Pencarian populer

Perbedaan Anak Krakatau Saat Setinggi 338 Meter dan Menyusut 110 Meter

Perbandingan Gunung Anak Krakatau Agustus 2018 dan Januari 2019. (Foto: Øystein Lund Andersen (@OysteinLAnderse), James Reynolds (@EarthUncutTV))

Gunung Anak Krakatau selalu menarik perhatian kita. Mulai dari aktivitas erupsinya, dampak tsunami yang disebabkan oleh aktivitas vulkaniknya, bahkan sampai bentuk tubuhnya yang banyak berubah pasca-erupsi.

Anak Krakatau meneruskan catatan sejarah panjang riwayat gunung itu, yang sudah dimulai dari Krakatau Purba, Krakatau, dan sekarang Anak Krakatau dengan wujud baru.

Para ahli mencatat tinggi Anak Krakatau sempat mencapai 338 meter di atas permukaan laut. Itu masih terjadi pada bulan Agustus 2018 ketika gunung mengalami peningkatan aktivitas erupsi. Anak Krakatau diketahui mengalami erupsi setiap hari sejak Juni 2018.

Gunung Anak Krakatau saat setinggi 338 meter. (Foto: Øystein Lund Andersen/@OysteinLAnderse)

Aktivitas erupsi yang terjadi terus menerus itu pada akhirnya membuat bagian sisi barat daya Anak Krakatau menjadi longsor dan menyebabkan tsunami di sekitar Selat Sunda pada 22 Desember 2018. Akibatnya, lebih dari 400 orang meninggal dunia.

Lonsoran itu membuat tinggi Anak Krakatau menyusut. Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Kementerian ESDM mengonfirmasi tinggi Anak Krakatau berkurang dari 338 meter menjadi 110 meter. Volume Anak Krakatau pun berkurang.

Penampakan Gunung Anak Krakatau, 11 Januari 2019. (Foto: James Reynolds, @EarthUncutTV/Twitter)

"Volume Anak Krakatau yang hilang diperkirakan sekitar antara 150-180 juta m3. Sedangkan volume yang tersisa saat ini yaitu sekitar antara 40-70 juta m3," jelas PVMBG.

Di bulan Januari ini, sejumlah pihak kemudian mendokumentasikan kondisi Anak Krakatau yang terus berevolusi. Beginilah wujud dari Anak Krakatau kini.

Dari gambar-gambar citra satelit Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN), kita bisa melihat ada perubahan bagian kawah yang terlihat lagi setelah hancur akibat erupsi dan longsor. Di sana juga nampak semacam lubang di tengah kawah yang tertutup oleh endapan material vulkanik, dan itu terlihat seperti danau kawah. Namun, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), belum bisa memastikan bahwa lubang tersebut adalah danau kawah.

Kepala Subbidang Mitigasi Gunung Api Wilayah Barat PVMBG, Kristianto, berkata pihaknya masih perlu menganalisis lebih lanjut soal keberadaan air di lubang sekitar kawah tersebut. “Itu kawah, kawah aktif masih di situ. Terlalu dini kalau disebut danau kawah. Nanti kalau dalam jangka waktu lama ada airnya terus, baru bisa disebut danau kawah. Kalau ini kan bekas air laut," imbuh Kristianto.

Hingga pertengahan Januari ini, di sisi barat daya Anak Krakatu juga bisa dilihat air laut yang berwarna cokelat. Warna cokelat tersebut berasal dari hidrosida besi (FeOH3) yang merupakan hasil pelarutan mateial dan liquid yang dikeluarkan oleh kawah.

Anak Krakatau mengalami erupsi terakhir pada 9 Januari 2019 dan tercatat pada hari itu mengalami empat kali erupsi.

Pemerintah Indonesia menetapkan status Siaga (Level 3) pada Anak Krakatau dengan batas aman 5 kilometer dari kawah.

Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
Bagikan ide, informasi, momen dan cerita kamu melalui
kumparan
Dengan ini kamu menyetujui syarat
& layanan dari kumparan
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: 1.1.23