Pencarian populer

Peneliti Temukan Salah Satu Pohon Tertua di Bumi, Usianya 2.624 Tahun

Pepohonan cemara gundul di Rawa Carolina Utara, AS. Foto: Dan Griffin/University of Arkansas

Tim peneliti berhasil menemukan sejumlah pohon cemara gundul (bald cypress) atau Taxodium distichum yang usianya di atas 2 ribu tahun. Pohon-pohon ini ditemukan di daerah rawa di Carolina Utara, Amerika Serikat.

Salah satu dari pohon-pohon itu diketahui berusia 2.624 tahun. Ini menjadikannya sebagai pohon cemara botak tertua di bagian timur Amerika Utara. Selain itu, temuan ini menjadikan pohon cemara gundul sebagai jenis pohon rawa di Bumi yang punya usia sangat panjang.

Temuan pohon berusia 2.624 tahun ini telah dipublikasikan di jurnal Environmental Research Communications. Pohon ini sebenarnya telah ditemukan pada 2017 lalu.

Pohon itu ditemukan oleh David Stahle, pemimpin riset sekaligus peneliti dari University of Arkansas. Ia dan timnya mengambil 110 sampel inti dari pohon untuk menemukan usianya. Mereka menggunakan penanggalan karbon untuk menentukan usia pohon itu.

Sebelumnya, Stahle dan timnya sudah melakukan riset di wilayah tersebut. Mereka telah menemukan adanya pohon cemara botak yang berusia sampai 1.700 tahun. Tapi data terbaru, yang diambil dari pohon-pohon yang belum dipelajari sebelumnya, memberi dugaan bahwa pohon cemara ini punya usia yang lebih panjang.

"Area pertumbuhan dari cemara botak 10 kali lebih besar dibanding yang saya sadari," kata Stahle, dilansir Newsweek.

"Kami menduga bahwa masih ada pohon yang lebih tua di luar sana," lanjut dia.

Video

Pohon-pohon bald cypress ini membentuk suatu ekosistem di rawa-rawa yang memanjang sebanyak 100 kilometer di sisi Black River. Oleh para peneliti, ekosistem ini disebut sebagai salah satu area alami terbaik di sebelah timur Amerika Utara.

Black River merupakan salah satu sungai terbersih dan memiliki kualitas tinggi di Carolina Utara. Riset Stahle mendorong usaha pelestarian area itu.

Bahkan, Nature Conservancy, kelompok pelestarian swasta, telah membeli 6.400 hektare wilayah ekosistem sungai tersebut demi menjaga keasrian wilayah itu. Meski begitu para peneliti mengatakan bahwa ada ribuan hektare hutan kuno yang belum dilindungi.

"Semakin tidak biasa untuk melihat pohon kuno tumbuh di sepanjang sungai seperti ini," ujar Stahle. "Pohon cemara botak sangat berharga bagi industri kayu dan mereka telah banyak ditebang. Kurang dari satu persen hutan cemara botak yang masih bertahan," sambungnya.

Selain memiliki usia yang tua, pohon-pohon ini juga bisa membantu peneliti mempelajari iklim wilayah itu di masa lampau. Ini karena pertumbuhan pohon-pohon itu dipengaruhi oleh kondisi basah atau kering. Perbedaan itu muncul di sampel inti pohon.

Para peneliti mengatakan bahwa sampel pohon yang didapat memberi informasi iklim yang bisa digunakan untuk mengestimasi kondisi sebelumnya di Amerika Utara. Sampel pohon memberi bukti adanya kekeringan dan banjir yang terjadi di sana sebelum datangnya orang Eropa.

"Riset Dr. Stahle atas Black River, yang menunjukkan adanya pohon dari masa Romawi, telah menginspirasi kami untuk memulai usaha pelestarian Black River lebih dari dua dekade lalu," kata Katherine Skinner, direktur eksekutif Nature Conservancy di Carolina Utara.

"Hutan kuno ini telah memberi kita pengetahuan atas bagaimana Carolina Utara terlihat berabad-abad lalu. Ini adalah sumber inspirasi dan ekosistem yang penting. Tanpa Dr. Stahle, hutan ini akan tidak terlindungi dan kemungkinan besar hancur," lanjutnya.

Menurut para peneliti, pohon yang berusia di atas 2 ribu tahun sangat langka di dunia. Sampai saat ini, hanya ada delapan jenis pohon yang dibuktikan hidup lebih lama dari angka itu. Enam di antaranya ditemukan di sebelah barat Amerika Serikat, satu di Chile, dan sekarang pohon cemara gundul di Carolina Utara.

Para peneliti berharap bahwa temuan terbaru bisa meningkatkan usaha pelestarian di daerah penemuan tersebut. Hal ini bisa memitigasi ancaman yang dihadapi hutan rawa-rawa kuno.

"Untuk melawan ancaman ini, penemuan pohon tertua di sebelah timur Amerika Utara, yang merupakan pohon tertua di Bumi, memberi insentif kuat bagi usaha konservasi dari pihak swasta, pemerintah, dan pemerintah negara bagian atas sungai ini," tulis para peneliti di risetnya.

Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
Bagikan ide, informasi, momen dan cerita kamu melalui
kumparan
Dengan ini kamu menyetujui syarat
& layanan dari kumparan
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: 1.1.31