kumparan
13 Mar 2018 7:44 WIB

Peneliti Temukan Bakteri Penyebab Penyakit Autoimun Selena Gomez

Selena Gomez. (Foto: Instagram @selenagomez)
Beberapa tahun yang lalu, Selena Gomez sempat tidak terlihat sama sekali ke depan publik dan menjauhi gemerlapnya dunia hiburan.
ADVERTISEMENT
Sampai akhirnya, pada September 2015, Selena buka suara kepada majalah Billboard dan mengatakan bahwa ia sedang menjalani kemoterapi untuk pengobatan penyakit lupus.
Pada tahun 2017, Selena mempublikasi foto di Instagram yang memperlihatkan ia bersama seorang teman dekatnya tengah berpegangan tangan di ruang operasi. Saat itu, ia sedang menjalani operasi transplantasi ginjal dan temannya tersebut yang menjadi donor.
Penyakit lupus seperti yang dialami oleh Selena adalah penyakit autoimun. Pada penderita penyakit ini, sistem kekebalan tubuh yang seharusnya melindungi mereka dari penyakit justru malah berbalik dan menyerang mereka karena mereka menerima 'sinyal' yang salah dan mengira tubuh sedang diserang oleh penyakit.
Lupus, seperti yang diderita oleh Selena Gomez, rheumatoid, arthritis, dan Hashimoto’s thyroiditis adalah sedikit contoh dari ratusan jenis kasus penyakit autoimun.
ADVERTISEMENT
Kasus penyakit autoimun semakin meningkat, dan baru belakangan kewaspadaan terhadap penyakit ini semakin meningkat pula setelah seringkali terabaikan.
Banyak penderita penyakit ini yang harus berobat selama bertahun-tahun dan belum bisa terdiagnosis penyakit apa yang mereka alami.
Ilustrasi sakit (Foto: Thinkstock)
Bakteri Enterococcus gallinarum
Sebuah paper yang dipublikasikan di jurnal Science mungkin dapat memberikan harapan baru bagi para penderita penyakit autoimun.
Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Yale University di Amerika Serikat mungkin telah menemukan penyebab dari penyakit ini. Penelitan tersebut mengkaitkan reaksi dari autoimun dengan bakteri yang ada di usus. Bakteri tersebut bernama Enterococcus gallinarum.
Respons dari autoimun dapat dipicu ketika bakteri tersebut secara tiba-tiba berpindah dari perut ke organ lainnya di tubuh seperti ke limpa, hati, dan kelenjar getah benih.
Ilustrasi bakteri. (Foto: skeeze via Pixabay)
Studi ini dilakukan terhadap tikus yang secara genetik dibuat untuk mengalami penyakit autoimun. Kemudian, para peneliti mengamati penyebab peradangan atau yang terlibat dalam produksi antibodi yang menyebabkan respons autoimun.
ADVERTISEMENT
Hasilnya kemudian dapat dikonfirmasi ketika mereka membandingkan hasil kultur sel pada orang sehat dengan orang yang menderita penyakit autoimun yang memiliki pertanda kehadiran bakteri Entrococcus gallinarum.
Virus (Foto: Pixabay)
Para peneliti bukan hanya bisa mengidentifikasi sumber penyakit namun juga dapat mengembangkan cara untuk mengurangi gejala penyakit ini dengan menggunakan antibiotik atau vaksin yang dapat memperlambat pertumbuhan bakteri penyebab penyakit ini.
"Vaksin melawan E. gallinarum merupakan langkah yang tepat karena vaksin terhadap bakteri lain tidak mampu mencegah kematian dan autoimunitas," kata Martin Kriegel, penulis senior studi ini dalam pernyataannya yang dilansir IFL Science.
"Vaksin dimasukkan melalui suntikan di otot sehingga tidak membunuh bakteri lain di dalam perut. Pengobatan dengan antibiotik dan lainnya seperti vaksin adalah cara yang menjanjikan untuk meningkatkan kesempatan hidup untuk penderita penyakit autoimun."
ADVERTISEMENT
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan