Pencarian populer

Rangkaian Perubahan Gunung Anak Krakatau Sejak Desember 2018

Penampakan Gunung Anak Krakatau, 11 Januari 2019. (Foto: James Reynolds, @EarthUncutTV/Twitter)

Wujud Gunung Anak Krakatau mengalami banyak perubahan setelah erupsi. Hal tersebut ditunjukkan dari berbagai gambar, baik citra satelit mau pun foto yang diambil langsung dari Anak Krakatau.

Berdasarkan proses kemunculannya, Gunung Anak Krakatau memang telah berubah rupa beberapa kali, bahkan sejak ribuan tahun yang lalu. Awalnya, Gunung Krakatau merupakan sebuah gunung berapi yang memiliki tinggi hingga 1.800 meter di atas permukaan laut. Gunung yang disebut sebagai Gunung Krakatau Purba tersebut kemudian mengalami erupsi besar, diduga terjadi pada tahun 416 Masehi.

Setelah terjadi letusan tersebut, puncak Gunung Krakatau Purba hancur dan membentuk sebuah kaldera atau kawah sepanjang enam kilometer. Tiga gunung api, Rakata, Danan, dan Perbuwatan pun muncul, kemudian bersatu dan membentuk Gunung Krakatau.

Gunung Krakatau kembali mengalami erupsi besar pada 1883 yang menyebabkan 70 persen lebih dari Gunung Krakatau hancur. Dari kaldera sisa letusan tersebut, lahirlah Anak Krakatau pada 1928 seperti yang kita kenal saat ini.

Litograf Erupsi Krakatau tahun1888. (Foto: Wikipedia)

Tinggi Gunung Anak Krakatau pun berbeda dengan tinggi Gunung Krakatau sebelum kejadian tahun 1883. Saat itu, Krakatau memiliki tinggi mencapai 813 meter, sementara tinggi ‘anaknya’ hanya 338 meter.

Rupa Anak Krakatau kembali berubah setelah mengalami erupsi pada 22 Desember 2018 yang menyebabkan munculnya gelombang tsunami di Selat Sunda. Perubahan penampakan Gunung Anak Krakatau pertama kali dirilis oleh Pusat Teknologi Pengembangan Sumber Daya Wilayah, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (PTPSW-BPPT).

Perbandingan citra satelit sebelum dan sesudah longsor Krakatau. (Foto: Data Satelit Radar Sentinel-1A orbit dan BPPT)
Perbandingan citra satelit Gunung Anak Krakatau sebelum dan sesudah longsor. (Foto: Data Satelit Radar Sentinel-1 via BPPT)

Gambar-gambar tersebut merupakan citra satelit yang diambil pada 23 Desember 2018, sehari setelah erupsi dan tsunami. Citra satelit tersebut diambil oleh satelit radar Sentinel-1A orbit menurun (descending).

Dari citra tersebut diketahui telah terjadi perubahan permukaan seluas sekitar 357 meter x 1.800 meter atau sekitar 64 hektar. Perubahan tersebut terjadi karena bagian barat-barat daya Anak Krakatau mengalami longsor.

Bukan hanya kawah di bagian barat-barat dayanya yang berubah, tinggi gunung berapi itu pun kembali mengalami perubahan. Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Kementerian ESDM mengonfirmasi bahwa tinggi Anak Krakatau berkurang dari 338 meter menjadi 110 meter. Volume Anak Krakatau pun berkurang.

Gunung Anak Krakatau (Foto: AFP/Jewel Samad)

"Volume Anak Krakatau yang hilang diperkirakan sekitar antara 150-180 juta m3. Sedangkan volume yang tersisa saat ini yaitu sekitar antara 40-70 juta m3," jelas PVMBG.

Tidak berhenti sampai di sana, informasi citra satelit dari Pusat Pemanfaatan Penginderaan Jauh (Pusfatja) Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) menunjukkan perubahan kembali terjadi pada Anak Krakatau. Citra satelit yang diambil pada 9 Januari 2018 tersebut menunjukkan munculnya bagian kawah yang semula hancur akibat erupsi.

“Akumulasi erupsi setelahnya mengeluarkan material vulkanik yang terkumpul di sekitar kawah sehingga bagian barat – barat daya Gunung Anak Krakatau kembali muncul ke atas permukaan air seperti yang terlihat pada citra tanggal 9 Januari 2019,” tulis Pusfatja LAPAN, dalam keterangan resminya.

Citra Satelit Gunung Anak Krakatau sebelum dan sesudah erupsi (Foto: Pusfatja LAPAN)
Perubahan morfologi Anak Krakatau. (Foto: Dok. Pusfatja LAPAN)

Gambar terbaru yang diambil dari atas helikopter BNPB saat Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Letjen Doni Monardo, melakukan pemantauan langsung kondisi Gunung Anak Krakatau, pada Minggu (13/1), memperlihatkan dengan jelas adanya perubahan wujud Anak Krakatau, terutama di sekitar tempat terjadinya longsoran.

Menurut Kepala Subbidang Mitigasi Gunung Api Wilayah Barat PVMBG, Ir. Kristianto, M.Si, perubahan penampakan Anak Krakatau tersebut terjadi karena adanya penumpukan dari material-material vulkanik yang keluar saat terjadi erupsi. Ia mengatakan, erupsi Anak Krakatau terakhir terjadi pada 9 Januari 2019.

“Gunung ini kan kemarin sampai tanggal 9 kan ada erupsi. Kemudian setiap erupsi mengeluarkan material, kemudian material vulkanik jatuh di sekitarnya,” kata Kristianto, saat dihubungi oleh kumparanSAINS, Minggu (13/1).

“Endapan-endapan itulah yang menutup sebagian dari yang kemarin seolah-olah ada tapal kuda. Bentuk tapal kuda itu sebagian tertutup. Tapi yang tengahnya itu dari yang kita lihat dari citra tanggal 11 ada lubang terisi air," jelasnya.

Memang dari citra satelit dan foto keadaan terbaru Gunung Anak krakatau, terlihat ada semacam lubang di tengah-tengah kawah yang telah tertutup oleh endapan material vulkanik. Namun, Kristianto mengatakan kalau lubang tersebut belum bisa disebut sebagai danau kawah.

“Itu kawah, kawah aktif masih di situ. Terlalu dini kalau disebut danau kawah. Nanti kalau dalam jangka waktu lama ada airnya terus, baru bisa disebut danau kawah. Kalau ini kan bekas air laut," imbuh Kristianto.

Kondisi Gunung Anak Krakatau, Minggu (13/1). (Foto: Fachrul irwinsyah/kumparan)

Selain bagian yang semula longsor tertutup kembali oleh penumpukan material, tampak juga perubahan warna air laut di sisi barat daya Anak Krakatau. Terlihat, airnya berubah menjadi berwarna kecokelatan.

Kepala Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Rudy Suhendar, menjelaskan warna cokelat tersebut berasal dari hidrosida besi (FeOH3) yang merupakan hasil pelarutan mateial dan liquid yang dikeluarkan oleh kawah.

Status Anak Krakatau saat ini

Mengenai status terakhir dari Anak Krakatau, hingga hari ini, Minggu (13/1), Kristianto mengatakan tidak terpantau adanya erupsi dari gunung tersebut.

“Sampai saat ini tidak terpantau adanya erupsi, tapi hanya aktivitas embusan asap yang dari kawah ini,” katanya.

Erupsi terakhir kali terjadi pada 9 Januari 2019. Tercatat, terjadi empat kali erupsi pada hari itu. Untuk status, sampai saat ini PVMBG masih menetapkan status Siaga (Level 3) pada Anak Krakatau.

Status Gunung Anak Krakatau naik dari Waspada menjadi Siaga sejak Kamis (27/12). Selain peningkatan status, jarak aman Gunung Anak Krakatau pun naik dari yang semula 2 kilometer dari gunung menjadi 5 kilometer jauhnya.

Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
Bagikan ide, informasi, momen dan cerita kamu melalui
kumparan
Dengan ini kamu menyetujui syarat
& layanan dari kumparan
Sabtu,25/05/2019
Imsak04:26
Subuh04:36
Magrib17:47
Isya19:00
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: 1.1.23