Pencarian populer

Menguji Data Dana Riset yang Dikutip Achmad Zaky di Tweet-nya

Achmad Zaky, CEO Bukalapak. Foto: Bukalapak

Tagar #UninstalBukalapak yang saat ini sedang ramai di Twitter bermula dari cuitan Bos Bukalapak Achmad Zaky mengenai perbandingan dana riset Indonesia dengan negara-negara lain. Zaky tampak skeptis Indonesia bisa masuk ke era industri 4.0 bila dana yang dikucurkan negara untuk riset dan pengembangan (Research & Development/R&D) sangat kecil.

“Omong kosong industri 4.0 kalau budget R&D negara kita kayak gini (2016,USD),” cuit Achmad Zaky di akun Twitternya, @achmadzaky, pada Rabu (13/2).

Di dalam cuitan yang kini telah dihapus itu, Zaky membeberkan data bahwa dana R&D Indonesia pada 2016 hanyalah 2 miliar dolar AS, lebih kecil dibanding Malaysia dan Singapura yang masing-masing sebesar 10 miliar dolar AS, dan bahkan jauh lebih kecil dibanding Jepang yang sebesar 165 miliar dolar AS dan China yang sebesar 451 miliar dolar AS.

Di akhir cuitannya tersebut, Zaky mengatakan “mudah-mudahan Presiden baru bisa naikin.”

Kicauan CEO dan pendiri Bukalapak, Achmad Zaky, di Twitter yang telah dihapus. Foto: Twitter

Meski kebanyakan warga internet tampaknya lebih mempersoalkan kalimat --lebih spesifiknya lagi soal kata “Presiden baru”-- di bagian akhir cuitan Zaky tersebut, data soal dana riset yang dipaparkan Zaky itu rupanya juga ikut dipermasalahkan oleh banyak warganet.

Beberapa warganet menyebut bahwa Zaky telah memelintir data. Zaky disebut telah mengutip data pada 2013 tapi malah menyebutnya sebagai data pada 2016.

Pertanyaannya, data dari mana yang dikutip oleh Zaky? Apakah data tersebut memang benar?

Berdasarkan penelusuran tim kumparan, diketahuilah bahwa data yang Zaky kutip itu tampaknya berasal dari data Wikipedia yang bersumber dari data UNESCO Institute for Statistics (UIS). UIS sendiri adalah kantor statistik UNESCO sekaligus tempat penyimpanan PBB terkait data statistik mengenai pendidikan, ilmu pengetahuan dan teknologi, budaya, dan komunikasi yang dapat diperbandingkan secara lintas negara.

Data mengenai perbandingan dana R&D sejumlah negara ini dapat kita lihat di situs resmi UIS. Data-data ini ditampilkan secara visual interaktif.

Di situs itu tertampil data bahwa dana R&D Indonesia adalah sebesar 2,13 miliar dolar AS, tidak jauh beda dengan angka yang dikutip Zaky, yakni 2 miliar dolar AS. Namun bila data itu disebut sebagai data tahun 2016, itu tidak tepat. Sebab, dalam situs tersebut disebutkan, data dana R&D Indonesia yang ditampilkan itu adalah data tahun 2013.

Di situs itu juga ditampilkan data bahwa dana R&D Indonesia pada 2013 hanyalah sebesar 0,1 persen dari nilai produk domestik bruto (gross domestic product/GDP) Indonesia.

Besar dana R&D Indonesia tahun 2013 Foto: UNESCO Institute for Statistics (UIS)

Lalu bagaimana dengan besar dana R&D Indonesia pada 2016? Atau adakah data terkini soal dana R&D Indonesia dan negara-negara lainnya?

Berdasarkan laporan bertajuk “2018 Global R&D Funding Forecast”, besar dana R&D Indonesia pada 2016 ternyata adalah 9,38 miliar dolar AS atau sebesar 0,89 persen GDP Indonesia. Laporan itu dibuat berdasarkan himpunan data-data dari International Monetary Fund, World Bank, CIA World Fact Book, dan OECD.

Selain mencatat dana R&D aktual dari 40 negara di seluruh dunia pada 2016, laporan ini juga mengestimasi bahwa dana R&D Indonesia pada 2017 adalah sebesar 9,81 miliar dolar AS dan menaksir pada 2018 angka itu naik menjadi 10,23 miliar dolar AS.

Yang menarik, dalam laporan ini terlihat bahwa dana R&D Indonesia pada 2016 juga masih lebih kecil dibanding dana R&D Malaysia dan Singapura atau bahkan jauh lebih kecil dibanding Jepang dan China pada tahun yang sama.

Besar dana R&D Indonesia dan negara-negara lainnya tahun 2016 Foto: 2018 Global R&D Funding Forecast

Laporan ini menyebutkan bahwa dana R&D Malaysia pada 2016 adalah 11,58 miliar dolar AS dan Singapura adalah 12,81 miliar dolar AS. Adapun dana R&D Jepang pada 2016 adalah sejumlah 185,95 miliar dolar AS dan China adalah sebesar 424,86 miliar dolar AS. Ya, dana R&D Jepang dan China adalah sekitar 18 dan 42 kali lebih besar daripada dana R&D Indonesia.

Perlu diketahui juga bahwa dari laporan tersebut, nilai GDP Jepang dan China pada 2016 adalah 5 dan 21 kali lebih besar dibanding GDP Indonesia. Ini menunjukkan bahwa kedua negara itu punya total dana APBN yang memang sangat besar sehingga bisa dipakai untuk berbagai keperluan, termasuk untuk R&D.

Namun yang patut menjadi pelajaran, dana R&D Jepang dan China bisa demikian besar juga karena masing-masing mereka rela mengucurkan dana sampai 3,55 persen dan 1,94 persen dari dana GDP mereka untuk keperluan R&D.

Persentase dana R&D Indonesia? Ya seperti yang disebutkan di atas, sayangnya, bahkan tidak sampai 1 persen dari GDP.

Nah bila fakta bahwa dana riset di Indonesia ternyata begini, maka layakkah seorang Achmad Zaky kemudian mempersoalkannya dan bersikap skeptis pada negara ini?

Achmad Zaky, CEO dan pendiri Bukalapak. Foto: Bukalapa
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Bagikan ide, informasi, momen dan cerita kamu melalui
kumparan
Dengan ini kamu menyetujui syarat
& layanan dari kumparan
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: web: