneka tersebut mengaku sengaja membuat Hagi seperti itu agar siapa pun, tak peduli laki-laki atau perempuan, bisa memeluk Hagi dan mungkin bisa sejenak melupakan beban hidupnya.
Maskot Boneka Hagi (Foto: Sayid Mulki/kumparan)
Menurut Tiur, besar kemungkinan Hagi akan mendapat "saudara-saudara" alias ke depannya akan ada boneka-boneka lainnya demi semakin meningkatkan kesadaran masyarakat luas terhadap gangguan kejiwaan, termasuk gangguan bipolar.
ADVERTISEMENT
Gangguan bipolar sendiri merupakan suatu gangguan jiwa yang bersifat episodik dan ditandai dengan perubahan perasaan atau emosi yang terjadi berulang dan berlangsung menahun.
Jenis gangguan jiwa ini sering berkembang di akhir masa remaja atau dewasa awal seseorang. Setidaknya setengah dari semua kasus gangguan bipolar dimulai sebelum usia 25 tahun. Bahkan beberapa dari mereka sudah memiliki gejala pertama sejak masa kanak-kanak.
Gangguan bipolar adalah gangguan jiwa yang bersifat kronik, serius, dan sering berpotensi fatal. Sebanyak 10 sampai 20 persen penderita gangguan bipolar meninggal dunia akibat bunuh diri.
Angka kematian akibat gangguan bipolar 2-3 kali lebih tinggi daripada skizofrenia. Angka tersebut bahkan 20 kali lebih tinggi daripada populasi umum.
Nova Riyanti Yusuf, Maskot Hagi dan Hana Madness (Foto: Sayid Mulki/kumparan)
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan