kumparan
19 Sep 2019 15:26 WIB

NASA dan ESA Mau Hantam Asteroid Pakai Pesawat Luar Angkasa

Ilustrasi hantaman asteroid. Foto: 470906 via pixabay.
NASA bekerja sama dengan European Space Agency (ESA) punya rencana ekstrem. Mereka mau menghantam asteroid dengan sebuah pesawat luar angkasa. Tujuannya? Mereka ingin mengetahui apakah hantaman itu bisa dipakai untuk melindungi Bumi dari asteroid yang mungkin datang menabrak kita.
ADVERTISEMENT
Asteroid yang dipilih jadi uji coba adalah Didymos B, salah satu dari sistem asteroid biner Didymos. Sedangkan untuk pesawat luar angkasanya mereka akan menggunakan Double Asteroid Redirection Test (DART) milik NASA.
Proyek bernama Asteroid Impact and Deflection Assessment (AIDA) ini telah diumumkan pada 2015 lalu. Pada 11 sampai 13 September 2019 lalu, ada para peneliti berkumpul di acara PS-DPS Joint Meeting 2019 di Geneva, Swiss, untuk membahas proyek ini.
"Hari ini, kita adalah manusia pertama dalam sejarah yang memiliki teknologi dengan potensi untuk mementalkan asteroid yang akan menghantam Bumi," ujar astronom ESA, Ian Carnelli, dilansir Science Alert.
"Meski begitu, pertanyaan kunci yang harus dijawab adalah apakah teknologi dan pemodelan yang kita lakukan akan benar-benar bekerja? Sebelum kita mengendarai mobil kita harus punya asuransi. AIDA ini adalah asuransi bagi planet Bumi."
ADVERTISEMENT
Asteroid Didymos dianggap sebagai kelinci percobaan yang sempurna. Sebab, asteroid itu termasuk objek dekat Bumi yang jalurnya tidak mengarah ke Bumi. Jadi, kecil kemungkinan hasil uji coba ini membuat si asteroid malah mengarah ke Bumi.
"Target DART, Didymos, adalah kandidat ideal bagi eksperimen perlindungan planet pertama yang manusia lakukan," ujar peneliti Nancy Chabot dari Johns Hopkins University Applied Physics Laboratory.
"Dia tidak mengarah ke Bumi jadi tidak mengancam planet kita. Selain itu, properti binernya membuat DART bisa menguji dan mengevaluasi dampak dari hantaman kinetik.".
Di sistem asteroid biner Didymos ada dua objek berbeda. Objek yang lebih besar disebut Didymos A dengan luas 780 meter, sedangkan yang lebih kecil adalah Didymos B yang luasnya 160 meter. DART direncanakan bakal menghantam Didymos B dengan kecepatan 23.760 kilometer per jam.
Ilustrasi DART. Foto: NASA.
Berdasarkan pemodelan, dampak hantaman tidak akan begitu besar. Kecepatan Didymos B bakal berganti hanya sekitar satu sentimeter per detik.
ADVERTISEMENT
Meski terdengar sangat sedikit, jika hal itu bisa kita lakukan pada asteroid yang akan menghantam Bumi, planet biru itu bisa selamat.
DART dijadwalkan meluncur pada Juli 2021 dan akan menghantam asteroid pada September 2022. Nanti akan ada sebuah satelit mungil bernama LICIAcube yang menempel di pesawat, dan melepaskan dirinya sebelum hantaman terjadi. Satelit itu bertugas mengambil foto dan mengirim kembali gambarnya ke Bumi.
Ilustrasi DART. Foto: NASA/Johns Hopkins APL.
Selanjutnya, NASA dan ESA akan mengirim sebuah pesawat luar angkasa kecil pada 2023. Pesawat ini rencananya akan sampai di Didymos B pada 2027 dan melakukan pengamatan dampak hantaman DART.
"Selain teknologi dan ilmu pengetahuan, AIDA juga eksperimen yang baik dalam hal kolaborasi antara peneliti dan badan luar angkasa di seluruh dunia. Ini adalah yang kita perlukan jika ada asteroid yang akan menghantam Bumi di kemudian hari," kata Carnelli.
ADVERTISEMENT
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan