kumparan
9 Feb 2018 5:13 WIB

Riset: Vaping Tingkatkan Risiko Infeksi Paru-paru

Rokok elektronik (vape). (Foto: Wikimedia Commons)
Vaping kini tengah menjadi tren. Sebagian orang menghisap rokok elektrik itu sebagai pengganti rokok.
ADVERTISEMENT
Namun, sebuah penelitian yang diterbitkan di European Respiratory Journal menyatakan penggunaan vape juga memiliki dampak negatif, seperti halnya merokok. Pengguna vape berisiko tinggi terkena infeksi paru-paru.
"Beberapa orang mungkin vaping karena mereka pikir itu benar-benar aman, atau untuk berhenti merokok. Namun penelitian ini menambah bukti bahwa menghirup uap berpotensi menimbulkan efek buruk pada kesehatan," kata salah satu peneliti, Jonathan Grigg, Kamis (8/2) seperti dikutip dari AFP.
Penelitian tersebut dilakukan Grigg bersama beberapa orang dari Queen Mary University of London. Mereka membandingkan efek vaping dengan melakukan tiga kali percobaan.
Percobaan pertama yakni paparan uap vape di laboratorium terhadap manusia. Kedua, tikus yang menghirup uap vape dan kemudian terkena bakteri pneumokokus --bakteri penyebab infeksi pernafasan.
ADVERTISEMENT
Uji coba ketiga, mereka mempelajari lapisan hidung dari 11 pengguna vape dengan enam orang yang tak menggunakan vape.
Barang bukti liquid oplosan (Foto: Zuhri Noviandi/kumparan)
Tim tersebut melihat adanya peningkatan tajam jumlah bakteri pneumokokus yang menempel pada sel saluran napas setelah terpapar vape.
"Jika Anda memilih untuk mengkonsumsi rokok elektrik, ini mengindikasikan adanya tanda merah bahwa mungkin ada peningkatan kerentanan terhadap bakteri pneumokokus," kata Grigg.
Memilih vape untuk menggantikan rokok bukan cara yang tepat. Beda halnya dengan mengonsumsi permen karet yang tidak menyebabkan gangguan saluran pernapasan.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan