Pencarian populer

Mempersoalkan Keberadaan Tabung Gas Helium di Kamar Kos Eril Dardak

Eril Arioristanto. (Foto: Facebook/Eril Arioristanto)
Eril Arioristanto Dardak meninggal dengan keadaan kepala terbungkus kantong plastik. Namun begitu polisi tidak menemukan tanda bekas kekerasan di tubuh adik kandung Bupati Trenggalek Emil Dardak itu.
ADVERTISEMENT
Keterangan mengenai tak adanya tanda bekas kekerasan ini disampaikan oleh Kepala Satuan Reserse Kriminal Polrestabes Bandung AKBP M. Rifai setelah timnya melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) di kamar indekos Eril di Dago, Bandung.
Berdasarkan penuturan Rifai, di dalam kantong plastik yang membungkus kepala Eril itu juga terdapat selang oksigen. "Selang itu diplester menempel ke plastik," ujarnya saat dihubungi kumparan, Kamis (13/12).
Selain terdapat kantong plastik dan selang oksigen, di kamar indekos Eril Dardak polisi juga menemukan krim kocok (whipped cream), gas freon, dan tabung gas helium, yakni tabung yang bertuliskan He.
Suasana kost-kostan Eril di Jalan Dago Asri Bandung. (Foto: Iqbal Tawakal Lazuardi Siregar/kumparan)
Di samping itu, saat Eril pertama kali diketahui telah meninggal, komputer alias personal computer (PC) yang berada di kamarnya ditemukan masih menyala dan sedang menayangkan video soal Medical Regulator Oxygen dari YouTube.
ADVERTISEMENT
Dalam video soal Medical Oxygen Regulator yang kumparan temukan di YouTube, rupanya video tersebut berisi tentang tata cara memasangkan regulator untuk tabung oksigen. Selain itu, video tersebut juga menayangkan bagaimana mengatur tekanan oksigen yang dikeluarkan dari tabung dengan menggunakan regulator.
Medical Oxygen Regulator sendiri sebenarnya adalah alat untuk menyalurkan dan mengatur tekanan atau jumlah oksigen yang dialirkan dari tabung oksigen ke tubuh manusia untuk keperluan terapi. Regulator oksigen ini biasanya terpasang di tabung oksigen, tapi tidak menutup kemungkinan bisa digunakan pada tabung gas lain dan untuk menyalurkan gas lain.
Medical Oxygen Regulator. (Foto: Shutter Stock)
Keberadaan tabung helium
Yang patut dipersoalkan dari barang-barang yang ditemukan di kamar indekos pemuda kelahiran 31 Juli 1997 itu salah satunya adalah keberadaan tabung gas helium atau tabung bertuliskan He.
ADVERTISEMENT
Meskipun belum dipastikan apakah benar-benar ada gas helium di dalam tabung tersebut, He sendiri adalah lambang bagi helium, salah satu unsur kimia dalam tabel periodik. Yang menarik dari unsur kimia satu ini, ia adalah gas paling ringan kedua setelah hidrogen dan memiliki sifat tak berwarna, tak berbau, serta tak berasa.
Eril Arioristanto Dardak. (Foto: dok. infopemilu.kpu.go.id)
Helium kerap kali dimanfaatkan untuk mengelas logam, digunakan untuk tenaga penggerak roket, kriogenik (pembekuan benda-benda yang membutuhkan suhu rendah), dan kadang juga digunakan untuk campuran gas dalam tabung selam. Yang paling banyak dikenali dari fungsi helium adalah untuk mengisi balon agar bisa mengembang.
Selain mengisi balon, helium juga bisa digunakan untuk mengubah suara seseorang agar lebih tinggi atau cempreng sehingga terdengar lucu seperti suara para tupai tanah (chipmunks) dalam kartun Alvin and the Chipmunks atau pun suara Donald Bebek.
ADVERTISEMENT
Menurut Live Science, alasan mengapa suara bisa berubah setelah menghirup helium adalah karena udara yang mengandung helium lebih ringan daripada udara normal yang mengandung nitrogen dan oksigen. Karena itulah suara melaju lebih cepat pada helium sehingga menghasilkan suara yang terdengar aneh alias lebih cempreng tersebut.
Video
Bahaya helium
Meski helium tidak dikategorikan sebagai gas beracun, tapi gas ini bisa berbahaya bagi tubuh manusia yang terlalu banyak menghirupnya. Beberapa kasus yang terjadi di seluruh dunia dapat menjadi bukti bahwa menghirup helium bisa berbahaya bahkan mematikan bagi manusia.
Salah satu kejadian yang menunjukkan bahaya helium pernah tercatat dalam laporan kasus yang dipublikasikan di Western Journal of Medicine pada Mei 2000. Seorang pria berusia 27 tahun di Australia bernama Simon Mitchell mengalami stroke akibat menghirup helium langsung dari tabungnya. Segera setelah ia menghirup helium tersebut, Simon kehilangan kesadaran dan kemudian ia mengalami kebutaan. Ia didiagnosis menderita emboli arteri otak serebral.
ADVERTISEMENT
Stroke yang dialami oleh Simon dikatakan terjadi karena ia menghirup helium dari tabung bertekanan tinggi sehingga menyebabkan pembuluh darah di paru-parunya pecah. Akibatnya, gas tersebut masuk ke pembuluh darah pulmonal dan kemudian ke otaknya.
Kasus yang lebih parah lainnya pernah dialami seorang remaja dari Irlandia Utara bernama Jordan McDowell. Dilansir BBC pada 2010 lalu, Jordan meninggal pada usia 13 tahun di tahun 2010 setelah menghirup helium dari balon yang dibeli untuk ulang tahunnya.
Ilustrasi Balon sebagai Hiasan (Foto: Pixabay)
Banyak digunakan untuk bunuh diri
Yang menyedihkan, belakangan kasus menghirup helium ini banyak ditemukan terkait dengan percobaan bunuh diri. Sebuah laporan kasus yang dipublikasikan di jurnal Psychiatric Annals pada 11 Mei 2016 misalnya membahas sebuah kasus percobaan bunuh diri yang dilakukan seorang pria dengan menghirup helium.
ADVERTISEMENT
Dalam laporan kasus berjudul “A 20-Year-Old Man with a Suicide Attempt Using Helium” itu seorang pria berusia 20 tahun ditemukan tak sadarkan diri oleh ayahnya. Pria tersebut ditemukan tak sadarkan diri di apartemennya dalam kondisi sedang memakai masker yang terhubung dengan tabung helium.
Beruntung, sang ayah segera datang ke apartemen tersebut setelah mendapatkan email dari anaknya yang mengatakan akan bunuh diri. Setelah menemukan anaknya tak sadarkan diri, sang ayah segera menghubungi layanan gawat darurat yang membawa anaknya ke rumah sakit.
Ilustrasi Rumah Sakit (Foto: UNSPLASH)
Dalam laporan kasus medis itu disebutkan, sang anak yang dilaporkan akhirnya selamat dari percobaan bunuh diri tersebut ternyata telah menderita gejala depresi kronis sejak tujuh tahun lalu tapi tidak pernah diobati.
ADVERTISEMENT
Sebuah hasil studi lainnya yang telah dipublikasikan di Archiwum Medycyny Sądowej i Kryminologii (Archives of Forensic Medicine and Criminology), sebuah jurnal yang berbasis di Polandia, pada 13 Mei 2018 juga membahas soal dua percobaan bunuh diri dengan cara menghirup helium.
Hasil studi berjudul “Suicidal asphyxiation by using helium - two case reports” ini melaporkan dua kasus bunuh diri yang dilakukan dengan menggunakan peralatan khusus yang disebut "kantong bunuh diri" alias “suicide bag” atau "exit bag" berisi helium yang dipasok melalui selang plastik.
Dalam kedua kasus tersebut, berdasarkan hasil pemeriksaan tempat kejadian perkara dan analisis materi yang terkumpul, bisa ditetapkan bahwa sebelum kematian mereka, kedua orang itu telah mencari di Internet terlebih dulu mengenai instruksi tentang cara bunuh diri menggunakan helium.
Ilustrasi kematian (Foto: Thinkstock)
Mempersoalkan kemudahan mendapatkan helium
ADVERTISEMENT
Studi yang dipublikasikan di jurnal Polandia di atas tidak hanya menyoroti sebuah kasus percobaan bunuh diri dengan helium, tapi juga mempersoalkan keberadaan tabung helium yang mudah didapatkan.
“Helium sekarang banyak tersedia di tabung isi ulang untuk digunakan dalam balon, dan ketersediaan ini telah berkontribusi pada meningkatnya insiden upaya bunuh diri menggunakan helium,” tulis studi tersebut.
“Hal ini menimbulkan kekhawatiran besar dalam komunitas medis karena tabung balon helium dapat dengan mudah dan mudah diperoleh siapa saja, bahkan dari toko mainan dan toko peralatan las,” papar studi tersebut.
Ilustrasi Anak Membawa Balon (Foto: Pixabay)
Kekhawatiran soal percobaan bunuh diri dengan helium ini sebenarnya telah muncul di Amerika Serikat sejak beberapa tahun lalu. Sebuah studi yang dipublikasikan di The American Journal of Forensic Medicine and Pathology pada 3 September 2002 telah membahas secara khusus fenomena bunuh diri menggunakan helium yang terjadi di Negeri Paman Sam tersebut.
ADVERTISEMENT
Studi berjudul “Asphyxial Suicide with Helium and a Plastic Bag” itu menuliskan adanya korelasi antara 19 kejadian bunuh diri menggunakan helium dengan kehadiran buku berjudul Final Exit: The Practicalities of Self-Deliverance and Assisted Suicide for the Dying yang ditulis oleh Derek Humphry.
Buku Final Exit itu sendiri telah terbit sejak 1991 dan dalam beberapa tahun setelahnya diikuti dengan kemunculan DVD Final Exit dan beberapa tulisan lain yang sama-sama berisi penjelasan mengenai metode bunuh diri menggunakan helium. Kemudahan mengakses tulisan dan video soal cara bunuh diri tersebut di internet kini menjadi persoalan lainnya selain kemudahan untuk mendapatkan tabung helium.
Tabung helium (Foto: davidgljay/Flickr)
Mengapa helium bisa mematikan?
Dilansir BBC, Public Health Agency Irlandia Utara pernah mengeluarkan pernyataan yang menjelaskan bahwa menghirup gas ini memang dapat mematikan. Hal ini karena ketika menghirup helium, oksigen yang ada di dalam tubuh akan digantikan oleh gas tersebut. Padahal, oksigen sangat penting bagi organ-organ di dalam tubuh dan berperan dalam mengeluarkan karbon dioksida dari dalam tubuh.
ADVERTISEMENT
Akibat tidak ada atau kurangnya pasokan oksigen ke dalam tubuhnya, maka seseorang akan mengalami pusing, sakit kepala, sesak napas, pingsan atau bahkan meninggal. Kondisi seperti ini jamak terjadi karena orang tersebut mengalami asfiksia, gangguan pernapasan akibat kurangnya oksigen dalam tubuh.
Asfiksia sendiri ditandai dengan kondisi darah yang kekurangan oksigen, tapi tinggi kandungan karbon dioksida. Asfiksia bisa terjadi karena disengaja, misalnya menghirup helium, karbon dioksida, atau hidrogen. Selain itu, gantung diri juga bisa membuat seseorang meninggal akibat asfiksia.
Jadi, kemudahan seseorang untuk mendapatkan tabung helium tentunya berbahaya karena helium yang terhirup secara sengaja ataupun tidak disengaja dalam jumlah berlebihan dapat mematikan. Mengutip studi dalam The American Journal of Forensic Medicine and Pathology di atas, helium disebutkan dapat mematikan manusia yang menghirupnya meski hanya dalam hitungan menit.
Ilustrasi kematian (Foto: Pixabay)
Kematian Eril Dardak
ADVERTISEMENT
Eril pertama kali diketahui telah meninggal oleh seorang petugas kebersihan di rumah indekosnya pada Rabu (12/12) sekitar pukul 11.00 WIB. Saat Eril ditemukan meninggal, pintu kamar indekosnya dalam keadaan terkunci dari dalam.
Selain itu, sudah hampir satu bulan kamar Eril tidak dibersihkan oleh pembantu di rumah indekosnya. Kasat Reskrim Polrestabes Bandung AKBP M Rifai mengatakan, Eril menolak pembantu indekosnya tersebut untuk membersihkan kamarnya.
“Makanya kosnya itu sangat berantakan,” ujar Rifai.
Rifai memastikan Eril tewas bukan karena tindakan kekerasan. Namun sampai saat ini penyebab kematian Eril masih belum bisa dipastikan.
Eril Arioristanto Dardak. (Foto: IG @adi_s1ap)
Sementara itu, pihak keluarga menolak jenazah Eril diautopsi. Pihak keluarga mengatakan sudah ikhlas atas kepergian Eril dan meyakini Eril meninggal karena serangan jantung meski pemuda itu tak pernah memiliki riwayat penyakit jantung sebelumnya.
ADVERTISEMENT
“Nah itu dia mungkin itu terlewatkan karena namanya anak muda mana mikir (sakit jantung), saya jadi akan mikir juga ini jenengan (Anda) cek juga ya ini ada enggak. Karena ya baik-baik saja (awalnya), (kemungkinan) tapi ya itu (meninggal karena) jantung," jelas kakak Eril, Emil Dardak, Kamis (13/12).
Apa pun penyebab kematian Eril Dardak, yang jelas keberadaan tabung gas helium di dalam kamar indekosnya sangat berbahaya. Karena apabila gas helium sampai terhirup tubuh selama beberapa menit saja baik sengaja ataupun tidak, sebagaimana dijelaskan dalam jurnal-jurnal di atas, nyawa manusia bisa jadi taruhannya.
Pemakaman Eril Arioristanto Dardak diwarnai isak tangis keluarga. (Foto: Irfan Adi Saputra/kumparan)
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan dan Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: 1.1.86