kumparan
10 Jun 2017 13:21 WIB

Mewaspadai Kanker Serviks, Penyakit yang Merenggut Julia Perez

Julia Perez meninggal dunia (Foto: Muhammad Faisal/kumparan)
“Innalilahiwainailahirojiun telah berpulang kakak kami tercinta Julia Perez. Minta doanya ya semua, terimakasih semua atas support-nya selama ini,” ujar Nia Anggia, adik Julia Perez, melalui akun Instagram-nya.
ADVERTISEMENT
Setelah sekian tahun berjuang melawan kanker serviks yang ia derita, Julia Perez akhirnya mengembuskan napas terakhir pada bulan Ramadhan siang ini, Sabtu (10/6), di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM), Jakarta Pusat.
Pada 2017 ini, kesehatan selebriti berusia 36 tahun ini memang memburuk. Kanker serviks yang ia idap memasuki tahap stadium 4. Bahkan, kondisi terbarunya, kaki dan perut Jupe juga sempat membengkak.
Loading Instagram...
Selama ini kanker serviks dikenal sebagai penyakit kanker yang paling banyak menyerang dan membunuh kaum perempuan. Kanker lain yang juga banyak menyerang perempuan adalah kanker payudara, usus besar, paru-paru, dan tiroid.
Khusus kanker serviks, Ketua Yayasan Kanker Indonesia (YKI) Aru Wicaksono, pernah mengatakan, "Penderita kanker serviks jumlahnya sangat tinggi. Setiap tahun tidak kurang dari 15.000 kasus kanker serviks terjadi di Indonesia. Itu membuat kanker serviks disebut sebagai penyakit pembunuh wanita nomor 1 di Indonesia."
ADVERTISEMENT
Aru menjelaskan, “Label itu tidak berlebihan karena tiap hari di Indonesia dari 40 wanita yang terdiagnosa menderita kanker serviks, dan 20 di antaranya meninggal.”
Tingginya kasus kanker serviks di Indonesia membuat WHO menempatkan Indonesia sebagai negara dengan jumlah penderita kanker serviks terbanyak di dunia.
Sementara kanker payudara merupakan penyakit kanker dengan kasus terbanyak kedua di Indonesia setelah kanker serviks.
Kanker serviks, atau yang dikenal sebagai kanker mulut rahim, adalah kanker yang menyerang leher rahim, pintu masuk dari vagina menuju rahim.
Sebelum penyakit kanker serviks Jupe memasuki stadium 4 pada tahun ini, semula pada 2014 ia mengidap kanker serviks dengan diagnosa awal stadium 2A.
ADVERTISEMENT
Julia Perez saat dirawat. (Foto: Instagram @anggietheperez)
Kanker serviks terbagi dalam 4 stadium. Pada stadium 1, gejalanya berupa pendarahan kecil setelah berhubungan intim, sebelum dan sesudah menopause, siklus haid yang tak teratur, serta keluarnya cairan aneh yang biasa dikenal sebagai keputihan dalam waktu lama dan mengeluarkan bau.
Persentase kesembuhan pada stadium awal ini masih sangat tinggi, yaitu 80 persen hingga 90 persen.
Pada stadium 2, tanda-tanda yang muncul adalah pendarahan yang semakin banyak, disertai sakit pada bagian vagina serta pinggang, nafsu makan menurun, sakit saat berhubungan intim, dan bengkak pada kaki. Pada stadium ini, harapan hidup masih tersisa 60 persen.
ADVERTISEMENT
Sementara pada stadium 3, harapan hidup penderitanya tinggal 25 persen. Pada stadium ini kanker telah menyebar hingga rongga panggul, dan mungkin saja sudah mengenai kelenjar getah bening.
Gejala yang timbul masih sama, tapi dalam tahap lebih parah. Penderita akan merasa ingin buang air kecil terus-menerus, dan pada urine biasanya mengandung darah.
Rasa cepat lelah dan perasaan sensitif juga muncul. Sakit di bagian panggul belakang akan sangat mengganggu saat duduk maupun berdiri. Oleh karena itu dokter biasanya memberi obat penahan rasa sakit.
Video
Pada stadium 4 atau yang juga disebut sebagai stadium lanjut, biasanya sel kanker sudah menyebar ke seluruh tubuh, seperti saluran pencernaan, hati, tulang, bahkan hingga paru-paru. Cara memerangi kanker serviks jika sudah mencapai stadium ini adalah radioterapi dan kemoterapi.
ADVERTISEMENT
Namun pelaksanaan kemoterapi memiliki efek samping seperti sariawan, mual dan muntah, rambut menjadi rontok, serta kehilangan selera makan. Harapan hidup pada stadium ini kurang dari 20 persen.
Penyebab kanker serviks adalah akibat infeksi virus HPV 16 dan HPV 18 yang masuk ke dalam tubuh lewat hubungan intim. Selain HPV sebagai penyebab utama kanker serviks, faktor pendukung lain adalah merokok, sering berganti pasangan, hamil di bawah usia 17 tahun, hamil lebih dari tiga kali, mengonsumsi pil KB, serta kurangnya serat dari buah dan sayuran. Selain itu, riwayat keluarga juga patut diperhatikan.
Cara terbaik untuk mengahadapi kanker serviks adalah melalui deteksi dini sehingga pengobatan dan perawatan terhadap pasien dapat dilakukan seawal mungkin ketika harapan hidupnya terbilang masih cukup besar.
Julia Perez di RS. (Foto: Cornelius Bintang/kumparan)
Kanker serviks umumnya menyerang perempuan yang aktif secara seksual. Namun begitu, tak ada pengecualian pada perempuan yang lain. Sebab, semakin bertambah usia, semakin tinggi risiko seorang perempuan terkena penyakit ini.
ADVERTISEMENT
Oleh karenanya semua perempuan dianjurkan untuk rajin memeriksakan kesehatan rahimnya dengan melakukan vaksinasi dan pap smear. Pap smear merupakan prosedur pengambilan sampel sel dari leher rahim untuk memastikan ada atau tidak ketidaknormalan yang dapat mengarah kepada kanker serviks pada perempuan.
Melihat banyaknya kasus kanker rahim yang berujung pada kematian, setiap perempuan sebaiknya menjaga kesehatan tubuh dengan pola hidup sehat dan rajin memeriksakan diri untuk memastikan tubuh tetap sehat.
Tidak perlu takut terhadap penyakit jika kita telah membiasakan diri hidup sehat.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan