Pencarian populer

Riset: Beres-beres Rumah Bisa Bikin Otak Awet Muda

Membereskan rumah. Foto: Dok. KonMari

Ada kabar baik bagi mereka yang suka bersih-bersih rumah. Menurut hasil sebuah riset terbaru, beres-beres atau membersihkan rumah ternyata bisa menjaga otak tetap muda.

Hasil riset ini telah dipublikasikan di jurnal JAMA Network Open. Para periset mengatakan bahwa temuan ini memberi bukti tambahan atas pentingnya aktivitas fisik.

"Hasil riset kami tidak mengabaikan manfaat aktivitas fisik sedang atau tinggi bagi penuaan yang sehat. Kami hanya menambahkan dugaan bahwa aktivitas fisik intensitas ringan mungkin juga penting, terutama bagi otak," ungkap Nicole Spartarno, pemimpin riset, kepada The Guardian.

Ia menuturkan aktivitas ringan yang dimaksud adalah jalan santai atau beres-beres rumah.

JK dan Anies jalan santai. Foto: Iqbal Firdaus/kumparan

Kesimpulan ini tim peneliti dapatkan setelah mempelajari aktivitas fisik dari 2.354 orang paruh baya di Amerika Serikat. Para peneliti juga mempelajari hasil pemindaian otak orang-orang itu.

Dari situ mereka menemukan bahwa setelah usia 60 tahun, 0,2 persen volume otak manusia berkurang setiap tahunnya. Spartano mengatakan bahwa berkurangnya volume otak ini bisa menyebabkan demensia.

Selanjutnya, tim peneliti mempelajari faktor lain, seperti gender, status merokok, dan usia, dari masing-masing peserta.

Mereka menemukan bahwa aktivitas ringan yang dilakukan tiap harinya berhubungan dengan 0,22 persen volume otak yang lebih besar. Ini sama dengan penundaan penuaan otak hingga satu tahun.

JK dan Anies jalan santai. Foto: Iqbal Firdaus/kumparan

Para periset juga menemukan bahwa mereka yang berjalan 10.000 langkah tiap harinya punya 0,35 persen volume otak yang lebih besar. Itu jika dibandingkan dengan mereka yang berjalan kurang dari 5.000 langkah per harinya.

Hasil temuan ini menunjukkan aktivitas fisik sedang dan berat yang lebih tinggi juga berhubungan dengan volume otak yang lebih besar. Tapi tim peneliti mengatakan bahwa hasil analisis lanjutan menemukan bahwa orang-orang yang melakukan aktivitas sedang dan berat juga banyak melakukan aktivitas fisik ringan.

Meski begitu, Spartano mengatakan bahwa ini bukan berarti orang bisa berhenti melakukan aktivitas fisik sedang dan berat. Menurutnya, tubuh dengan tingkat kebugaran yang lebih tinggi berhubungan dengan panjang umur dan kualitas hidup yang lebih baik di usia lanjut.

Ia menambahkan bahwa fisik yang bugar juga berhubungan dengan tingkat demensia yang lebih rendah.

Menyehatkan otak Foto: Thinkstock

Batasan riset

Seperti riset lain pada umumnya, riset ini masih memiliki batasan. Kebanyakan responden riset adalah pria kulit putih, dan peneliti tidak membuktikan penyebab serta efek bahwa orang dengan otak yang lebih tua bergerak lebih sedikit.

Di samping itu, para peneliti menambahkan bahwa tidak selamanya waktu yang orang habiskan dalam kondisi tidak banyak bergerak memberi dampak buruk bagi otak. Apalagi kalau orang itu melakukan sesuatu yang memerlukan otak untuk terus berpikir.

Emmanuel Stamatakis, profesor ilmu aktivitas fisik, gaya hidup, dan kesehatan populasi di University of Sydney, mengapresiasi hasil temuan ini. Tapi ia masih mempertanyakan beberapa hasil temuan dalam riset.

"Temuan bahwa aktivitas fisik ringan, yang merupakan bagian dari hidup sehari-hari, berhubungan dengan volume otak sangat membesarkan hati karena aktivitas seperti itu mudah dilakukan bagi sebagian besar orang paruh baya, berusia lanjut, dan yang cenderung jarang melakukan olahraga terstruktur," kata Stamatakis.

Membereskan rumah. Foto: Dok. KonMari

Namun ia mengatakan bahwa tidak ada alasan biologis yang mengatakan bahwa aktivitas fisik sedang hingga berat punya manfaat lebih rendah dibanding aktivitas fisik ringan. Stamatakis menjelaskan bahwa bagi kesehatan kardiovaskular, aktivitas fisik berat selama satu menit lebih bermanfaat dibanding aktivitas ringan selama satu menit.

James Pickett, pemimpin bagian riset di Alzheimer's Society, juga mengatakan masih ada yang kurang dari riset ini. Menurutnya, riset tidak mempelajari dampak dari berbagai tingkatan aktivitas berbeda pada risiko demensia.

Padahal, Pickett mengatakan,telah diketahui luas risiko demensia bisa dikurangi dengan olahraga pada umumnya.

"Jangan khawatir jika kamu tidak lari naik gunung. Coba temukan sesuatu yang kamu sukai dan lakukan secara rutin, karena kita tahu bahwa apa yang baik bagi jantung juga baik bagi kepala," paparnya.

Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Bagikan ide, informasi, momen dan cerita kamu melalui
kumparan
Dengan ini kamu menyetujui syarat
& layanan dari kumparan
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: 1.1.31