kumparan
18 Okt 2018 16:15 WIB

Riset: Polusi Udara Tingkatkan Risiko Kanker Mulut

Bus TransJakarta mengeluarkan asap pekat di Jl. Basuki Rahmat, Jakarta, Minggu (9/9). (Foto: Instagram @jktinfo)
Terkena paparan polusi udara setiap hari merupakan salah satu risiko hidup di kota besar, seperti di Jakarta. Dan menurut hasil riset terbaru, ada bahaya tersembunyi akibat terlalu banyak terkena paparan polusi udara, yaitu meningkatnya risiko terkena kanker mulut.
ADVERTISEMENT
Newsweek melaporkan riset ini dilakukan oleh tim peneliti dari Taiwan dan hasilnya telah dipublikasikan di The Journal of Investigative Medicine.
Dalam riset ini, tim peneliti mempelajari risiko polutan seperti PM 2,5 atau Particulate Matter 2,5, yakni partikel berukuran 2,5 mikrometer atau lebih kecil dari itu, terhadap kesehatan manusia. Partikulat atau partikel yang sangat kecil dan halus ini sendiri sebelumnya sudah diduga kuat sebagai penyebab kanker paru-paru.
Dengan mempelajari data kualitas udara antara tahun 1998 dan 2011 di 66 stasiun kontrol kualitas udara di Taiwan, para peneliti kemudian membandingkan dengan data rekam medis dari 482.659 pria dengan rata-rata usia 40 tahun di Taiwan.
Para peneliti mengkalkulasikan tingkat eksposur ratusan ribu pria itu terhadap polutan berbahaya. Polutan yang dimaksud adalah karbon monoksida, sulfur dioksida, nitrogen monoksida, nitrogen dioksida, ozon dan juga berbagai materi partikulat (PM) dalam bentuk berbeda.
ADVERTISEMENT
Selain itu, para peneliti juga memperhitungkan para peserta yang merupakan perokok atau pengguna tembakau.
Hasilnya, dari riset ini ditemukan ada 1.617 orang yang didiagnosis mengidap kanker mulut antara tahun 2012 dan 2013. Ditemukan juga bahwa mereka yang hidup di area dengan tingkat PM 2,5 tinggi lebih mungkin kena kanker mulut.
Selain itu, dilaporkan juga bahwa ozon, juga diasosiasikan dengan peningkatan risiko kanker oral.
"Riset ini, dengan jumlah sampel (peserta) yang besar, adalah yang pertama untuk mengasosiasikan kanker mulut dengan PM 2,5. Temuan ini menambah bukti atas efek merugikan PM 2,5 pada kesehatan manusia," jelas tim peneliti.
Tim peneliti juga menjelaskan bahwa riset yang mereka lakukan masih memiliki batasan, seperti tidak diketahui secara pasti konsentrasi PM 2,5 yang masuk ke mulut peserta.
Polusi udara di Kota London (Foto: london.greenparty.org.uk)
Sementara itu Matthew Loxham, dokter biologi pernapasan dan toksikologi polusi udara di University of Southampton, Inggris, yang tidak terlibat dalam riset ini, mengatakan bahwa temuan baru ini menunjukkan asosiasi antara eksposur PM dengan kanker mulut.
ADVERTISEMENT
"Mudah untuk melihat bahwa eksposur PM bisa meningkatkan risiko kanker mulut. Partikel karsinogenik yang dihirup akan diperangkap oleh mukus di saluran pernapasan, dan kemudian dibatukkan ke dalam mulut. Dari situ mereka ditelan, dan membuat mulut dan saluran pencernaan terekspos PM," jelas Loxham.
"Mekanisme ini juga bisa mempengaruhi keadaan kesehatan perut," tambahnya.
Namun demikian, Loxham mengatakan riset ini tidak menyimpulkan bahwa PM menyebabkan kanker mulut.
"Meski peneliti dalam riset juga memperhitungkan data perokok dan penggunaan tembakau kunyah, yang keduanya diketahui sebagai penyebab kanker, mereka tidak memperhitungkan status sosioekonomi dari peserta, yang juga punya kemungkinan memiliki peran," kata Loxham.
Seorang perempuan menyeberang jalanan yang penuh polusi dengan menggunakan masker. (Foto: APexchange)
Di samping itu Georgina Hill, juru bicara Cancer Research UK mengatakan bahwa polusi udara memang bisa meningkatkan risiko kanker paru-paru. Namun tidak banyak diketahui mengenai dampaknya terhadap kanker lain.
ADVERTISEMENT
"Riset ini menemukan bahwa pria di Taiwan yang terekspos dengan polusi udara yang lelbih tinggi, mengalami peningkatan risiko kanker oral. Namun tingkat polusi udara di Taiwan relatif tinggi, jadi diperlukan riset lebih banyak untuk melihat apakah hubungan ini juga ditemukan di tempat lain," kata Hill kepada Newsweek.
Badan Kesehatan Dunia (WHO) melaporkan bahwa sekitar 91 persen populasi dunia hidup di wilayah dengan kualitas udara yang buruk. Bahkan polusi udara merupakan penyebab dari sekitar 4,2 juta kematian dini di seluruh dunia tiap tahunnya.Di Indonesia sendiri pada tahun 2018 ini Jakarta dan Denpasar pernah berulang kali masuk sebagai salah dua kota paling berpolusi udara di dunia, sebagaimana dilaporkan oleh Greenpeace Indonesia.
Greenpeace mengimbau agar warga di kota-kota besar Indonesia ini agar selalu masker saat berada di luar ruangan demi menghindari polusi udara yang masif ini. Masker yang direkomendasikan Greenpeace bukanlah masker harian berwarna hijau yang telah banyak dipakai orang, melainkan masker jenis N95 yang mampu mencegah polutan PM 2,5 masuk ke dalam mulut bahkan paru-parumu.
ADVERTISEMENT
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·