kumparan
27 Mar 2019 7:09 WIB

Pemerintah AS Bunuh Ribuan Kucing dan Anjing demi Riset Kontroversial

Kucing dan Anjing Foto: Pixabay
Hasil sebuah investigasi menemukan, pemerintah AS telah membeli ratusan kucing dan anjing untuk jadi makanan anak-anak kucing yang sehat. Laboratorium Departemen Pertanian AS (USDA) di Maryland telah membeli sejumlah besar anjing dan kucing untuk proyek-proyek penelitian yang "tidak perlu", kata laporan hasil investigasi tersebut, sebagaimana dilansir IFL Science.
ADVERTISEMENT
Proyek-proyek penelitian “tidak perlu” tersebut antara lain dilakukan dengan cara memberi makan otak kucing ke anak kucing sehat dan menyuntikkan hati dan lidah kucing ke tikus.
Laporan hasil investigasi berjudul "USDA KITTEN CANNIBALISM" itu merinci bagaimana USDA telah membeli banyak hewan dari pasar daging dan tempat-tempat lain untuk digunakan dalam percobaan terkait toksoplasmosis, penyakit yang timbul akibat infeksi parasit bernama Toxoplasma gondii.
Anjing dan Kucing Foto: Pixabay
Menurut laporan itu, laboratorium USDA di Maryland telah memberi makan kucing dan anjing yang sudah lebih dulu dibuat terinfeksi Toxoplasma gondii ke kucing-kucing yang sehat agar juga tertular. Setelah para peneliti memanen parasit dari kotoran kucing selama beberapa minggu, mereka kemudian membunuh dan membakar hewan-hewan itu.
ADVERTISEMENT
Riset tersebut menerima dana sebesar 650 ribu dolar AS per tahunnya dari uang pajak masyarakat dan telah menghabiskan total uang sebesar 22,5 juta dolar AS atau sekitar Rp 319 miliar. Rangkaian penelitian itu setidaknya telah membunuh lebih dari 3.000 kucing sejak dimulai pada tahun 1982 lalu.
Riset yang Kontroversial
Kucing dikenal sebagai hewan yang bisa menjadi inang untuk telur parasit Toxoplasma gondii. Parasit ini bisa menginfeksi dan menular ke manusia yang mengonsumsi makanan atau air yang terkontaminasi dengan kotoran kucing.
Pada manusia, penyakit toksoplasmosis bisa menyebabkan gejala-gejala seperti demam, pembengkakan kelenjar getah bening, dan nyeri otot. Penyakit inilah yang hendak diteliti guna menemukan cara pencegahan dan penyembuhan penyakit tersebut pada manusia.
Ilustrasi Kucing Foto: Pexels
Namun cara USDA melakukan riset ini dianggap kontroversial. Berdasarkan laporan yang dibuat oleh White Coat Waste Project (WCW) tersebut, untuk penelitian terkait toksoplasmosis ini, USDA telah membeli kucing dan anjing dari sumber yang patut dipertanyakan, antara lain:
ADVERTISEMENT
- 42 kucing dibeli di pasar hewan peliharaan dan peternakan daging Cina dan dibunuh sebelum hati dan lidah kucing-kucing itu dikirim ke AS untuk disuntikkan ke tikus.
- 48 kucing liar ditangkap di Ethiopia dan dibunuh sebelum hati kucing-kucing itu dikirim ke lab untuk diumpankan ke tikus.
- 34 kucing dibeli di pasar daging Cina, dibunuh, dan lidah, otak, dan hati kucing-kucing itu dikirim ke Maryland.
- 309 anjing diperoleh dari tempat penampungan di Kolombia, dibunuh, dan otak, lidah, dan hati kucing-kucing itu dikirim ke AS untuk diberi makan ke kucing-kucing lain.
- 120 anjing di penampungan Brasil dibunuh dan lidah, otak, dan hati 20 anjing di antaranya diberi makan ke kucing-kucing di AS.
ADVERTISEMENT
- 42 anjing di pasar daging Vietnam dibeli dan dibunuh. Hati, otak, dan lidah beberapa anjing ini dikirim ke Maryland dan diumpankan ke kucing-kucing.
Ilustrasi peneliti di laboratorium. Foto: jarmoluk/Pixabay
Banyak anggota Kongres AS menentang perlakuan-perlakuan yang kejam terhadap kucing dan anjing oleh USDA ini. Mereka meminta praktik ini dihentikan.
"Keputusan USDA untuk membantai anak-anak kucing setelah mereka digunakan dalam penelitian adalah praktik kuno dan perlakuan buruk, dan kita harus mengakhirinya," kata Senator Jeff Merkley, salah satu anggota Kongres AS, kepada NBC News.
“Ini mengerikan. Kongres harus mencegah lembaga pemerintah membuang-buang uang pembayar pajak untuk melakukan eksperimen kejam terhadap hewan. Saya akan terus memimpin perjuangan ini dan mendukung undang-undang untuk mengakhiri penyalahgunaan aneh ini,” kata Dina Titus, anggota Kongres AS lainnya.
ADVERTISEMENT
Mantan ilmuwan USDA Jim Keen mengatakan praktik yang kejam terhadap hewan ini tidak masuk akal. "Ini gila. Kucing kanibal, kucing pemakan anjing," katanya. "Aku tidak melihat logikanya."
Wakil presiden WCW bidang advokasi dan kebijakan publik, Justin Goodman, juga mengatakan kepada NBC News bahwa praktik ini sebenarnya tidak lagi diperlukan karena para peneliti sebenarnya dapat terus menggunakan sampel yang sudah mereka miliki.
"Mereka tidak perlu melakukannya (menginfeksi dan membunuh hewan-hewan) lagi; itu secara ilmiah tidak perlu," tegasnya.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan