kumparan
19 Mar 2018 17:46 WIB

Seorang Pria di AS Bisa Hidup Tanpa Jantung Selama Setahun Lebih

Stan Larkin (kanan) dan ayahnya. (Foto: University of Michigan )
Seorang pria bisa hidup tanpa jantung selama 555 hari atau sekitar 1,5 tahun lebih. Pria Amerika Serikat bernama Stan Larkin itu mulai hidup tanpa jantung pada 2014.
ADVERTISEMENT
Pada akhir 2014 tim dokter terpaksa mengambil jantung Stan karena pemuda itu mengidap kelainan jantung yang disebut familial cardiomyopathy, kelainan jatung genetik yang bisa menyebabkan gagal jantung mendadak.
Stan tidak sendiri. Saudaranya yang bernama Dominique juga didiagnosis menderita penyakit yang sama sehingga jantung mereka berdua terpaksa diambil.
Sebelumnya mereka yang sejak remaja telah didiagnosis mengidap kelainan ini sempat menunggu donor jantung selama bertahun-tahun. Namun karena kondisi mereka sudah tidak memungkinkan, jantung mereka berdua kemudian diambil dan untuk sementara digantikan dengan alat bernama Syncardia yang berfungsi sebagai jantung buatan.
Ilustrasi jantung buatan milik Stan Larkin. (Foto: University of Michigan )
“Mereka berdua sudah sangat sakit ketika kami bertemu mereka pertama kali di UGD,” kata dokter bedah, Jonathan Haft dari University of Michigan Frankel Cardiovascular Centre, dilansir Science Daily. “Kami ingin segera melakukan transplantasi jantung pada mereka, tapi kami tidak punya banyak waktu.”
ADVERTISEMENT
Beberapa minggu setelah menggunakan Syncardia, Dominique akhirnya menerima transplantasi jantung, sementara Stan masih harus menunggu jauh lebih lama lagi.
Yang menarik, selain menggunakan Syncardia, Stan sempat menggunakan alat bernama Freedom®, yakni jantung buatan yang bisa dibawa-bawa. Jadi, tidak seperti Dominique yang sebelumnya hanya berada di rumah sakit sebelum menjalani transplantasi, Stan bisa meninggalkan rumah sakit dengan jantung buatan meski ia belum menerima transplantasi jantung.
Video
Jantung buatan yang digunakan oleh Stan itu berbentuk tas punggung seberat 6 kilogram yang bisa dibawa-bawa dan tetap bisa memompa darah ke seluruh tubuh.
Saat digunakan pertama kali, tidak ada yang tahu berapa lama Stan bisa hidup dengan menggunakan jantung buatan tersebut. Dan karena berat, pergerakan Stan pun terbatas. Ia tidak bisa menggendong putrinya, tapi yang mengejutkan, ia bisa bermain basket.
ADVERTISEMENT
“Alat ini bukan untuk main basket, Stan sudah mendorong batas kemampuan alat ini,” kata Haft.
Akhirnya, setelah menggunakan alat tersebut selama lebih dari setahun, Stan menerima donor jantung pada 9 Mei 2016 ketika dirinya berusia 25 tahun. Ia mengaku pengalamannya itu membuat perasaannya teraduk-aduk ketika ia menceritakan kisahnya kepada pers.
David J. Pinsky, direktur Frankel Cardiovascular Center menyebut Stan dan Dominique sebagai pahlawan karena kisah hidup mereka menggambarkan keberanian.
“Karena kalian membagikan kisah kalian, hal ini mengajarkan orang-orang agar berani berbeda. Kalian akan membuat banyak perbedaan pada banyak pasien. Kalian akan membuat banyak perbedaan bagi banyak dokter di masa depan. Dan kami berterima kasih karena kalian berani membagikan kisah ini,” ujar Pinsky.
ADVERTISEMENT
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan