kumparan
23 Jan 2018 15:21 WIB

Mengapa Ada Gempa yang Sebabkan Tsunami dan Ada yang Tidak?

Suasana gedung DPR saat gempa (Foto: Hafidz Mubarak/Antara)
Gempa mengguncang Pulau Jawa pada Selasa (23/1) pukul 13.34 WIB. Gempa itu berpusat di 81 kilometer barat daya Lebak, Provinsi Banten.
ADVERTISEMENT
Guncangan gempa berkekuatan 6,1 Magnitudo (sebelumnya sempat disebut 6,4 Magnitudo) ini terasa hingga ke Jakarta dan kota-kota lain di Jabodetabek.
Bahkan, menurut salah satu pembaca kumparan (kumparan.com), Fakhri Sukmana, gempa dapat dirasakan hingga ke tempat tinggalnya di Karawang dan keluarganya yang tinggal di Cilacap, Jawa Tengah pun dapat merasakan guncangannya.
Melalui twitter Humas_BMKG, @InfoHumasBMKG gempa kali ini tidak memiliki potensi tsunami.
Lalu, mengapa ada gempa yang berpotensi tsunami dan ada yang tidak? Apa ciri-ciri gempa yang dapat berpotensi memunculkan tsunami?
Salah satu faktor dari gempa yang dapat memicu tsunami adalah kekuatan dari gempa tersebut. Contohnya pada gempa di Jepang yang terjadi pada 2011, gempa dengan kekuatan 8,9 Magnitudo tersebut memicu terjadinya tsunami.
ADVERTISEMENT
Begitu juga yang terjadi di Mentawai pada tahun 2010. Gempa dengan kekuatan 7,7 Magnitudo tersebut cukup kuat untuk menghasilkan tsunami.
Mengutip Live Science, menurut ahli geofisika badan geologi AS (USGS), Don Blakeman, gempa yang memiliki kekuatan di bawah 7 Magnitudo biasanya tidak akan memicu terjadinya tsunami. Namun begitu terkadang gempa berkekuatan sekitar 6 Magnitudo juga dapat menyebabkan tsunami lokal.
Gempa dapat menyebabkan tsunami apabila aktivitas seismik itu menyebabkan tanah di sepanjang arah jalur patahan gempa itu bergerak naik turun.
Ketika lapisan tanah di dasar laut juga ikut bergerak secara vertikal, baik itu naik atau turun, air akan ikut bergerak dan menghasilkan energi yang kemudian keluar dalam bentuk ombak besar atau tsunami.
ADVERTISEMENT
Adapun gempa bumi yang hanya membuat permukaan tanah bergerak secara horizontal, kemungkinan besar tidak akan menimbulkan tsunami.
Tsunami Aceh (Foto: Wikipedia)
Tinggi dari gelombang tsunami yang terjadi akibat gempa dipengaruhi oleh gerakan vertikal dasar laut.
“Ketika terjadi pergerakan di lautan, gelombang tsunami bisa bergerak sampai 804 hingga 965 kilometer per jam, secepat pesawat jet,” kata Blakeman. “Namun akan melambat ketika mencapai permukaan."
Salah satu hal yang tidak akan mempengaruhi tsunami adalah cuaca. Sebab, cuaca tidak memberikan energi yang cukup untuk menggerakan permukaan laut.
Untuk memperkirakan apakah gempa bumi dapat menyebabkan tsunami dan seberapa besar, peneliti menggunakan sensor melihat untuk tekanan laut dan menggunakan tide gauge (alat pendeteksi tsunami).
Buoy, alat pendeteksi datangnya gelombang tsunami. (Foto: Pixabay)
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·