kumparan
19 Sep 2019 19:39 WIB

Pentingnya Rutin Cek Tekanan Darah di Rumah untuk Hindari Hipertensi

Ilustrasi memeriksa tekanan darah sendiri. Foto: PxHere
Hipertensi atau tekanan darah tinggi telah menjadi penyakit penyebab kematian terbanyak di dunia. Menurut hasil riset yang dilakukan oleh World Health Organization (WHO) pada tahun 2015, sekitar 1,13 miliar orang di dunia mengidap hipertensi. Hasil riset itu juga menyebut bahwa 1 dari 4 laki-laki dan 1 dari 5 perempuan di seluruh dunia saat ini berisiko menderita hipertensi.
ADVERTISEMENT
"Hipertensi merupakan penyebab kematian dan kesakitan terbanyak di seluruh dunia, baik di negara yang sedang berkembang maupun di negara yang sudah maju. Di mana, di setiap tahunnya diperkirakan 10 juta orang meninggal akibat penyakit ini,” ujar Tunggul D. Situmorang, dokter spesialis penyakit dalam yang kini menjabat sebagai Ketua Umum Indonesia Society of Hypertension (InaSH), saat mengisi acara media briefing di Fairmont Hotel, Jakarta Pusat, Kamis (19/9).
“Hipertensi juga disebut sebagai pintu masuk atau faktor utama yang menyebabkan penyakit jantung, gagal ginjal, diabetes, stroke, dan banyak penyakit lainnya. Tapi stroke dan penyakit jantung jadi penyebab kematian akibat hipertensi tertinggi di Indonesia,” imbuh Tunggul.
Ilustrasi terkena serangan jantung. Foto: Shutterstock
Di Indonesia sendiri, hipertensi menempati urutan kelima sebagai penyebab kematian terbanyak. Menurut Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) dari Kementerian Kesehatan RI yang dilakukan pada tahun 2018, prevalensi penderita hipertensi di Indonesia mengalami peningkatan menjadi 34,1 persen dari 26,5 persen pada tahun 2013.
ADVERTISEMENT
Yang mengkhawatirkan, menurut Yuda Turana, dokter spesialis saraf sekaligus anggota Dewan Pembina InaSH, berdasarkan riset yang dilakukan oleh InaSH, 63 persen pasien di Indonesia mengonsumsi obat antihipertensi tanpa pemantauan. Riset mereka juga menunjukkan bahwa sebagian besar pasien tidak melakukan cek tekanan darah secara teratur dan mandiri di rumahnya.
Padahal, saat ini diagnosis hipertensi tidak lagi hanya bisa didasarkan atas pengukuran tekanan darah di rumah sakit atau klinik praktik dokter yang disebut dengan “Office Blood Pressure”. Masyarakat telah dianjurkan untuk melakukan pengecekan tekanan darah di rumah atau disebut “Out of Office Blood Pressure”.
“Banyak studi yang menunjukkan bahwa melakukan cek tekanan darah di rumah (CERAMAH), memiliki nilai prognostik yang lebih baik jika dibandingkan dengan mengandalkan pemeriksaan tekanan darah di rumah sakit,” ujar Yuda.
Dr. dr. Yuda Turana, Anggota Dewan Pembina InaSH. Foto: kumparan/Habib Allbi Ferdian
Pentingnya melakukan CERAMAH ini tak lain karena hipertensi yang menyebabkan serangan jantung dan stroke biasanya terjadi di rumah, dan serangan ini kerap tidak bisa diprediksi.
ADVERTISEMENT
Dalam hal ini, InaSH telah melakukan kampanye CERAMAH yang diluncurkan pada 2018, sebagai upaya untuk menurunkan prevalensi hipertensi yang saat ini masih tinggi di Indonesia, dengan data catatan 1 dari 3 orang Indonesia telah terkena hipertensi.
Ada beberapa manfaat ketika seseorang melakukan CERAMAH, salah satunya adalah data tensi darah yang terus dipantau berperan sangat penting untuk memberi informasi kepada dokter, yang kemudian dapat dimanfaatkan dalam memberikan pengobatan secara efektif.
Melakukan pemantauan tekanan darah di rumah juga berguna untuk memantau potensi kerusakan organ akibat hipertensi, serta bisa memprediksi kejadian kardiovaskular dan stroke.
Kendati begitu, menurut Tunggul, bagi mereka yang telah terserang hipertensi, selain melakukan CERAMAH, menjalani gaya hidup sehat juga sangat dianjurkan dan direkomendasikan sebagai bagian dari pengobatan hipertensi. Ini bisa dilakukan dengan cara olahraga teratur, konsumsi nutrisi yang seimbang dengan mengurangi asupan garam, gula, dan lemak, serta menjaga berat badan dan berhenti merokok, minum alkohol, dan menghindari stres.
ADVERTISEMENT
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan