kumparan
11 Okt 2018 8:46 WIB

Mengapa Tidak Semua Gempa Menyebabkan Tsunami?

Ilustrasi gempa (Foto: GETTY IMAGES/Ulet Ifansasti)
Kamis (11/10) dini hari, cincin api pasifik kembali berguncang. Tercatat ada dua gempa dengan magnitudo cukup besar yang terjadi.
ADVERTISEMENT
Gempa pertama adalah gempa berkekuatan 6,4 magnitudo yang mengguncang wilayah Jawa Timur dan Bali, dijelaskan bahwa gempa ini tidak berpotensi tsunami.
Kemudian dilaporkan juga terjadi gempa 7 magnitudo yang mengguncang Papua Nugini. Menurut United States Geological Survey (USGS), badan geologi AS, gempa tersebut berpotensi tsunami.
Melihat perbedaan adanya gempa berpotensi tsunami dan tidak, muncul pertanyaan di masyarakat mengapa tidak semua gempa menyebabkan tsunami?
Menurut ahli geofisika badan geologi AS (USGS), Don Blakeman, gempa di bawah 7 magnitudo biasanya tidak akan memicu tsunami. Meski demikian, dijelaskan terkadang gempa berkekuatan 6 magnitudo juga bisa saja menyebabkan tsunami lokal.
Di samping itu, Kepala Bidang Informasi Gempabumi dan Peringatan Dini Tsunami Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Daryono, pernah menjelaskan bahwa bagaimana gempa terjadi juga berpengaruh terhadap potensi tsunami.
Seorang wanita yang kehilangan keponakannya saat melihat bangunan yang hancur akibat gempa bumi di Balaroa, Palu. (Foto: REUTERS / Beawiharta)
Gempa dapat menyebabkan tsunami apabila aktivitas seismik itu menyebabkan tanah di sepanjang arah jalur patahan gempa itu bergerak naik turun.
ADVERTISEMENT
Jadi ketika lapisan tanah atau sesar di dasar laut juga ikut bergerak secara vertikal, baik itu naik maupun turun, air akan ikut bergerak dan menghasilkan energi yang kemudian keluar dalam bentuk ombak besar atau tsunami.
Adapun gempa bumi yang hanya membuat permukaan tanah atau sesar bergerak secara horizontal, kemungkinan besar tidak akan menimbulkan tsunami.
"Kecil sekali karena (mekanisme) tidak akan mengganggu volume air laut," kata Daryono, kepada kumparan beberapa waktu lalu. "Kalau yang menyebabkan tsunami biasanya sesar naik dan sesar turun."
Ilustrasi tsunami (Foto: Pixabay)
Sementara itu, Blakeman menjelaskan bahwa ketinggian gelombang tsunami yang terjadi akibat gempa dipengaruhi oleh gerakan vertikal dasar laut.
“Ketika terjadi pergerakan di lautan, gelombang tsunami bisa bergerak sampai 804 hingga 965 kilometer per jam, secepat pesawat jet,” kata Blakeman, dikutip dari Live Science. “Namun akan melambat ketika mencapai permukaan."
ADVERTISEMENT
Biasanya peringatan tsunami akan diberikan oleh pihak berwajib, seperti BMKG di Indonesia beberapa saat setelah gempa terjadi. Namun untuk lebih amannya ada baiknya menjauhi daerah pesisir pantai setelah kejadian gempa dengan magnitudo yang cukup besar.
Gempa 6,4 magnitudo guncang Jawa Timur dan Bali
Gempa berkekuatan 6,4 magnitudo yang mengguncang Kabupaten Situbondo, Jawa Timur, pada Kamis (11/10) sekitar pukul 01.44 WIB, memang tidak berpotensi tsunami. Tapi, getarannya cukup terasa oleh warga. Berlokasi di laut pada jarak 55 kilometer arah timur laut kota Situbondo, getarannya terasa di beberapa wilayah di Jawa Timur dan Bali.
BMKG menyebut gempa tersebut merupakan jenis gempa dangkal. Penggolongan itu dilihat dengan memperhatikan lokasi episenter dan kedalaman hiposenter.
Gempa Situbondo (Foto: Dok. BMKG)
"Gempa bumi dangkal yang diperkirakan akibat aktivitas patahan di zona back arc thrust. Hasil analisis mekanisme sumber menunjukkan bahwa gempa bumi ini dibangkitkan oleh deformasi batuan dengan mekanisme pergerakan sesar naik," ungkap Kepala Pusat Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Rahmat Triyono, dalam keterangan tertulis, Kamis (11/10).
ADVERTISEMENT
Rahmat mengimbau agar masyarakat tetap tenang dan tidak terpengaruh isu tidak benar yang sering muncul setelah gempa.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan