kumparan
15 Mar 2019 7:00 WIB

Seorang Perempuan Alami Stroke Saat Hampir Orgasme

Ilustrasi wanita orgasme Foto: Shutterstock
Seorang perempuan di Inggris mengalami stroke saat mendapatkan oral seks dan nyaris orgasme. Perempuan berusia 44 tahun itu mendadak tidak responsif selama beberapa menit.
ADVERTISEMENT
Pasangannya lalu membawa si perempuan ke rumah sakit. Kondisi vital perempuan yang namanya dirahasiakan itu kembali normal saat sampai di rumah sakit.
Dia mengaku mengalami sakit kepala. Rasa sakitnya 6 dari 10 dalam skala rasa sakit. Para dokter awalnya menduga si perempuan hanya mengalami kejang-kejang biasa.
Para dokter mengganti vonisnya setelah pemeriksaan lebih lanjut. Para dokter memvonis si perempuan dengan reflex-mediated syncope, kondisi kehilangan kesadaran akibat kurangnya suplai darah ke otak, yang berhubungan dengan aktivitas seks.
"Sebelum pasien kehilangan kesadaran, ia melaporkan sedang nyaris mengalami orgasme saat menerima oral seks dari pasangannya," tulis para dokter di BMJ Case Reports.
Perempuan di ranjang Foto: Unsplash
Pasangan si perempuan melaporkan badan perempuan itu mendadak kaku dan kehilangan kesadaran selama dua hingga tiga menit saat oral seks berlangsung.
ADVERTISEMENT
Karena sakit kepala yang perempuan itu alami, tim dokter menduga dia menderita perdarahan intraserebral. Dugaan para dokter terbukti setelah perempuan itu menjalani pemeriksaan CT scan.
Di otak si perempuan, para dokter menemukan ada tonjolan di arterinya. Ini adalah kondisi aneurisme arteri. Aneurisme ini menyebabkan jenis stroke perdarahan subaraknoid.
Kondisi aneurisma arteri di otak si perempuan Foto: BMJ Case Reports 2019
Tim dokter menjelaskan bahwa berubahnya tekanan darah saat seks bisa menjadi faktor penyebab stroke. "Aktivitas yang menyebabkan tekanan darah meningkat tiba-tiba, dan aktivitas seksual adalah salah satu penyebab itu," tulis tim peneliti di laporan studi kasus.
"Studi-studi yang memonitor arteri saat hubungan seks menemukan bahwa saat aktivitas seksual berlangsung, tekanan darah dan detak jantung menjadi sangat labil, ini semakin meningkat saat orgasme," tambah mereka sebagaimana dilansir IFL Science.
ADVERTISEMENT
Menurut tim dokter, kasus si perempuan ini agak berbeda. Karena kasus ini terjadi saat si perempuan mengalami oral seks, bukan seks penetrasi.
Jonathan Holmes, penulis studi kasus, melaporkan bahwa empat bulan setelah keluar dari rumah sakit, si perempuan berada dalam kondisi normal. Perempuan itu juga tidak mengalami defisit neurologis akibat sakitnya ini.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan