kumparan
30 Des 2017 20:59 WIB

Ribuan Artefak Ditemukan di Arab Saudi, Apa yang Kemudian Terungkap?

Artefak pemotong daging dari batu. (Foto: Andrew Shuttleworth)
Lebih dari 1.000 artefak yang terbuat dari batu ditemukan di Wadi Dabsa, barat laut Arab Saudi, dekat Laut Merah. Sebagian dari artefak ini diduga sudah berusia sekitar 1,76 juta tahun.
ADVERTISEMENT
Artefak-artefak ini diduga sudah ada semenjak iklim di wilayah itu masih lebih basah dan dapat menjadi kunci untuk menjawab kapan manusia mulai bermigrasi keluar dari Afrika.
Ribuan artefak ini terdiri dari kapak tangan, sejenis pisau, pemotong daging, dan mata tombak. Salah satu artefak kapak tangan yang ditemukan memiliki berat 3,6 kilogram. Penemuan ini telah dipublikasikan dalam jurnal Antiquity pada 6 Desember 2017.
Berdasarkan bentuknya, para arkeolog memperkirakan banyak dari artefak yang ditemukan ini adalah ‘Acheulian’, istilah yang digunakan untuk menyebut peralatan batu yang dibuat 1,76 juta hingga 100 ribu tahun yang lalu. Kapan tepatnya alat batu ini dibuat belum bisa diketahui.
“Kami akan mencoba untuk mengetahui kapan mereka dibuat dari batuan tufa (sejenis batuan gamping) dan batuan basal yang ditemukan di dekat situs, yang bisa jadi merupakan bahan pembuatan alat batu di Wadi,” kata Frederick Foulds, arkeolog dari Durham University di Inggris yang memimpin studi penemuan artefak ini, sebagaimana dilansir Live Science.
ADVERTISEMENT
Setelah mengetahui kapan artefak-artefak ini dibuat, para arkeolog dapat mengetahui manusia purba jenis apa yang membuat alat-alat ini.
Para arkeolog yang melakukan studi terhadap penemuan alat-alat batu ini mengatakan, artefak-artefak tersebut menandakan waktu saat iklim dunia menjadi lebih basah.
Pada saat alat-alat batu ini dibuat, wilayah Wadi Dabsa yang jadi tempat penemuan benda-benda itu tidaklah sama seperti sekarang. Wadi Dabsa sekarang adalah wilayah gurun, tapi pada masa pembuatan alat-alat batu itu, ia lebih basah dan terdapat kolam-kolam air.
Iklim di seluruh Jazirah Arab telah berubah beberapa kali sebagai respons terhadap perubahan besar iklim global yang menyertai siklus glasial selama 2,5 juta tahun terakhir.
“Selama periode ketika lapisan es dunia memiliki ukuran terbesar, ada kekeringan yang luas di Sahara dan gurun-gurun Arab lainnya; tapi selama periode lapisan es mengalami penyusutan, iklim di wilayah itu menjadi jauh lebih basah,” terang Foulds.
ADVERTISEMENT
Menurut Foulds,penemuan ribuan artefak di Wadi Dabsa ini memunculkan salah satu pertanyaan besar, yakni bagaimana perubahan iklim dunia berdampak pada penyebaran manusia di luar Afrika.
Kondisi geografi Wadi Dabsa yang menjadi lokasi penemuan ribuan artefak ini sangat mungkin menjadi tempat tujuan pertama para manusia purba bermigrasi dari Afrika akibat perubahan iklim saat itu.
Topografi yang dimiliki Wadi Dabsa membuat wilayah tersebut menerima hujan ketika daerah-daerah lain di Arab Saudi kekeringan. Hal ini membuat para manusia purba dapat melanjutkan hidup mereka di sana ketika mereka tak bisa hidup di wilayah-wilayah lainnya.
Oleh karenanya, penemuan ribuan alat batu ini mungkin bisa mengungkap kapan sebenarnya manusia purba pertama kali bermigrasi keluar dari Afrika.
ADVERTISEMENT
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·