kumparan
22 Agu 2018 8:38 WIB

Penyebab Kambing Punya Bau Prengus yang Menyengat

Pasar Kambing di Jalan Sabeni, Tanah Abang, Jakarta Pusat, Minggu (12/8/2018). (Foto: Ema Fitriyani/kumparan)
Sebagai salah satu hewan kurban saat Idul Adha, kambing memiliki bau yang khas dan lebih kuat dibanding sapi atau kerbau. Adakah alasan di balik aroma kambing yang begitu kuat?
ADVERTISEMENT
Menurut hasil riset yang dilakukan sekelompok ilmuwan University of Tokyo, Jepang, bau prengus yang kuat dan menyengat tersebut merupakan cara kambing jantan untuk menarik perhatian sekaligus merangsang kambing betina.
Hasil riset yang telah diterbitkan di jurnal Current Biology ini menjelaskan, bau khas kambing berasal dari senyawa 4-ethyloctanal yang dilepaskan ke udara oleh kambing jantan. Ketika senyawa itu terekspos oleh udara, mereka berubah menjadi asam 4-ethyloctanal yang merupakan penyebab aroma khas kambing.
Senyawa 4-ethyloctanal banyak ditemukan di bagian janggut kambing. Dalam riset dijelaskan bahwa senyawa tersebut menyebabkan otak kambing betina untuk mulai melakukan ovulasi, proses pelepasan telur yang telah matang dari indung telur atau ovarium untuk kemudian berjalan menuju tuba falopi untuk dibuahi.
Permintaan hewan kurban, kambing dan sapi di Pasar Kambing, Jalan Sabeni, Tanah Abang, Jakarta meningkat. (Foto: Irfan Adi Saputra/kumparan)
Cara riset dilakukan
ADVERTISEMENT
Dengan menggunakan sebuah topi khusus yang bisa menyerap gas, para peneliti mengumpulkan aroma dari kambing jantan normal dan membandingkannya dengan aroma kambing jantan yang sudah dikebiri.
Hasilnya, ditemukan bahwa bagian kepala kambing jantan normal mengeluarkan sebuah aroma dari campuran zat kimia kompleks yang tidak diproduksi oleh kambing yang sudah dikebiri.
Ketika aroma tersebut kemudian dicium oleh kambing betina, ternyata di otaknya terjadi peningkatan hormon luteinizing atau hormon pelutein, dua hormon yang bisa membuat kambing betina berovulasi.
Kambing kurban di Kairo (Foto: Reuters/Mohamed Abd El Ghany)
Keunggulan dan batasan riset
"Peneliti dalam riset ini bisa secara langsung merekam neuron di otak kambing dan melihat responsnya terhadap suatu feromon tertentu di sana," ujar Stephen Liberles, ahli biologi sel dari Harvard University, saat mengomentari keunggulan riset ini, sebagaimana dikutip dari Science News.
ADVERTISEMENT
"Sebelumnya belum ada yang pernah melakukan eksperimen seperti itu dan ini sangat menarik."
Meski begitu, Liberles mengingatkan bahwa karena riset ini dilakukan pada kambing betina yang ovariumnya telah diangkat, maka peneliti di Jepang itu tidak bisa mengonfirmasi apakah eksposur terhadap 4-ehtyloctanal benar-benar menyebabkan terjadinya ovulasi.
"Langkah selanjutnya adalah untuk mempelajari apakah hal tersebut benar-benar mempengaruhi keadaan reproduksi pada kambing," tambah Liberles.
Pasar Kambing di Jalan Sabeni, Tanah Abang, Jakarta Pusat, Minggu (12/8/2018). (Foto: Ema Fitriyani/kumparan)
Hikmah riset dan peluang riset lanjutan
Jeremy Smith, ilmuwan dari University of Western Australia, berpendapat riset ini bisa membuka jalan untuk riset identifikasi feromon pada spesies lain.
Memahami feromon yang bisa menyebar melalui aroma dan membuat betina berovulasi akan sangat membantu para peternak, menurut Smith. Jadi aroma bisa menjadi cara mudah dan tidak terlalu invasif untuk membantu peternak mengembangbiakkan hewannya.
ADVERTISEMENT
Ia menambahkan, jika para peneliti bisa mengembangkan feromon serupa tapi untuk manusia, maka hal itu bisa membantu mengatasi masalah kesuburan tanpa perlu adanya suatu terapi hormon yang invasif atau melukai tubuh.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·